Cinta “in abstracto”

Cinta: sebuah pengertian yang mengoyakkan hati dan telah membingungkan manusia selama berabad-abad, sepatah kata yang menciptakan manusia-manusia pengkhayal tetapi juga bisa mendorong orang untuk merelakan dirinya. Sejak dahulu manusia mencoba merumuskannya dengan berbagai pengertian yang silih berganti. Tetapi kenyataaannya cinta tak pernah bisa dirumuskan, bukan bagian dari apa yang selalu kita tangkap melalui konsep semata.

“Cinta tak punya definisi,” konon demikianlah kata Ibnu Arabi, seorang filsuf sekaligus sufi besar kelahiran Spanyol pada Abad-12 itu. Di dalam risalahnya Futuhat al-Makiyya ia menambahkan,” Barang siapa yang mendefinisikan cinta berarti tak mengenalnya, karena cinta adalah anggur tanpa melepas dahaga.”

Cinta: kita hanya menangkapnya sebagai sesuatu yang terjadi begitu. Ada semacam proses yang muncul tiba-tiba tanpa bisa dipotret secara utuh. Ketiba-tibaan mengisyaratkan adanya pengetahuan di luar usaha kita menolak atau menariknya. Jalaluddin Rumi, sufi yang paling masyur dengan syair-syairnya mengungkapkan pengertian cinta sebagai Isyq. “Cinta adalah laut ke-tak-ada-an,” begitu kata Rumi. Cinta menjelma tabir yang paling rahasia, sekalipun kita mencoba membukanya akan nampak tabir yang lain, begitu seterusnya sampai tak dikenali.

Di hadapan nalar intelek manusia, segala sesuatu harus lolos dari pengadilan akal. Seolah ada dua kubu yang saling bersitegang: hati dan akal. Akal mendorong manusia untuk menyusun pengetahuan secara universal, sistematik dan proposisional. Akal manusia sibuk menerangi ruang dan meraih kehidupan dunia. Sementara hati tempat bersemayamnya cinta, ia seperti hidup dengan dunianya sendiri. Seperti seorang anak kecil yang asik bermain di halaman rumah tanpa peduli siapa yang datang dan apa yang sedang terjadi di dunia.

Perhatikanlah ketika Rumi berkata:”Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.” Orang yang penuh dengan perasaan cinta akan menemukan tempat paling rahasia dunia. Tempat yang tak mungkin dijamah oleh Nalar manusia yang hanya menyelinap ke balik realitas yang kering, retak, saling bertubrukan dan tumpang tindih. Demikianlah kenapa para Filsuf Muslim menggolongkan cinta kepada al-ilm al-huduri (pengetahuan langsung), yaitu pengetahuan yang tidak melewati pengadilan nalar. Hal ini bisa mudah dipahami ketika seseorang menyentuh api lalu berteriak merasakan panas.

Di tangan para penyair, cinta diletakkan di muara. Tak pernah ada seorang penyair yang berhasil secara utuh membangun pengertian tentangnya. Charles Bukowski, penyair sekaligus novelis asal Los Angeles-Amerika, ketika ditanya pengertian cinta ia menjawab,”Love is a fog that burns with the first daylight of reality.” Dalam keilmuan logika, jawaban semacam itu tidak disebut definisi melainkan deskripsi metaforis; bahwa cinta adalah (seperti) kabut api yang membakar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s