Pertanyaan Warisan

Ada satu pertanyaan yang diwariskan sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Pertanyaan yang berguna untuk mengurangi kesedihan. Ketika kita sedih, kecewa atau marah, tanyakan pada diri sendiri:”Siapakah yang mengalami ini?”

Pertanyaan sederhana dan terlihat sepele. Tapi jika ditanyakan beberapa kali pada diri sendiri, maka akan terasa misterinya. Iya, siapa sebenarnya yang sedang merasa sakit ini?

Kita akan menjawab “Aku”. Aku-lah yang sedang sedih ini, bukan kamu, dia atau mereka. Tetapi ‘aku’ itu sekedar kata, tanda, simbol yang disematkan pada sesuatu yang dengannya kita merasa itu adalah kita. Sesuatu yang sulit dipahami, dikenali, diidentifikasi, namun ia ada dan adanya itu sendiri terpaksa disebut ‘aku’ untuk membedakan dengan ‘kamu’.

Roda Hidup

Malam itu saya tengah menikmati lagu-lagu Iwan Fals. Ada satu lagu yang salah satu liriknya masih saya ingat. Dalam lagu Belum Ada Judul, Iwan bilang “sampai saat kita nyaris tak percaya, bahwa roda nasib memang berputar”.

Seketika terbayang oleh saya kehidupan orang-orang pinggiran kota. Hidup dengan rumah bekas potongan bangunan, berada di pinggir-pinggir kali dan di bawah lorong-lorong jembatan. Anak-anak bau bacin keluar dari rumah-rumah itu, berbaju kumuh, kulit hitam berdebu, bergegas memenuhi lampu merah dengan ukulele tua dan bolong.

Seorang kawan pernah bilang, roda hidup itu berputar. Kadang orang kaya bisa jatuh miskin seketika, dan orang miskin bisa beranjak kaya dalam waktu singkat. Tetapi di sisi lain, ada benarnya juga, jika roda hidup itu memang bagi sebagian orang tidak berputar. Iya, bagi sebagian orang perputaran nasib itu tidak lebih dari sebuah mitos.

Orang-orang yang saya gambarkan di atas, yang hidup di bawah kelayakan sebagai manusia, seolah tidak tersentuh dengan perputaran itu. Puluhan tahun hidup di atas ancaman penyakit, kelaparan, kematian, bahkan penggusuran. Mereka seolah tidak ada di dunia. Jika pun mereka ada, mereka dianggap mengganggu laju lalu lintas, mencemari kota. Seolah-olah ketika mereka mati tidak ada yang menyesal, tidak ada yang merasa kehilangan, mereka mati tanpa air mata di sekitarnya. Kadang mayatnya cukup dibuang di kali, karena tak cukup uang untuk mengubur di kota yang harga semeter tanah cukup menghidupi mereka berbulan-bulan.

Mereka tak akan pernah hilang di dunia ini. Mereka seperti manusia-manusia yang sengaja berperan sebagai pengingat, bahwa apa yang kita dapat hari ini bagi sebagian orang masih berupa mimpi. Mereka tidak bisa dihilangkan, karena mereka bukan hama kota. Mereka manusia dengan segala pikiran dan perasaan ingin mencintai dan dicintai.

Bertemu Kawan Lama

Siang ini aku mengunjungi seorang kawan. Kawan yang menurutku sangat cerdas, banyak baca buku dan lihai menuangkan pikirannya dalam tulisan. Aku tak pernah meragukan idealismenya, dahulu ia pernah menolak tawaran dari salah satu parpol besar. Padaku ia pernah bercerita bagaimana utusan dari parpol itu merayu-rayu dengan materi luar biasa.

Dan siang ini aku menjumpainya sedang berjualan pop es, yang didagangkan di atas gerobak kecil. Aku lihat wajahnya begitu ringan, memancarkan pesan bahwa hidup memang semudah itu. Ketika aku menyapanya, ia terlihat begitu sumringah, memelukku seperti dua kekasih yang lama tak jumpa. Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan kerinduan hingga akhirnya bertemu hari ini.

Kami duduk di tepi gerobak dagangannya. Sambil menunggu pembeli, kami bicara banyak hal, termasuk cerita tentang hubungannya dengan wanita berjilbab anak seorang Kiayi di kota kembang. Aku melihat senyumnya sementara terhenti di saat ia bilang, bahwa cinta adalah satu hal, dan pernikahan adalah hal lain. Aku tak mau bertanya lebih lanjut, aku tahu maksudnya apa.

