Perempuan dan Nietzsche

Semula perempuan dipandang rendah, kelas dua dan diduga tidak memiliki ruh. Tak bermanfaat, kecuali tempat menyimpan sperma serta beranak-pinak.”Perempuan adalah kesalahan Tuhan yang kedua setelah kehidupan,”begitu tegas Nietzsche.

Dan Friedrich Wilhelm Nietzsche meninggal pada usia 56 tahun pada akhir abad-19 lalu, dua puluh tahun setelah ia menuliskan kalimat itu. Saya kira ia akan berubah pikiran kalau saja sempat menikah. Dalam Those Spoke Zaratrustha (Sabda Zaratrustha) ia menulis bahwa ‘Tuhan telah mati dan manusia telah membunuhnya berkali-kali.’ Sebuah ungkapan putus asa setelah gagal meminang seorang perempuan diserta hemicrania continua, sebuah penyakit kronis di kepala. Berpuluh-puluh tahun kemudian ia dikenal sebagai ‘Sang Pembunuh Tuhan’.

Di penghujung malam itu ia menyobek sehelai kertas dari buku hariannya, dan menulis sebuah kalimat puitis:

”Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian, dan cincin kawin segala cincin, cincin Sang Keberulangan! Tak pernah kutemukan perempuan, yang ingin kujadikan ibu anak-anakku, kecuali perempuan yang kucintai ini: karena kucintai kau, oh Keabadian!

Perempuan atau kematian. Keduanya adalah pertarungan antara yang abadi dan yang fana. Dengan ironi dan nada rendah, Nietzsche memberi tahu,”siapa pun yang mengira akan abadi akan mati.” Sebab baginya hidup ini tak bernilai, sekedar opera yang dimainkan oleh kehendak berkuasa.

Mungkin itu sebabnya ia menulis berbagai buku — dengan kalimat yang menunjukkan derita, putus asa, tetapi juga jenius dan bebal sekaligus — tentang hal-hal fana yang melebur dalam kekekalan wajah seorang perempuan.

Bukan karena ia percaya pada cinta roman picisan. Saya tahu ia seorang yang berjalan menembus pemikiran manusia pada jamannya. Baginya, kebahagiaan yang dicari manusia tidak lebih dari sebuah ilusi. Dibentuk oleh keadaan jiwa seseorang, dalam lanskap yang terus berubah di atas kehendak untuk mendominasi satu sama lain. Bahwa manusia, satu dengan yang lainnya, sudah berperang sejak tercipta –bahkan menurutnya, ada sebagian manusia berencana melakukan agresi kepada Tuhan.

Seorang Nietzsche acapkali punya sejenis nihilisme dalam dirinya: meyakini bahwa kehidupan ini, betapa pun ia memaknainya, selalu akan berakhir kosong, tak berarti dan tak bernilai. Baginya setiap manusia adalah bayang-bayang dari kekosongan. Manusia itu diawali keinginan, diakhiri kesia-siaan.

Karena merasakan derita yang begitu luar biasa itu, agaknya ia tahu kondisi fisiknya mulai lemah. Menjelang akhir hayatnya pada tahun 1900, ia hidup di sebuah rumah kecil di kaki gunung. Hanya ditemani Elizabeth, adik perempuannya yang setia menemani. Ia menulis sebuah puisi:

 “Burung-burung gagak lemas terkulai,
dan seketika terbang di pusaran kota:
Oh, berbahagialah mereka yang tak berumah.”
Ditulis oleh: Hendra Januar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s