Catatan Harianku Tahun 2013

By Hendra Januar

 Selipkan do’a untuk Ibu di malam tahun baru. Semoga di sisa hidupnya, diberi kesehatan dan diberi kebahagiaan selalu. Ini anakmu tengah merindu, Ibu..disela-sela rukuk dan sujud do’amu selalu menyertaiku. Sejadah yang kian basah oleh air matamu, di setiap malam tanpa lelah menengadahkan tangan mendo’akan anak-anakmu. Disini aku tahu, kau adalah wanita terhebat, Ibu. (Des.31)

Ada orang yang dewasa dalam berpikir, tidak dlm bertindak. Ada juga orang yang dewasa dlm bertindak, tidak cukup dewasa dlm berpikir. Aku kira dua hal ini mustahil terjadi, sebab tindakan adalah buah dari pikiran, dan pikiran adalah ciri kemanusiaan sekaligus manifetasi nama Tuhan al-‘Alim. Maka tidak mungkin ada orang bertindak bodoh dengan pikiran cerdas, haruslah salah satunya meliputi selainnya. (Des.30)

Sudah 3 hari jauh dari buku. Rasanya pikiran membeku, penat dan semakin nampak kerasnya kehidupan. Ah, buku memang tempat paling aman untuk bersembunyi dari jangkauan pengaruh-pengaruh yang tidak bertanggungjawab. Aku pikir, membaca adalah bagian dari Iman, namun tidak semua keimanan adalah membaca. Selalu ada hal yang menuntut diri untuk segera berjalan tanpa tanda tanya. (Des.29)

Ini malam Jakarta cerah. Muda-mudi berhamburan di sepanjang trotoar, Mall dan cafe-cafe. Ini malam banyak orang dengan beragam niat dan keinginan, motor melaju cepat mengejar waktu menyalip pejalan kaki. Ini malam transaksi ekonomi membengkak, dari ponsel terbaru hingga kopi yg harganya sebanding dgn 10 kilo botol bekas yg dijual pemulung. Ini malam, malam Jakarta, dimana Tuhan tertidur pulas. (Des.28)

Aku heran, bahkan tak habis pikir, ditengah-tengah kehidupan bangsa yang beragam bahasa, agama, budaya dan idiologi..masih ada saja orang yang mencemooh dan mencaci pendapat kelompok lain. Aku kira, orang seperti ini bisa disebut ‘terroris’, dia meneror keharmonisan hidup dengan cacian dan pengkafiran disana-sini. Orang2 seperti ini harus dikumpulkan dalam satu pulau yg jauh dari kehidupan khalayak. (Des.28)

Saya tegaskan Tuan, negara saya bukan negara miskin! Orang nganggur saja bisa membeli ponsel terbaru, berani menikah dan kredit motor. Saya berkata begini karena dunia masih satu defini tentang arti KAYA. Semakin banyak kebutuhan semakin disebut kaya. Bukankah itu yg diharapkan perusahaan asing beserta investor2 anda? Rakyat terlalu baik Tuan, maka jgn tanya siapa yg lebih mulia diantara anda & kami. (Des.27)

Selamat merayakan Hari Natal Nasional bagi seluruh Umat Kristiani, semoga Tuhan memberikati. Salah damai dan cinta kasih dari kami umat Muslim, semoga kebersamaan kita di negri ini menjadi representasi keragaman bangsa yang harus mulai berangkat dari sikap saling menghormati menuju kerja-sama dalam memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. (Des.26)

Aduh Tuhan, mataku masih buta, telingaku masih tuli, bagaimana aku melihat keindahan pesona-Mu dan mendengar merdunya suara-Mu. Wahai Zat yang Maha Pecinta, cintailah aku sebagaimana Kau mencintai orang-orang saleh, agar segala hijab terangkat dan terkuak segalatanya.
(Des.2)

Tuhan, tumbuhkanlah kecintaanku kepada-Mu, bukan hanya disaat hati tenang dan pikiran jernih; tetapi juga disaat aku mengalami kebingungan dan tidak mengerti semuanya. Bukankah Engkau tempat kembali segalanya? Tidak ada satu pun daun yang jatuh selain Engkau tahu sebelumnya dan sesudahnya. Maka dari itu Tuhan, aku tundukkan ke-aku-anku di haribaan-Mu, Zat yang Maha Tangguh. (Des. 25)

Tuhan memberikan banyak jalan dengan satu tujuan. Semua jalan akan sampai kepada-Nya, kecuali mereka yang berhenti mencari. (Des. 25)

