Identitas

Semula setiap kita tak bernama. Tak ada tanda yang memisahkan satu sama lain. Pada saat itu, hanya ada ‘sesuatu’ yang demi dirinya muncullah selainnya.

Sampailah pada saat ini dimana kita punya banyak tanda, nama, status, identitas yang dengan semua itu kita merasa benar-benar manusia.

Padahal manusia itu tidak ada. Hewan, tumbuhan, benda itu tidak ada. Segala nama yang ditempelkan pada semua itu hanya ilusi. Demi kebutuhan komunikasi, membedakan (differentia), membuat pengertian (definisi), dibuatlah konsensus yang berjalan dalam budaya tuturan dan tulisan. Karena kita sudah terbiasa hidup tanpa penghayatan, maka semua itu terasa nyata, riil, hakiki, dan mau-tidak-mau tak bisa hidup tanpanya.

Dan karena identitas itu diyakini sebagai sarat mutlak untuk hidup, maka identitas menjadi daftar utama yang perlu diperjuangkan, dipopulerkan, bahkan ada beberapa orang yang berani mati untuk identitas diri dan kelompoknya. Kehidupan menjadi sangat permukaan, kering, kaku, tertutup dari kemungkinan untuk mempertanyakan dirinya.

Jika setiap identitas berhenti untuk dihayati, dipertanyakan, diragukan, akan muncul pemutlakan padanya. Dan jika upaya pemutlakan terjadi pada setia identitas masing-masing, maka pergesekan, konflik, dan segala benturan pun terjadi. Bahwa kelompok A mutlak benar, dan sebagainya konsekuensinya, selain A (B,C,D, dst) pasti salah. Demikian sebaliknya.

Tetapi karena setiap entitas (being, wujud, extention) sudah berlimpah dari ‘sesuatu’ –katakanlah X yang di luar jangkauan –maka segala identitas menjadi niscaya dalam kehidupan. Karena itu pula, keragaman adalah hal yang pasti. Keragaman adalah kenyataan yang berlimpah ruah beserta nama dan identitasnya masing-masing.

Salah satu pemikir Persia, Mulla Sadra, mengakui ada dilema dalam persoalan ini. Pada satu sisi, jalan keluar dari konflik adalah kembali pada dasar yang tak bernama, di sisi lain keragaman juga niscaya. Dalam hal ini, ia mengeluarkan empat klaim, proposisi atau premis yang memungkinan kembali pada ketiadaan identitas sekaligus mengakui adanya identitas.

“Kesatuan itu nyata. Keragaman juga nyata. Kesatuan mengalir dalam keragaman. Keragaman kembali kepada kesatuan.”[1]

Kesatuan adalah meleburnya segala nama yang menjadi pembeda. Pembeda itu sendiri menjadi ilusi yang mendapatkan realitasnya karena kesatuan. Karenanya ia menjadi nyata.

——
[1] Sadr Mulla, Trancendental Philosophy, Qom: Sadr Press, 1995.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s