Yang Mustahil diketahui

Jangan-jangan, apa yang kita katakan tentang kenyataan (the real) bukan kenyataan. Ia tidak lebih dari sebundel gambaran, konstruksi pikiran, produk abstraksi, imajinasi, yang kemudian memunculkan seolah pengetahuan tentang yang nyata. Kenyataan itu sendiri (the real itself) tak pernah terduga, tak terjangkau, liar, terlalu dalam, tidak diketahui oleh unsur-unsur yang dimiliki manusia.

Dalam ajaran Buddha, kenyataan itu sendiri disebut dengan “sunyata”. Sunyata hanyalah tanda yang diberikan manusia pada kenyataan tak bernama (nameless) dan tak berbentuk (formless). Ia berupa kekosongan yang penuh (complete emptiness) dan kepenuhan yang kosong (empty completeness).

Seorang penulis sekaligus filsuf Jerman, F.W Hegel, menyebut kenyataan itu sebagai “roh absolut” (absoluter Geist). Ia ada dan adanya mengalir setiap gerak yang saling berbenturan (berdialektik) dalam sejarah manusia. Ia mengisi setiap lekukan peristiwa. Tetapi ia sendiri tak mungkin diketahui, dikuasai, dijangkau oleh daya manusia.

Berdekatan dengan Hegel, seorang Pastur sekaligus pemikir besar Jerman lainnya, Immanuel Kant menyebut kenyataan dengan kalimat “sesuatu pada dirinya sendiri” (das ding an sich). Adalah sesuatu yang menampung suatu objek, tetapi bukan objek itu sendiri. Indra dan pikiran manusia hanya mampu menangkap apa yang nampak (appearances) dari kenyataan. Tapi bukan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri.

Al-Kunawi, salah satu murid termasyhur Ibn Arabi, menandai kenyataan yang mustahil diketahui itu dengan “Ghaib al-Ghuyub”. Yakni, sesuatu yang tersembunyi di balik yang tersembunyi. Ia merupakan derajat tertinggi (maqam al-a’la) dalam tujuh hirarki kenyataan (al-martabah al-sab’ah). Karena sifatnya yang tersembunyi dari segala yang dianggap tersembunyi, maka tak satu pun manusia yang sampai padanya. Sekalipun manusia mustahil menjangkaunya, tapi ia menjangkau manusia –bahkan lebih dekat dari manusia itu sendiri (aqrobu min habl al-warid).

Inilah yang membingungkan manusia sejak raturan tahun sebelum masehi. Sejak manusia mengenal baca tulis, pertama kali, apa yang ingin manusia ketahui adalah kenyataan itu sendiri. Kenapa begitu penting? Karena tanpa mengetahui apa yang benar-benar nyata, maka apa yang selama ini manusia ketahui hanyalah ilusi. Yakni, sesuatu yang kita anggap nyata ternyata palsu; sesuatu yang kita yakini ada, ternyata hanya seolah-olah ada. Lalu manusia terjebak dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.

Pertanyaan tambahan: apakah perempuan juga memiliki aspek yang mustahil diketahui – dikenali?

By Hendra Januar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s