Berkata-kata

“Dunia kini sudah kelebihan kata-kata,”kata Sukab kepada kekasihnya dalam Sepotong Senja, sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Seno Gumira. Ketika saya coba membaca seluruh ceritanya, tiba-tiba terhenti sesaat, merasa kalimat ini cukup penting untuk ditemukan mata airnya.

Sepintas, Seno ingin pembacanya tahu bahwa jumlah kata-kata di dunia ini sudah cukup. Tak perlu ditambah atau dikurangi. Tentang berapa jumlah seluruh kata-kata yang masih ada di dunia, saya yakin Seno pun tidak tahu. Tidak ada lembaga atau individu yang berani melakukan survey–terlalu banyak.

Namun saya tahu Seno bukan saintis, terutama kalimat itu ditulis dalam karya prosa yang penuh metafora. Ini memberi isyarat bahwa makna yang terkandung di dalamnya tidak dianjurkan untuk ditelan mentah-mentah, alias jangan boleh membacanya secara tekstual. Di sinilah dibuka ruang spekulasi. Dalam sebuah metafora, kalau kita mengikuti “the death of author”-nya Derrida, setiap membaca bebas menafsirkan apa saja.

Kata kunci dalam kalimat itu adalah “kata-kata”. Agar lebih mudah, mari kita berangkat dari kenyataan sehari-hari.

Saat ini saya sedang duduk di atas kursi. Di depan saya nampak meja, lap-top dan segelas kopi. Ketika ada orang yang bertanya dimana saya sekarang dan apa sedang dilakukan, saya akan menjawab:”Saya sekarang berada di dalam kamar, sedang duduk di atas kursi di depan meja yang di atasnya terdapat lap-top serta segelas kopi.” Setelah anda mendengar deskripsi ini, tergambar dalam benak anda sebuah kamar, kursi dan saya yang sedang duduk sambil mengetik. Tetapi tahukah, bahwa apa yang anda gambarkan berbeda dengan kenyataannya?

Pertama, anda belum pernah memasuki kamar saya. Sehingga apa yang anda gambarkan adalah kamar yang pernah anda lihat. Deskripsi yang saya sampaikan secara otomatis melukiskan satu bentuk gambaran tentang kenyataan. Namun kenyataan yang anda tangkap bukan kenyataan yang sedang saya alami, melainkan sebentuk imajinasi yang anda ciptakan sendiri.

Kedua, bahasa yang di dalamnya berisikan kata-kata selalu memiliki dunianya sendiri. Kata “kursi” yang saya sebutkan adalah kursi yang ada dalam pikiran saya sekali pun saya mengatakannya sambil menunjuk kursi yang sebenarnya. “Kursi” tidak lain ialah simbol untuk benda yang berkaki empat dan memiliki sandaran. Benda yang ditunjuk (disimbolkan) sebagai kursi, pada dirinya sendiri tak bernama sama sekali, tak punya identitas.

Dengan demikian, semua bahasa, baik berupa tuturan ataupun tulisan tidak benar-benar mewakili kenyataan sebagaimana dirinya. Melainkan bahasa mewakili pikiran yang bicara atau yang menulis. Artinya, saya dan anda telah mencerabut kenyataan ke dalam bentuk kata-kata yang kemudian secara langsung tersusun dalam satu kalimat. Dan karena kita hidup dalam bahasa yang sama, maka saya bisa memahami bahasa anda, demikian sebaliknya.

Seno Gumira, dalam kalimat itu, sepertinya ingin mengatakan bahwa ‘kita’ sudah bosan bermain dalam kata-kata. Kita perlu tenggelam dalam kenyataan. Ketika melihat air, kita perlu melihatnya tanpa melibatkan bahasa. Memandangnya (seeing) tanpa keterlibatan pikiran sebagai wadah dari bahasa. Biarkan air sebagaimana adanya yang sedemikian rupa lentur, mengalir dan lembut. Pada saat kita memandang air dalam diam, maka air akan mengungkapkan dirinya sendiri.

Written by: Hendra Januar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s