Banyak orang berandai-andai agar waktu bisa terulang kembali utk memperbaiki kesalahannya. Sementara aku, sama sekali tdk mau kembali ke masa lalu, bagiku pengandaian seperti itu adalah sikap putus asa. Aku bersyukur telah banyak melakukan hal-hal yang bodoh, karena dengannya aku tahu apa yg seharusnya terjadi. Bagiku, tdk ada perbuatan baik-buruk; yg ada hanyalah perbuatan berani & perbuatan yg ragu-ragu. (Des. 21)

Ketika terikat, aku merindukan kebebasan. Dan ketika ku dapatkan kebebasan, aku rindu keterikatan. Inilah hidup, apa yg dikatakan Herakitos mungkin benar, kehidupan adalah perubahan tiada henti; tiada satu pun yang tetap kecuali perubahan itu sendiri. Sehingga, apa yang disebut ‘absolute entity’ tdk pantas jika disematkan padaku, sebab aku adalah gerak meniada, lalu hidup dan meniada lagi, hidup lagi, dst. (Des. 20)

Mendekati Januari, awal pertama kali kita bertemu & malu-malu..masih ingatkah kau? Saat itu kau sedang menunggu Bus di halte dekat toko sepatu, tak lama aku datang & duduk di sampingmu. Bus belum jg tiba, aku dan kamu diam tak sepatah kata terucap. Aku belum lupa, saat itu kau membawa sebuah novel “Lajja”. Dan aku pura2 menanyakan jam. Skrg, kau dimana? Semoga kau baik2 sj di tempat yg aku tak tahu dimana. (Des. 19)

Kesadaran awal adalah kenyataan bahwa aku hidup. ‘Aku’ adalah hakikat yang terlepas dari raga, sementara untuk bisa muncul dalam kehidupan dunia, aku hadir bersama raga ini. Ada orang meyakini raganya adalah hakikat dirinya, namun ketika sehelai rambutnya putus dia tetap mengatakan ‘aku’ tanpa berkurang ke-aku-annya. Orang yg demikian, akhirnya menuju sebuah keyakinan, ketika raga hancur dirinya tiada. (Des. 19)

Bagiku lelaki dan perempuan sama saja. Hal yang membedakan keduanya adalah siapa yang lebih berani menyusuri jalan sempit, gelap dan berliku demi menemukan cahaya di ujung perjalanan. Sehingga ia mampu melihat keindahan dirinya dan keindahan di luar dirinya. Lelaki dan perempuan adalah dua pengembara di hutan belantara yg bisa berpisah di persimpangan sungai. (Des. 17)

Dulu aku bercita-cita ingin merubah dunia, tapi sampai saat ini dunialah yang berhasil merubahku. Dulu aku berpikir begitu enaknya jadi orang yang banyak tahu, namun skrg aku malah membayangkan betapa enaknya jd orang yang tdk banyak tahu. Sementara aku masih asing bagi diriku sendiri, bagaimana mungkin aku mengenali di luar diriku. ‘Hidup adalah kesunyian masing-masing’, kata Chairil.  (Des. 15)

Membaca buku tanpa istirahat itu melelahkan. Istirahat tanpa membaca buku pasti membosankan. Tapi, setidaknya, dengan membaca buku aku terlepas dr kenyataan kerasnya kehidupan. Ya, kamu benar, teori terkadang atau malah selalu tdk sesuai dgn kenyataan..tapi tanpa tahu teorinya bagaimana kamu menghadapi kenyataan. Inilah mungkin kebutuhan akan “ketetapan” dan “perubahan”, sebab keseimbangan adalah kesejatian hidup. (Des. 14)

Ada banyak orang yang berusaha menafsirkan Islam sebagai agama kekerasan dan paksaan. Sejalan dengan itu, akibatnya, muncul orang2 yg menolak Islam secara keseluruhan. Aku yakin seyakin-yakinnya, semua agama tidak mengajarkan kekerasan dan paksaan. Tidak ada satupun kekerasan dan paksaan atas nama agama kecuali itu berasal dr kepentingan pribadi. Tapi sayangnya, masyarakat secara umum belum memahami. (Des. 13)

Apa yg disebut “Virtuous Religious” semakin terkikis. Aku melihat orang-orang yang mengaku beragama, tapi perbuataannya seperti manusia hutan yang hanya kenal bagaimana membunuh dan mempertahankan diri. Aku khawatir suatu saat, di masa depan, agama hanya menjadi sejarah kuno yg pernah ada di dunia. Aku berbicara seolah agama itu penting, atau memang sedemikian pentingnya sehingga aku mulai ragu. (Des. 12)