Sesaat kemudian senyumnya kembali terlihat setelah ia mulai bercerita tentang aktivitasnya setelah shalat magrib. Ia mengajar mengaji anak-anak kecil di sekitar kosannya. Ia terlihat sangat menyenangi kegiatan itu, walau tanpa gaji atau keuntungan material lainnya. Dia bilang,”Aku tahu setelah anak-anak itu besar, mereka akan sedikit punya waktu belajar ngaji.”

Banyak hal lain yang diceritakan, termasuk buku yang sedang ia baca baru-baru ini. Aku sempat terkejut ketika ia mengaku sedang menikmati sebuah buku yang dibelinya di toko loak: buku tentang “catatan bawah tanah”. Aku kira buku itu sudah hilang di peredaran, tapi ia beruntung bisa mendapatkannya.

Setelah tiga jam kami berbincang, aku harus pulang. Dan ia berpesan agar aku jaga kesehatan. Ia bilang yang terpenting saat ini adalah kita sama-sama masih hidup, hingga masih punya waktu memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Aku akan mengingatnya. Terima kasih, kawan.

Apa itu “kafir”?

Semoga kemampuan bahasa arab saya tidak keliru. Kata “kafir” berasal dari kata “kafara” yang punya arti menutupi. Seperti sebiji jagung tertutupi (terkafirkan) oleh tanah. Kata ini kemudian diambil oleh Islam untuk menyebut orang yang menutupi hati dan pikirannya dari kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran akhir, absolut, tak terbatas, yang satu dan sederhana. Sebaliknya, orang yang membuka hati dan pikirannya dari kebenaran di sebut “Muslim”, berasal dari kata “salima” yang berarti membuka diri dan pasrah pada kebenaran. Substansi Muslim dan Kafir ada di setiap orang: ketika terbuka dia Muslim, ketika tertutup dia kafir. Tetapi seiring berjalannya waktu, dua kata tersebut menjadi indentitas yang melabelkan keyakinan seseorang.

Mencari Mata Air

Suatu ketika ada orang yang mendaki gunung. Begitu tingginya gunung sampai melewati batas awan. Selain melewati batas awan, gunung tersebut dipenuhi kabut. Cuaca begitu dingin. Mata nyaris tak dapat melihat. Ia tersesat.

Ia tak menemukan jalan pulang. Di saat hampir putus asa, ia teringat bahwa air selalu mengalir ke bawah. Ia pun mulai mencari mata air kecil dan mengikuti alirannya. Ia berharap bisa sampai ke kaki gunung.

Akhirnya, perlahan tapi pasti, ia mulai berhasil melewati batas awan dan menemukan jalan pulang. Mata air yang mengalir ke bawah telah membimbingnya menemukan jalan pulang. Mata air dijadikan pegangan olehnya. Ia mengikutinya sampai menemukan apa yang ia tuju.

Dari kisah tersebut kita belajar menemukan jalan hidup. Di tengah dunia yang penuh persoalan, kita seringkali tersesat. Kita perlahan-lahan kehilangan pegangan hidup, karena segala masalah datang bertubi-tubi. Ibaratnya keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut singa. Tegangan hidup terus menghantam tanpa memberi jeda. Hidup menjadi daftar kebutuhan yang melelahkan.

Kita pun kerap kali kehilangan arah. Kita tidak lagi memiliki tujuan yang jelas. Pegangan hidup begitu rapuh dan mudah lepas. Prinsip yang dibangun terus berubah seiring perubahan cara pandang. Alhasil, kita tak lagi menemukan makna dari apa yang kita lakukan.

Ketika itu terjadi, buahnya ada dua: kecemasan dan penderitaan. Kita cemas atas apa yang akan terjadi di masa depan, apakah semua ini akan berakhir dengan bahagia, apakah anak cucu kita kelak akan mengenang dan mendoakan kita, dan kecemasan lainnya. Kecemasan itu melahirkan tegangan dan penderitaan dalam diri kita. Pada tingkat yang paling ekstrem, kita jatuh ke dalam lubang depresi.

Dengan demikian, kita perlu mencari mata air yang membantu kita menemukan jalan pulang. Jalan untuk kembali pada keceriaan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jalan yang mempertemukan kita dengan pandangan hidup, pedoman, kesadaran yang membersihkan kecemasan dan penderitaan.

Hidup

Sayangnya, untuk mengenal diri sendiri umurku terlalu pendek. Padahal pengenalan diri adalah babak baru bagi hidup yang terus menerus dijalani. Belajar dari daun yang mulai menguning dan rebah di atas tanah, aku tahu, daun tak pernah merasa menyesal sebab gugur itu hal pasti. Setiap yang tumbuh kelak akan melepuh.

