Anatomi Cinta Majnun

“Bukan, kau bukan Laila!” seketika semua terkejut dengan ungkapan Majnun itu. Dalam kisahnya Majnun benar-benar dipertemukan dengan wanita yang bernama Laila setelah orang-orang merasa iba dengan kondisi Majnun. Menurut saya, inilah puncak dari kisah yang ditulis oleh Syeikh Hakim Nizami.

Kisah cinta yang dialami Qais (Majnun) adalah sebuah cinta yang berjalan di atas proses ketidakpuasan. Cinta serupa pancaran cahaya yang menyelinap ke dalam hati Majnun. Kalau saya ibaratkan lebih jauh, cinta di mata Majnun adalah sebuah sungai yang memiliki muara. Hal yang menjadi luar biasa yakni, keputusan Majnun untuk terus berjalan agar sampai ke muara.

Sungai seperti yang biasa kita temui, ia mengalir menuju dataran paling rendah. Dalam ilmu fisika, gravitasi sebagai jawabannya. Hukum gravitasi ala Newton mangatakan bahwa bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk air, dan benda-benda yang ada di bumi. Dengan demikian, kita bisa dengan mudah memahami kenapa sungai memiliki muara. Tetapi bagaimana jika cinta adalah sungai yang bermuara? Dari mana perumpamaan ini bisa dipahami seutuhnya?

Alegori sungai bisa dipahami dari berbagai cara, salah satunya dengan membagi kenyataan (alam) yang ada di dalam diri kita. Diri kita terbagi dari berbagai kenyataan yang disadari, kenyataan yang bermukim segera setelah kita lahir ke dunia. Ketika kita melihat gelas berwarna putih, kita menyimpulkan gelas itu benar-benar berwarna putih. Kesimpulan ini didapatkan dari proses mata sebagai salah satu dari lima indra manusia. Dengan demikian dapatlah kita ketahui, kenyataan pertama dalam diri kita adalah bahwa kita memiliki materi atau tubuh dengan segala bagian-bagiannya.

Setelah kita banyak melihat berbagai benda yang nampak di depan mata, suatu ketika kita bisa membayangkannya dalam ruang imajinasi. Kita mampu menggabungkan berbagai gambar dalam imajinasi dalam satu bentuk. Misalnya, kita membayangkan seekor burung dan seekor kuda, kemudian kita pisahkan kedua sayapnya dan ditempelkan di atas punggu kuda. Kita menamainya “Pegasus”, yaitu seekor kuda bersayap dan bisa terbang layaknya burung. Di alam (kenyataan) imajinasi, kita bahkan bisa membayangkan seorang Barack Obama mengenakan rok ketika berjalan ke atas podium. Ya, begitulah imajinasi, kita dengan mudah bisa membayangkan apa yang mustahil terjadi di alam fisik. Alam imajinasi adalah kenyataan kedua yang dimiliki oleh manusia setelah kenyataan fisik (indra).

Bukan hanya indra/tubuh dan imajinasi/khayal, kita pun memiliki sesuatu lain dalam diri; sesuatu yang lebih tinggi dari tubuh dan imajinasi; sesuatu yang dengannya kita bisa memahami sebuah percakapan; sesuatu yang dengannya kita bisa mengerti alur cerita sebuah novel; sesuatu yang karenanya kita layak disebut manusia; sesuatu itu tiada lain adalah “akal”. Pertanyaannya, kenapa akal begitu spesial?

Mari kita mulai dengan satu dan dua contoh sederhana. Suatu ketika saya mengatakan kepada seorang teman bahwa ada segitiga bersudut empat, dan tentu saja seketika dia berkata:”Ngawur, sejak jaman nabi adam sampai kiamat segitiga itu bersudut tiga. Namanya aja segitiga!” Di lain hari saya mengatakan kepadanya bahwa di kampung sebelah ada bujangan yang pernah menikah, dengan reaksi yang hampir sama dia berkata:”Tidak mungkin, kok bujangan pernah menikah, dimana bujangannya kalau udah menikah?”

Dari dua contoh tersebut kita bisa melihat bagaimana akal bekerja, bukan indra atau imajinasi. Mendengar ada segitiga bersudut empat, orang tak perlu menanyakan kepada ahli matematika atau membayangkan bagaimana bentuknya, karena akal kita sudah tidak menerima pengetahuan semacam itu. Bagi seorang pengkhayal sekalipun, ia tak akan sanggup membayangkan segitiga yang memiliki empat sudut.

Terakhir dan yang paling sulit disadari adalah kita memiliki puncak alam yang ada dalam diri, yaitu spiritualitas (ilahiyyah). Spiritualitas bermukim dalam diri bukan sebagai yang tertinggi atau yang terendah. Ialah mengalir dan mewadahi kenyataan pada diri kita. Ialah yang menghidupkan organ-organ tubuh, menggerakkan imajinasi dan menyalakan akal. Ialah yang menjadi jembatan penghubung antara kita dan sesuatu yang tak terbatas, sesuatu yang dengan-Nya kita ada.

Dimanakah letak cinta majnun?

Kalau saja Majnun mencintai Laila sebatas alam fisik/indra, tentu ia tak akan berkata sebagaimana pada paragraf pertama dituturkan. Jiikalau Majnun mencintai Laila sebatas alam imajinasi/khayal, tentu Majnun tak perlu mencari-cari Laila, sebab Laila sudah ia ciptakan di alam khayal dan akan datang kapan saja Majnun membayangkan. Seandainya Majnun mencintai Laila hanya di alam akal, makan Majnun tak akan pernah disebut gila, sebab akal terlalu rapi untuk menjelaskan cinta Majnun.

Majnun mencintai Laila karena Ia telah memasuki alam spiritual. Laila adalah nama sebuah kenyataan tak terbatas, sebuah cinta yang mengalir dalam segala kenyataan. Laila berada dimana-mana. Laila berada dalam dedaunan, pepohonan, lautan, gunung, bahkan Laila berada di antara ruas jemari Majnun.

Suatu ketika orang-orang merasa heran mengapa jelang senja tiba, Majnun selalu berdiri di depan goa dengan kedua tangan mengayun-ngayun di udara menyambut hembusan angin. Ketika ditanya kenapa demikian, Majnun menjawab:”Karena setiap kali sebelum senja tiba, aku mencium wangi tubuh Laila yang terbang bersama angin, dan aku menari menyambutnya.”

 

Ditulis oleh: Hendra Januar

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s