Aku heran, kenapa kesalahan selalu dilawan kebencian. Bukankah itu berarti menjawab kesalahan dengan kesalahan berikutnya? Karena..aku tidak pernah sepakat bahwa kebencian adalah kebenaran. Ada sejumlah orang yang gemar mengkritik tanpa memberi solusi. Ada juga orang yang mengkritik dan memberi solusi, tapi solusinya tdk lebih baik dr apa yg dikritik. Aku kira, bercermin lebih baik dr pada melempar cermin. (Des. 12)

Kalau kau ada, datanglah. Kalau kau belum lahir, aku tunggu kamu besar. Kalau kau sudah datang ke tempat lain, tidak mungkin, itu pasti bukan kau. Sekarang aku butuh nyatamu, bukan lagi bayangmu. Kau dimana? Aku disini, menunggu kau mengunjungiku atau aku yang datang kepadamu. (Des. 11)

Demam film Soekarno. Setelah filmnya mulai terasa membosankan, tokoh utama akan kembali terlupakan. Mungkin inilah miniatur hidup: sesuatu yang menuai kebosanan, akan terlempar oleh sesuatu yang baru. (Des. 11)

Terkadang selalu datang keinginan untuk meninggalkan kerumunan orang dan pergi ke suatu tempat yg tiada seorang pun kecuali aku beserta rerumputan dan pepohonan. Tiada suara kecuali suara daun dan ranting yg jatuh dari pohonnya, suara burung2 pagi dan sore hari. Tenggelam dalam semesta, memasuki dimensi lain dari kehidupan dan merangkak menemui pemilik semua. (Des. 10)

I saw my Lord with Eye in my heart. And I said:”Who are You?” He said: “You”. It’s You that I see in everything; and I don’t see You through anything, but You. You are the One Who owns all places. And yet no place is You. If there were a place given by You for the place, that place would know where You are. I understand everything, and everything that I see in my annihilation is You. (Des. 9)

Aku pikir begini saja: kau pergi aku tetap disini. Pergilah bersama hewan buas, tajam taringnya, menganga mulutnya. Hati-hatilah di pertengahan jalan, jangan sampai kau ditikam, apalagi dibuang. Sedang aku tetap disini, menanti yang lain datang, semoga menetap disini. Aku ingin tanya padamu, gubuk yang telah kita bangun, bolehkah aku hancurkan? Sebab gubuk telah rapuh, khawatir terseok angin malam. Selamat jalan. (Des. 8)

Ketika aku sampai disana, disana menjadi disini dan akan muncul disana yang lain. Ketika aku merasa disini, maka aku telah sampai disana. Ada disini selain disini yang disana; dan ada juga disana yang lain yang aku anggap disana adalah disini. Sebab disini adalah hasil dari disini yg lain yang disebut disana. Dan sekarang aku menuju disana yang kembali disini. (Des. 8)

Selalu terbayang. Sulit menghilang. Harus dengan apakah aku hiraukan, suatu ketika yang telah kita susun. Hidup bukan menghadapi kenyataan; melainkan menghadapi yang belum diketahui. Dan hidup bukan kebersamaan; melainkan kesendirian, dalam suka dan duka, dalam kejujuran dan kepura-puraan. Aku hanya tahu aku. Selain diriku adalah angin lalu. (Des. 7)

“Power corrupts”. Ini pepatah kaum British, nampak putus asa. Akankah Indonesia mengadopsi pepatah yg sama? Ah, tidak, jangan putus asa! Kita tunggu saja seseorang yg akan muncul sebagai ksatria. Atau mungkin kita sendiri yg harus turun. Kita punya apa? Nekad itu konyol. Tapi nonton saja sama dengan penjahat. Kita punya harapan. Ya, harapan. Harapan sama dgn menonton? Bisa jadi. Aduh, bagaimana ini? Aku tak tahu. (Des. 6)

Socrates sudah tiada. Racun homlock tega merenggut ajalnya. Syuhrawardi sudah pergi. Tiang gantungan rela mencabut nyawanya. Mereka hidup benar2 untuk menjemput mati; Bukan sebagai pengecut, melainkan sebagai pemilik teguh kebijaksanaan. Sedang aku siapa, tak makan sehari saja gundah tak karuan. Aku masih jauh, bukan siapa-siapa, selalu mencari lubang pelarian dan menjadi keledai dungu yang takut kehabisan nasi. (Des. 6)

Ingin ku teguk semua pengetahuan. Tapi sayang, wadahnya terbatas. Maka aku teguk saja “cinta” biar mati dalam cahaya, seperti laron-laron kecil yang terbang saling mengejar, mengitari cahaya lampu sampai akhirnya terjatuh lalu mati. (Des. 5)

