Salahkah Aku?

Seluruh Muslim, atau setidaknya sebagian banyak Muslim di dunia, menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Diyakini bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan bagi siapa saja dari hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dengan sepenuh hati mengakui segala dosa dan kembali pada jalan yang lurus.Tetapi apa yang terjadi pada diriku. Aku merasakan hal yang biasa-biasa saja. Seringkali aku tidak berpuasa, makan dan minum sembunyi-sembunyi karena khawatir dinilai sebagai orang tolol. Itulah sebabnya aku selalu menampilkan adegan kepura-puraan.

Dalam hal ibadah, hidupku memang seperti keluar dari sistem keharusan menjalankan syariat. Tidak merasa bangga dan lega setelah melakukan ibadah, dan tidak merasa berdosa ketika meninggalkan kewajiban. Inilah yang sulit aku pahami. Barangkali secara esensial, aku bukan lagi disebut Muslim; aku menjadi non-muslim—bahasa halus dari kafir, barangkali.

Lantas apa yang harus aku lakukan jika memang aku salah, walau aku sama sekali tidak merasa salah. Dengan alasan hatiku tidak mengatakan demikian. Apakah ini bentuk dari pengingkaran terhadap fitrah yang ada dalam diri sendiri?

Kalau ada orang bertanya padaku secara intim, apakah aku percaya adanya Tuhan yang menjadi tumpuan segala makhluk hidup, maka aku menjawabnya ‘ya’. Dan aku tahu, konswekuensi dari kepercayaan adalah menuruti apa yang diperintahkan-Nya, atau lebih jauh dari itu, bahwa segala tingkah laku perjalanan hidup tidak lebih sekedar menuju-Nya.

Siapa yang menyangka, dahulu aku pernah mengenyam pendidikan pesantren kurang lebih tujuh tahun lamanya. Selama lima tahun belajar ilmu agama di Subang, di sebuah pondok pesantren modern Darussalam. Setiap hari tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, bahkan kalau perlu, ditambahkan sholat-sholat sunnah lainnya. Membaca quran dari surat ke surat. Membaca kitab kuning dan melantunkan sholawat serta nadhoman lainnya. Selain itu, program pembelajaran bahasa menjadi makanan harian. Setiap pagi seusai subuh, di tengah dinginnya udara pagi, aku disuguhi beberapa kosa-kata bahasa arab dan inggris. Hingga setidaknya, sekarang aku bisa minimal menerjemahkan bahasa arab dan inggris secara bebas.

Rasanya pendidikan pesantren yang aku alami tidak mempengaruhi cara berpikir dan tingkah lakuku. Mungkin beberapa orang akan menyayangkan hal ini, khususnya orang tua. Tetapi aku juga tidak tahu kenapa menjadi seperti ini, terasa ada hal-hal yang belum selesai dalam diriku, sejumlah pertanyaan yang acak yang membutuhkan jawaban serta tuntunan. Tuhan tentu tahu hal ini, persoalan kapan Dia akan membantuku menyelesaikannya adalah hal lain, Dia punya kehendak untuk apapun secara otoriter. Toh Dia kan Tuhan, pencipta segala sekenario.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s