Cinta dan Usia Manusia

Konon, usia cinta lebih tua dari usia manusia.

Dalam tradisi Upanisad, Brahma ditafsirkan sebagai pusat cinta. Karena semula yang ada hanya Brahma. Brahma yang hanya seorang diri itu merasa bosan. Lalu dia memancarkan dirinya, maka terciptalah selainnya.

Serupa dengan itu, dalam madrasah sufi dikabarkan, semula yang ada hanyalah dia. Dia adalah permata tersembunyi. Dia mencintai dirinya sendiri, maka terciptalah selainnya. Salah satu tokoh sufi besar Ibn Arabi kemudian menemukan teori “ketunggalan wujud”: aku adalah engkau – engkau adalah aku – tapi aku bukan engkau – engkau bukan aku.

Maulana Rumi contoh lain yang sangat masyhur. Semula Rumi hanya seorang Theolog yang memuja rasionalitas, kering, kaku, seolah hidup adalah upaya menyusun proposisi. Suatu ketika Rumi bertemu Syam Tabrizi yang kemudian menjadi gurunya. Rumi sangat mencintainya. Pada pagi yang dingin Syam pergi tiba-tiba. Syam hilang. Rumi menderita. Rumi menuliskan derita dan kerinduan itu dalam “Masnawi”, sebuah buku puisi yang terlampau populer sampai saat ini.

Begitulah, karena dayanya yang begitu dahsyat, cinta tak pernah tuntas dibicarakan sampai saat ini. Di buku-buku, seminar, teater, musik, tragedi, komedi, cinta masih menjadi topik pilihan. Sebagaimana Tuhan yang selalu hidup dalam berbagai peristiwa, jangan-jangan cinta hidup bersama Tuhan. Dan cinta adalah Tuhan itu sendiri.

Lepas dari cara sejarah mengungkapkan cinta, kini cinta kehilangan dayanya. Manusia saat ini lebih suka menafsirkan cinta sebagai barang-barang yang melekat pada orang yang dicintai: rumah, mobil, pakaian, warna kulit, gaya rambut, tinggi badan, berat badan, lipstik, parfum dan apa pun yang menjadikannya layak dicintai. Cinta bukan lagi “ruh” yang bermukim dalam diri seseorang.

Barangkali inilah bentuk evolusi tertinggi manusia, yakni manusia lebih suka bungkus dari pada isi, kata-kata dari pada makna, kuantitas dari pada kualitas. Sehingga kata “cinta” menjadi kering, tinggal kata yang hilang makna, rapuh, berubah-ubah. Ibarat pakaian tanpa tubuh, cinta kehilangan rumahnya.

Cinta yang dahulu dipahami sebagai kondisi tanpa syarat, kini berubah menjadi kondisi bersyarat. Cinta yang lama dimengerti sebagai puncak ketidakbutuhan, sekarang berubah menjadi daftar kebutuhan. Cinta yang dipahami sebagai persoalan dasar manusia, kini menjadi persoalan sampingan, bahkan permukaan.

By Hendra Januar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s