Cukupkah Bahasa Indonesia?

Barangkali bahasa Indonesia dibuat sebagai alat komunikasi paling sederhana. Sistem morfologi dan leksikalnya tidak terlalu rumit. Sebagai bahasa nasional yang representatif dari ratusan bahasa lokal, bahasa Indonesia memang layak dijadikan lingua franka.

Tetapi di sisi lain, ada banyak istilah di barat tak punya padanan kata yang cocok dalam bahasa Indonesia. Saya sering menemukan istilah-istilah yang hilang maknanya ketika berusaha diterjemahkan ke dalam bahasa nasional kita. Padahal, istilah-istilah itu adalah jantung pemikiran beberapa gagasan yang muncul di barat.

Sebut saja kata “Dasein”, bahasa Jerman yang berarti “Being-in-the-world” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, paling maksimal kita menerjemahkannya menjadi “Ada-di-dunia”. Istilah yang pertama kali diciptakan oleh Martin Heidegger dalam karyanya “Sein un Zeit” (Being and Time, Ada dan Waktu).

Contoh paling mudah ditemui, misalnya, pada kata “phenomena” dan “noumena”, “substance” dan “essence”, “transcendence” dan “immanence”. Phenomena bisa kita sebut dalam bahasa Indonesia juga “fenomena”, dengan mengubah P jadi F. Pengertian asli fenomena adalah kenyataan yang terlihat oleh indra, sedangkan noumena (Indonesia: nomena) adalah kenyataan yang tak bisa dijangkau indra. Mungkin kata “kasat mata” dan “tak kasat mata” terlihat cocok untuk mewakili dua istilah itu. Tapi, sekali lagi, maknanya hilang.

Sebagaimana istilah “substance” dan “essence”. Keduanya seringkali diterjemahkan menjadi “inti” atau “intisari”, atau ada juga yang menggunakan kata “hakikat” (meskipun kata hakikat bukan asli bahasa Indonesia, ia hasil serapan dari bahasa arab “haqiqah” yang berarti “yang-benar”). Baik inti, intisari dan hakikat, ketiganya mengaburkan makna sebenarnya. Pengertian substance adalah kenyataan yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan lokus untuknya bisa menampakkan diri. Dan essence meliputi substance, accident dan existence. Maka terpaksa, bahasa Indonesia cukup mengatakan substansi, esensi, aksiden dan eksistensi, demi menyelamatkan muatan maknanya.

Kita bertanya-tanya, kenapa banyak sekali istilab barat yang sulit diterjemahkan? Selain jawabannya adalah faktor simplisitas bahasa Indonesia, jawaban lainnya karena istilah-istilah tersebut lahir dari proses permenungan, penelitian, filosofi, yang mewakili gagasan tertentu. Dalam arti, satu istilah bisa mewakili ratusan premis yang terkandung di dalamnya. Sedangkan di Indonesia sedikit pemikir, sedikit peneliti, sedikit filsuf, maka wajar jika dalam diskusi-diskusi yang lebih serius orang lebih memilih untuk tetap menggunakan istilah asing.

By Hendra Januar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s