Serupa origami yang aku bentuk sesuka hati, begitulah aku memaknai hidup. Tak lebih tak kurang. Berawal dari kenyataan bahwa aku adalah manusia, maka aku bebas memilih tanpa paksaan siapa pun dan apa pun. Tidak seperti rerumput liar yang bergerak mengikuti kemana angin berhembus. Mereka tak punya pilihan, tak dianugerahi kebebasan.

Di samping waktu yang terlamat singkat, dunia tempat aku singgahi juga terus bergerak. Ya, semuanya bergerak, bahkan ketika aku diam sekali pun. Seperti pepohonan yang setiap hari aku lewati ini, mereka pun bergerak dan berubah. Semula hanyalah pepohonan kecil dengan daun yang tak terlalu lebat. Dari waktu ke waktu batang pohon perlahan meninggi, disusul pucuk-pucuk yang terus merekah, sementara dedaunan yang lebih dulu tumbuh menguning dan mengering. Mereka seolah membisikkan sesuatu: bahwa syarat untuk hidup adalah menerima perubahan sebagai kepastian.

Ada yang datang ada yang pergi. Segera setelah aku lahir ke dunia, seketika ada satu atau dua manusia yang pergi. Seperti antrian di stasiun. Aku adalah salah satu penumpang yang sedang menunggu giliran menuju tempat tujuan. Stasiun memberi pelajaran bagi siapa saja yang ingin mendengarnya. Darinya aku belajar kehilangan sebelum meninggalkan.

Di atas itu semua, aku merasa hidup hanya berisi tiga kata: singkat, bebas dan berubah. Begitu singkatnya hingga tak ada hal lain yang perlu dilakukan kecuali mengisinya dengan kegembiran sembari menyiapkan segala sesuatunya sebelum pergi. Betapa bebasnya hingga tak ada satu pun yang kuasa atas diriku, tak ada yang boleh memaksaku untuk ini atau itu. Begitu berubahnya hingga tak perlu bagiku menggerakkan air yang sudah mengalir.

 

by Hendra Januar

Etika

Apa itu etika?

Etika adalah cabang dari studi filsafat yang membahas tentang apa harus dilakukan manusia. Etika menjawab pertanyaan,”Apa yang harus aku lakukan?”–Sebuah studi mengenai baik dan buruknya tindakan manusia. Pada level yang lebih fundamental, etika adalah metode dimana nilai-nilai dikategorisasikan dan bagaimana cara kita meraihnya. Bagaimana cara kita mencapai kebahagiaan, atau apakah kita mengorbankan diri demi sebab-sebab utama kita melakukannya? Apakah fondasi etika didasari pada teks-teks agama, atau pada sifat-sifat alami manusia, atau bukan keduanya?

Kenapa etika begitu penting?

Etika adalah syarat untuk kehidupan manusia. Etika menentukan makna bagaimana kita memilih dan melakukan sesuatu. Tanpanya, tindakan-tindakan kita menjadi acak dan tak bertujuan; tidak ada cara untuk melakukan sesuatu agar sampai tujuan karena tidak ada cara untuk memahaminya. Bahkan dengan standar etika yang dianut, kita mungkin tidak bisa meraih tujuan-tujuan dengan kemungkinan untuk berhasil. Untuk standar etika rasional yang diambil, kita mampu secara benar mengorganisir tujuan-tujuan dan tindakan untuk mencapai nilai-nilai yang dianggap penting oleh kita. Setiap kekeliruan dalam etika, akan mengurangi kemampuan kita untuk mencapai tujuan.

Apakah elemen-elemen kunci untuk meraih etika yang tepat?

Fondasi yang tepat untuk etika memerlukan standar nilai dimana seluruh tujuan dan tindakan dapat diperbandingan satu sama lain. Standar tersebut adalah kehidupan kita sendiri, dan kebahagiaan yang membuat kehidupan layak dihuni. Ini adalah standar utama dari nilai-nilai, dan tujuan dari etika manusia haruslah bernilai. Hal ini sampai kepada usaha memahami kebutuhan-kebutuhan manusia serta sifat-sifatnya. Sebuah sistem etika harus kemudian terdiri bukan hanya dari situasi darurat, tetapi juga dari pilihan dalam hidup keseharian yang kita lakukan secara langsung. Harus terdiri dari hubungan kita dengan yang lainnya, dan mengakui betapa pentingnya mereka bukan hanya untuk kebutuhan fisik, tetapi juga untuk hal-hal universal seperti kesejahteraan dan kebahagiaan.