Tanpa luka bagaimana aku bangkit. Tanpa air mata bisakah aku tertawa. Hidup kini bukan penundaan, yang menahan karang dari cengkraman ombak, yang menutup rambut dari belaian angin, yang menghempaskan rayuan bunga mawar, yang melempar nasib ke dalam lamunan. Mungkin esok aku kembali, bermain bersama ajal, memasuki ketiadaan seperti dulu. Aku adalah ketiadaan pulang menjadi tiada. (Des. 4)

Tuhan, mana mungkin ada yang lain selain diri-Mu. Maka ku pasrahkan semuanya pada-Mu. Engkaulah Kebenaran, aku akan berlari mendatangi-Mu. Jika kaki ini berat untuk berlari, aku akan datang dengan berjalan. Jika berjalan masih cukup susah, aku akan datang sambil merangkak. Jika merangkak pun aku tak mampu, apakah tega Kau melihatku demikian? (Des. 2)

Selama tak ada pertemuan, tak kan pernah ada perpisahan. Sebab pertemuan adalah awal dari perpisahan, dan perpisahan adalah ujung dari pertemuan. (Des.1)

Aku tidak percaya sedikitpun apa yang dikatakan seorang politikus kecuali aku percaya bahwa dia sedang berbohong. (Des.1)

Satu2nya solusi untuk membasmi koruptor adalah dengan mewajibkan setiap warga negara menjadi koruptor. (Des.1)

Jika semua orang menyalahkan koruptor, dengan sepenuh hati aku akan membela para koruptor. Kau tahu hai para Intelektual, koruptor lahir sebagai reaksi atas kehancuran bangsa, maka hancurkan sekalian untuk lahir generasi baru. Bukankah itu lebih baik? (Des.1)

1 adalah bilangan tanpa batas. Ia awal sekaligus akhir, yang semua angka selainnya adalah hasil penjumlahan darinya. Angka 3 adalah hasil dari 2+1 dan 2 hasil dr 1+1. Sementara 1 itu sendiri tak bisa dibagi lagi, sebab jika 1 adalah hasil 1,5+1,5 maka bilangan 1 yang ditambahkan menuntut dibagi kembali dan seterusnya sehingga menjadi ‘argumentum ad infinitum’. Satu adalah tunggal, esa, sederhana dan tak terbatas. (Nov. 29)

Hati adalah ladang yang subur. Benih apapun yang ditanam akan segera tumbuh membesar dan menjalar ke seluruh ruang dalam diri. Ladang subur yang terlepas dr penilaian, baik itu cinta, benci, iri, rendah hati..semuanya akan cepat tumbuh. Maka akal perlu merangkulnya, agar segala kehendak dan benih2 yg muncul bisa terkontrol dengan baik. Jika akal terabaikan, tindakan tak tentu arah. (Nov. 29)

Cuaca tak menentu. Dingin dan panas datang silih berganti. Tapi, kita adalah kehangatan. Serupa panas dan dingin melebur dalam segelas kopi sore ini. Walau harus ku akui, sejak kapan subjek menjadi “kita”. Sebab selalu ada yang hilang saat kopi mulai menyentuh ingatan. (Nov. 28)

Entah apa nasib hujan. Merayapi pohonan sampai ke tanah. Sesampainya disana, menuju ruang terendah. Sambil lalu meresap ke dalam tanah. Hilang. (Nov. 28)

Siang berteduh dibawah kipas, duduk manis di warung kopi. Pohon tak lagi rindang. Bising suara mobil, deru knal-pot memberi keringat tubuh. Beginilah Jakarta, kota jantung negara tanpa jarak antara satu lainnya. Depanku, ada motor melaju kencang dengan suara mirip terompet keras. Entah mau kemana dia, pikirku. Dikejar kebutuhan atau sekedar hobi saja. Obrolan tukang kopi siang hari, keluhan ekonomi, jkarta tak janji. (Nov.27)

Malam adalah dimana masa lalu menepuk pundakku dan masa depan tertutup kabut. (Nov.27)

The word “Allah” in Arabic is composed from “Al” and “Ilah”. We can translate Allah into english by “that God”. So the question, where’s God? It also remains us that all of human have known God in a priory manner. in other sense, although we don’t produce the proofs whether God exists or not, we have really knowledge by present within our self. To prove what I said, we can see unbelievers have a high moral character. (Nov. 27)

Betapa cepatnya aku menyalahkan sikap seseorang, sementara aku tdk tahu isi pemikirannya. Betapa mudahnya aku menilai pemikiran seseorang, padahal aku tak tahu kedalaman qolbunya. Dan bagaimana bisa aku menilai qolbu seseorang, sementara aku tidak siapa dia di hadapan Tuhan. (Nov.26)

