Bercermin ke India

“Seandainya agama diubah jadi kemanusiaan.”

Taslima Nasrin menulis kalimat itu di awal novelnya, “Lajja”. Novel ini bercerita tentang konflik agama di Bangladesh- anak benua India. Cerita diawali penghancuran dan pembakaran mesjid Babri, pada 6 Desember 1992 oleh fundamentalis Hindu.

Mesjid Babri itu awalnya kuil tempat lahirnya Sri Rama, kuil bersejarah yang dibangun pada abad-16.

Para fundamentalis Hindu yang militan, menghimpun kekuatan untuk kembali merebut tempat suci itu. Perang tak terelakkan. Mereka saling menghabisi atas nama Tuhan.

Pembakaran mesjid Babri menjadi titik awal yang membuat suasana semakin mendidih. Rentetan perang berikutnya menanti. Bukan hanya di India, aksi brutal atas nama agama meletus dahsyat sampai ke Bangladesh. Di sana umat Hindu sebagai minoritas dikejar-kejar, dihabisi, dibunuh, oleh fundamentalis Muslim sebagai buntut pembakaran mesjid Babri.

Sebagai upaya menyelamatkan diri, sebagian umat Hindu mengubah namanya menjadi ke arab-araban. Mereka terpaksa menghapal “dua kalimat syahadat” dan doa-doa kaum Muslim. Sudhamoy, misalnya, mengubah nama menjadi “Sirojuddin Husein” agar lolos dari pengintaian tentara Pakistan.

Dan Taslima Nasrin, penulis novel ini, adalah seorang perempuan Muslim.

Bagi Nasrin, “My pen is my best weapon”. Tulisannya yang penuh gejolak dan kritik tajam terhadap agamanya sendiri, membuat ia harus rela dikejar-kejar oleh sesama Muslim. Nyawanya terus diburu. Kepalanya dihargai ribuan dinar. Sampai-sampai ia tak punya tempat tinggal, hidup melancong ke berbagai Negara.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini?

India mulai bangkit dari kekeliruan berpikir tentang agama; Indonesia meneruskan kekeliruan itu.

Meskipun tidak sebesar di India, rentetan konflik antar agama di Indonesia menjadi potensi yang bisa meledak di kemudian hari. Munculnya gerakan-gerakan Islam garis keras akan memicu lahirnya perlawanan. Seperti kata Pram dalam Bumi Manusia,”Lama-lama orang akan bosan dengan ketakutannya sendiri.”

Pilkada DKI, dan mungkin Pemilu Presiden mendatang, gerakan atas nama agama sulit dihentikan. Mereka seperti mati satu tumbuh seribu. Menularkan paham idiologi keras pada anak dan cucu mereka. Generasi mendatang adalah generasi berdarah.

Maka, menurut saya, diperlukan dua hal: pertama, ajarkan generasi berikutnya logika dan berpikir kritis. “Self-criticism” perlu ditularkan. Mengoreksi dan mengkritisi pemikiran sendiri sebelum menghantam orang lain. Kedua, perlu ada tokoh yang menampilkan diri sebagai jelmaan dari cinta dan kasih sayang yang menyeluruh dan universal.

Semoga ke depan bisa lebih baik.

Hendra Januar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s