Untukmu, Mak!

(Agustus, 2012)

Aku sudah dua lima tahun, Mak
meniti jarum kehidupan
merangkaki tanah
meloncati potongan kisah
mendaki tebing-tebing waktuAku sudah dua lima tahun, Mak
terpanggang panas matahari
terselimuti gigilnya malam
tersapa angin
terguyur hujan
terpeleset di kaki jalan
terjatuh di atas kerikil

Aku sudah dua lima tahun, kau berapa Mak?
Terakhir kutatap wajahmu
mulai keriput kulitmu
mengeropos pipimu
sakit-sakit pula badanmu

Pernah aku berpikir,
tak perlu bagiku mengenyam bangku sekolah
dan berseragam lengkap
memangku buku-buku
mengeja A, B dan C:
ini Budi, ini Ibu Budi.

Aku hany ingin terus berada
di tengah Mak dan Abah
pergi ke ladang.
Di pagi hari menanam benih
Memanen singkong bersama,
Tertidur di atas batu di dekat curug
Bermimpi indah di dalamnya

“Kamu harus sukses, Nak!”
Masih hangat ucapan itu dalam ingatanku
Sepuluh tahun yang lalu
Saat aku memberi makan ayam,
kau bicara itu
pelan
jelas
runcing

Mak, perjalanan semakin jauh
Tetapi kakiku belum melangkah kemana-mana
Peta hidup semakin lusuh,
terkadang aku ingin sekali menyerah, mak.

Tetapi Mak dan Abah
Selalu menjadi sumbu penyemangat
dan harapan

Mak, doakan aku selalu.
Dalam relung hatiku
Dalam setiap gerak langkahku
Dari seluruh nafas yang kuhembuskan
Aku hanya ingin mengatakan:
“aku mencintai Mak dan Abah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s