Jika belum pernah mengenal, bagaimana mungkin km mengingat. Jika belum pernah mengingat, apa yang dianggap pernah km kenali sesungguhnya belum dikenali. Apa yang telah km kenali, ia adalah bagian dari atau km itu sendiri yang tercermin dalam sesuatu di luar dirimu. Sesuatu di luar dirimu adalah penilaian dari dalam dirimu. Saat kamu mengenali dan mencintainya, saat itu pula kau mengenali dan mencintai dirimu. (Nov.25)

Pertanyaan adalah tanggungjawab nalar dan pembuktian. Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul tiba-tiba dalam benak, berarti mengabaikan nalar. Jika nalar sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, satu-satunya hal yang bisa menujukkan identitas “manusia”adalah hati. Hati sangatlah subjektif dan membahasakannya memerlukan nalar, jika tidak, maka biasanya orang menggunakan bahasa sastra (puisi) yang bebas justifikasi di lua dirinya. (Nov.24)

Aku tak tahu apa nasib esok. Aku hanya tahu hidupku adalah milikku. Aku adalah awal dan akhir dari kisah yang sudah dimulai tiba-tiba, tanpa tawaran, tanpa pertimbangan dan tanpa pilihan sebelumnya. Aku suka mereka yang hidup berani, mengalir, positif dan bebas..tanpa haus akan pengaruh, tanpa dahaga ingin menguasai dan dikuasai. Kita adalah matahari yang akan berhenti bersinar di lembaran kisah terakhir. (Nov.23)

Melihat semua ini, aku heran. Ada orang yang mengaku beragama tp sikapnya menjauhkan dirinya dari agama tanpa virtuous religious. Ada juga pejabat yang berbicara ttg rakyat tanpa pernah mengenal siapa rakyat itu. Aku pikir bangsa ini harus melangkah mundur, memulai kehidupan dari hal-hal yang dekat dan sederhana sampai ke ruang yang lebih kompleks, agar setiap tangga diinjak secara teratur. (Nov.22)

Hati sederhana berharap yang sederhana, karena burung tak mampu terbang dengan sayap terikat. (Nov.21)

Setiap malam aku berharap bisa tidur sore-sore, minimal tidak lewat dr jam 11 malam. Kata orang aku harus lepaskan diri dari kopi dan buku2, tapi rasanya tidak mungkin. Kontradiksi, berharap bisa segera tidur sambil meminum kopi. Apalagi baca buku, bagaimana mungkin aku bisa langsung tidur setelah baca buku yg menuntutku merenungkannya. Keseharianku aneh, tapi lebih aneh kalau aku bisa hidup teratur. (Nov.21)

Indonesian people, commonly, say that being single is a choice, whereas the single (or “jomblo” as their own language) is fate. But, I’m as one of them exactly ‘jomblo’ either, and I’m saying that the single has been my fate. (Nov.20)

Semakin staminaku tak terkontrol, cepet lemas. Membaca, berpikir dan berdiskusi setiap hari membuat badan cepat capek. Dalam kebebasan terkadang muncul kerinduan pada keteraturan. Dan dlm keteraturan kadangkala timbul kerinduan pada kebebasan. Hidup ini sulit diatur, atau malah aku yang sulit di atur. Tapi setidaknya, buku2 mampu menjadi lubang pelarian (fading hole) dari kerasnya hidup yang menjadi-jadi. (Nov.20)

“Masih perlukah ber-Tuhan?” pertanyaan ini hampir lama dianggap punah. Namun, belakangan telah muncul atheisme modern yang memunculkan kembali persoalan tersebut dengan ‘sengatan baru’. Salah satu tokohnya, Richard Dawkins (selain itu ada Harris dan Hitchens), menulis buku yang berjudul “The God Delusion’. Dari judulnya kita bisa melihat kesimpulannya, bahwa Tuhan hanya delusi manusia, dan keimanan adalah penyakit kekanak-kanakan. (Nov.17)

Malam minggu dengan harapan dan do’a sederhana. Harapan yang selalu tumbuh diantara tebing-tebing spekulasi, merangkak naik menuju ruang yang kosong. Dan, do’a yang entah hinggap diantara puing-puing luka yang mulai mengering, atau terdampar di perbatasan waktu: sekarang, titik, masa depan. Maka, aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan yang seluruh asma-Nya terlimpah dalam diri seorang Muhammad. (Nov.16)

