Zarathustra

Pada suatu pagi dia bangun dan berdiri di depan fajar yang menyingsing, menghadap ke arah matahari dan berkata:”Wahai bintang agung! Apalah arti kebahagiaanmu seandainya tidak ada mereka yang kau sinari ?”

Zarathustra adalah satu dari banyak nama yang bernasib sama. Boleh jadi di dunia modern ini, banyak nama lain yang jika dilihat perannya tak kurang dan tak lebih serupa dirinya. Setelah bosan dengan keadaan masyarakat, beranjak hijrah berupaya menghindari kemungkinan terjadi kontak sesama manusia. Khususnya mereka yang merasa tahu segalanya.

Pada saat Zaratrustha turun gunung, pergi ke pasar dan berdiri di tengah kerumun, ia berteriak:”Apalah artinya pencarian, duhai engkau yang hilang diri, sebab yang ada tak pernah menjadi tiada dan yang tiada selamanya tiada?”

Baginya, pencarian itu mustahil terjadi. Manusia hidup di dunia bukan untuk mencari tetapi mengungkap. Pencarian ialah usaha yang sia-sia, karena yang sudah dimiliki untuk apa dicari. Tetapi jika belum dimiliki, selamanya tak pernah termiliki, maka untuk apa juga mencari: sia-sia.

Tetapi Zaratrustha terlalu baik. Kata-kata kasar yang acapkali keluar dari mulutnya semata-mata ingin manusia tahu hakekat hidup. Kehidupan yang terkandung di dalamnya kelompok-kelompok, mirip gerombolan domba. Ia berkata rendah:”Setiap kali aku bersalaman dengan mereka, segera aku cuci tanganku!”

Sir. Muhammad Iqbal, tiga abad kemudian, jatuh pada sosok Zaratrustha. Terutama ketika Iqbal mengalami pergoalakan diri, sementara ayat-ayat suci perlu ditafsirkan yang tak satu pun tahu inti kandungannya. Tiba-tiba Zaratrustha datang, seperti tidur di sampingnya dan membisikkan sesuatu:”Kepada engkau yang bodoh, bukankah tak ada ikan yang dahaga di dalam air?”

Iqbal terperanjat. Pikirannya yang lama tertidur seperti terbangun oleh suara guntur dahsyat yang menggetarkan seluruh dirinya.

“Ikan yang dahaga di dalam air? Bukankah itu artinya aku buta sama sekali?”

Buta, kata iqbal, beberapa kali kata itu ia tanyakan pada dirinya. Ia hilang daya dan upaya, mengais-ngais arti dari kata ke rasa, rasa ke makna. Ditemukan olehnya bahwa cahaya itu ternyata semuanya — yang menyinari dan yang disinari adalah satu. Sisanya adalah kegelapan. Iqbal menyadari ada yang keliru,”Tuhan menciptakan satu Iblis yang terbuat dari api, tapi menciptakan milyaran Iblis yang terbuat dari tanah, oh!”

 

Written by: Hendra Januar

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s