Malam ini aku bertemu dengan Muhammad. Tiba-tiba aku berada di tengah diskusi antara Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib. Ali berkata kepada Umar;”Laqod kafar alladzina amanu.” Kira-kira artinya:”Sungguh telah kafir orang-orang yang beriman. Aku benar-benar gak paham maksudnya. Setelah itu Umar pergi, dan Ali menghadap ke Muhammad. Mereka (Ali dan Muhammad) ngobrol sebentar sebelum akhirnya Ali juga pergi. Kini tinggal ada aku dan Muhammad. Entah kenapa, tiba-tiba dengan suasana tegang dan mengharukan aku bertanya kepadanya:”Duhai Kekasihku, sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini?” Beliau tidak menjawab. Beliau hanya berdiri dan menengadahkan wajahnya ke langit, melihat matahari yang nampak jelas sekali. Diangkatlah tangannya untuk berdoa. Aku tidak paham apa yang dipanjatkan olehnya. Kemudian Beliau duduk di atas kursi yang tidak begitu bagus. Aku melihat bekas sobekkan di kulit kursi itu. Beliau duduk santai, lalu tersenyum dan tangannya melambai-lambai ke arahku, seperti mengajakku mendekat. Aku mendekat dan Beliau menyuruhku merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Ya Allah, sangat syahdu sekali. Semakin rindu kepadamu, Muhammadku. (Nov.15)

Dari pagi ke siang. Siang ke sore. Sore ke malam. Malam kembali pagi. Menunggu kapan mati. Pada masa depan yang terus menganga, melahap setiap tamunya. Sebab, selalu ada yang tak mampu dipahami oleh akal dan pengalaman. Hanya ada satu sabda: kau harus kembali (Nov.14)

Hidup itu pilihan. Tapi ada satu hal yang mau-tidak-mau harus kita pilih: kenyataan bahwa kita berjalan menuju kematian. (Nov.14)

Mayoritas bukanlah kebenaran. Tidak ada demokrasi dalam pemikiran, agama dan keyakinan. Maka yang dibutuhkan adalah kesadaran berbangsa dan bertanah air satu, tanah air tanpa diskriminasi dan penindasan terhadap minoritas. Inlah Indonesia, negara berperadaban, sejak nenek moyang yang hidup dlm keharmonisan dan nilai toleransi yang luhur. (Nov.13)

Malam selalu mengukir utopia. Tak ada kecamuk, tak dijumpai impuls. “Aktive Vergenszlichkeit!” Begitu tegas Nietszche. Kelupaan aktif, sebab tubuh dengan kaki menyentuh tanah; Barangkali manusia sadar, langit tak sedekat mata melihat. (Nov,12)

Setiap manusia memiliki kehendak yang sama sebagai afirmasi terhadap bisikkan yg datang dari suara hati, yaitu kehendak berbuat baik. Bisikkan tsb menjadi ‘keharusan’ yang jika manusia tdk mentaatinya maka ia tidak bermoral. Kehendak tsb dilakukan tanpa ada tujuan, pamrih, atau aspek2 psikologis lainnya. Dalam bhs agama ini disebut “ikhlas”. (Nov.11)

Bukan cinta jadinya jika tidak tulus. Bukan tulus jadinya jika masih berharap. Harapan muncul karena keinginan, dan keinginan lahir dari kehendak. Sementara kehendak baik dan buruk sama-sama berbahaya. Lalu apa? Kosong. Semuanya kosong, tapi dalam kekosongan semuanya nampak. Inilah cinta, inilah ketulusan, inilah kekosongan dan inilah kita. (Nov.11)

Maaf bukan penghapusan dosa, melainkan penegasan adanya dosa. Dari kata maaf, hidup dimulai kembali, berangkat lagi walau dengan luka dan trauma, dan juga harapan. (Nov.11)

Melihat cucian, seperti bukit. Satu dua ember sudah biasa, barangkali matahari siap membuatnya gosong. Aku pikir kenapa baju harus dicuci..ah, supaya bersih dan bebas penyakit, kata dokter. Mungkin kita, manusia, seperti cucian. Setiap melewati hari, kita dihinggapi kotoran yg menempel dalam pikiran, hati dan jiwa. Perlu dibersihkan, kata ustadz. Sholat saja tidak cukup. (Nov.10)

Kampus adalah dimana dia berjalan anggun sekali. Bertudung rapi, tersenyum pd keakraban, bercanda tanpa kepura-puraan. Cinta namanya, asli orang sini. Setelah jam makan siang, taman kampus tempat istirahatnya. Membaca buku Karl Marx favoritnya, dia suka. Tapi, suatu hari pernah, matanya menatap kosong bunga di taman. Ah, aku khawatir jadinya. (Nov,10)

Sore ini, mendung. Awan hitam bergerak dari segala arah menutupi cahaya, angin kencang berputar menyentuh pepohonan. Jakarta, dipayungi gelap. Sementara terdengar suara-suara anak kecil melantunkan salawat dari arah menara mesjid tak jauh dari tempatku. Aku melihat ragam gerakan yang teratur, harmonis dan bahu-membahu. Tak ada yg diam, semua berjalan dr satu titik dan kembali pd satu titik. Allah.(Nov.9)

Sungguh tulang punggung yang masih perkasa, menggendong dua tiga buah melon. Menyusuri trotoar pejaten, mencari rezeki, adakah orang yang mau membeli. Usianya tdk muda lagi, nenek dgn wajah penuh kerutan masa lalu dan kening yang nampak terang terkena panas matahari. Anehnya, dia msh tersenyum sambil menawarkan buah. Tuhan, itulah Kau? Kataku. (Nov.9)

Manusia pada dasarnya tidak bisa terlepas dari “keharusan” yang dibentuk oleh kehendaknya sendiri. Keharusan tsb muncul dari “kehendak baik” yang secara fitriah tertanam dlm diri manusia sejak dilahirkan. Maka, manusia yg ber-“etika” bisa disebut manusia yang mengikuti bisikan-bisikan nurani yang bersifat suci/fitri. Lalu menampilkannya secara konsisten. (Nov.9)

Tuhan, Kau bukan kabar dari keluh. Pada batang pohon yang berubah warnanya, menjadi coklat kehitam-hitaman, menempel diantara helaan nafas pohonan. Apakah ia sedang menjemput ajalnya? kataku. Kalau enggan jatuh terkoyak, selama kuat bertahanlah sudah. Kalau mati, menjadi tak berarti, tinggal batang dengan daun yang siap membusuk. Siapa peduli, Tuhan? Aku dan dia, debu terlempar waktu, seolah pernah hidup disini. (Nov.8)

Tak pernah terpikir oleh ikan memanjat pohon yang menjulang tinggi. Tak pernah terbesit oleh burung menyelami kedalaman laut. Tapi manusia, menginginkan segalanya, memikirkan segala yang mustahil, merindukan ketidakterbatasan: laut lepas, tumpukan harta, jabatan tinggi, cinta yang abadi. Manusia terdorong untuk mendekati yang tak terbatas, dlm dirinya ada ruh ilahi yg merindukan perjumpaan dgn pemilik bayangan. (Nov.7)

Daun beguguran terlempar angin sore ini. Inilah pesannya. Perubahan dan ketetapan terjadi dalam satu ketika. (Nov.7)

Ada orang yang mau tahu dan ada orang yang tak mau tahu. Orang yang disebut pertama sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan, sementara yang kedua tenang dalam ketidak-tahuan. (Nov.4)

Someone has told me,”be careful with your mind!,” I smiled and said,”be careful with your words.” It was very fun, like cracking a joke in front of audiences. Ones sometimes want to be advisers without looking back at them self. We would rather laugh together over the words we said than listening and advising. (Nov.3)

Pulanglah Nak, malam sudah bertemu pagi, pintu rumah masih terbuka. Jangan terlalu keras nanti membuka pintunya, khawatir bapakmu bangun. Pulanglah Nak, malam sulit bersahabat, nanti badanmu sakit lagi. (Nov.3)

Kesimpulan-kesimpulan rasional rasanya menuntutku untuk selanjutnya menyaksikan secara bathin. Ada semacam kesia-siaan, kalau saja mendekap realitas sambil mengenakan pakaian logos. Ah, mungkin sementara biarkan saja aku dikurung kerangka seperti itu. Hingga pada gilirannya, suatu saat, aku tahu apa yang mereka saksikan dan mereka saksikan apa yang aku tahu. (Okt.30)

Tenggelam dalam keragaman, lupa akan kesatuan. Kesatuan disimpan di pojok-pojok kesadaran filosofis, lambat laun menjadi warna yang aneh dan tak bermanfaat. Sepertinya, orang sudah tidak mau tahu apa yang menjadi prinsip/dasar bagi seluruh realitas, karena yang terpenting adalah menikmati ruang-ruang partikular. Kenapa ini bisa terjadi? Aku tak tahu, bisa jadi aku keliru melihat kondisi ini. (Okt.25)

Aku buruan akal, melarikan diri tertembak, mati . (Okt.22)

Aku melihat ikan dalam kolam. Ia bergerak dari satu sudut kolam ke sudut lainnya, sesekali ia muncul ke permukaan. Begitu terus setiap hari. Lalu apa? Ya, aku pikir, ikan tetaplah ikan, ia tak pernah bertanya hakikat air sebagai dunia dimana dia hidup. Melihat itu, aku jadi menebak-nebak, bisa jadi ada juga manusia yg hidupnya seperti ikan. Bergerak dari pagi sampai malam, tanpa pernah bertanya apa hakikat hidup. (Nov.21)

Seharian di kamar, kecuali hanya mencari makan. Kata orang aku ‘statis’, tak ada kegiatan sama sekali. Ah, bagiku tak ada yang diam, semua entitas mengalami gerakkan. Itu niscaya, ditolak maupun tidak tetap saja semuanya bergerak. Hanya saja, disayangkan, banyak orang yg sibuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, sementara akal dan spiritualnya disitu-situ saja.  (Okt.20)

Malam sabtu meringis, kopi hitam tanpa gula, rokok satu dua saja. Aku benci kondisi ini. (Okt.18)

Aku pikir, setelah tahu dasar, yang harus aku lakukan adalah penyaksian bathin. Biar tahu jadi aku, aku melebur bersama tahu. “Segala ingin berbicara!” Katanya. Makin tenggelam, semua sama, kecuali sumber dan tepi cahaya paling dangkal. Kalau aku mampu beranjak ke ruang lain, aku tiada. Aku serupa bayang-bayang saja dari perintah pemilik cahaya. Harus aku pasrah, sambil lalu menikmati segala syukur. Harmoni. (Okt.18)

Ini malam semakin kaku. Dari gelap ke dingin. Dingin membeku. Menunggu cair jadi air. Aku bungkam kau datang. Aku datang kau menghilang. Serupa redup-redap cahaya jalanan pejaten raya. Aku tahu kita mau-mau. “Tak usah malu!” pintaku. Cinta hanya jalan tak berujung, rumah-rumah roboh disinggahi kebohongan. Tapi..ini kali jujur tak terbendung. Satu saja. (okt.18)

Aku tak berdaya di depannya. Akalku mati. Dia selalu hadir. Biar sekedar tanya-tanya kecil, aku tersungkur. Aku disumpahi teori, dicaci masa pencarian, tak ada lagi nyanyian rumus-rumus..tinggal diam tahulah sudah. Anjing menggonggong, angin berhembus, daun menari, aku rasa dang-ding melantun saja untukku. Kini hidup bersusur amini semua, aku yakin jadi maka jadilah. (Okt.17)

Urusan berikutnya belum usai, bagaimana mengatur porsi berfilsafat. Ataukah memang mustahil, ah bisa jadi. Pak, mungkin saya harus mengatur porsi kopi dan rokok terlebih dulu. Rasanya mustahil juga, wong otakku jalan dengan suntikkan kopi sambil mengepulkan asap. Hampir semuanya tidak beraturan kecuali jadwal kuliah yg mau-tidak-mau harus dimakan sampai kenyang. (Okt.16)

Tentang makna Cinta, aku belum tahu sepenuhnya, kecuali aku hanya tahu dia adalah sumber gerak. Apa yang disebut ‘kehendak berkuasa’ oleh Nietzsche digerakkan oleh Cinta yang sama, yaitu penggerak. Dan seperti apakah sejatinya penggerak, itu masalah lain. Dalam tradisi filsafat ada yang disebut ‘gerak paksa’ selain ‘gerak natural’ dalam trans-substansial. Cinta, barangkali, memasuki gerak paksa yg hadir seketika. (Okt,14)

Yang paling mudah di dunia ini adalah ‘menyalahkan’, sementara yang tersulit adalah ‘memperbaiki kesalahan’. Aku heran banyak orang yang anti dikritik, dan lebih heran lagi ada orang2 yang gemar mengkritik tapi alasannya itu-itu juga. Ada seorang filsuf, Voltaire, berbicara bahwa orang yg tak menerima kritikanmu adalah dia yg ingin menguasaimu lebih lama lagi. (Okt.13)

Sepertinya, kita harus segera berangkat dari logika tradisional dalam bahasa kausal yang berusaha memahami apa yang telah terjadi, menuju bahasa proporsional dan probabilitas. Oleh karena itu, dlm suatu urutan tertentu ‘p, q’ munculnya ‘p’ menjamin munculnya ‘q’ yang menyertainya atau muncul setelah itu (jika p, maka q). Setelah itu baru usaha menyadari ‘p’ dan ‘q’ berarti keadaan dlm dunia yg unik dan plural. (Okt.13)

Krisis identitas, berwajah ganda, membuyarkan kesadaran eksistensial. Begitulah ciri-ciri manusia yang lahir dari rahim modernisme. Padahal, ada hal yang tak bisa dipecahkan melalui kategori-kategori logis-matematis, yaitu ketika muncul manusia-manusia unggul yang turun dari singgasana kesatuan eksistensi menuju medan ke-apa-an. (Sept.10)

Belajar untuk mendengar itu sulit. Padahal, dengan mendengar mungkin kita bisa mendapatkan pengetahuan baru dari pada berbicara yang hanya mengulang apa yang kita ketahui. (Sept.9)

Masih mencari sebab keterlemparan Dassein, being-there dari yang Satu (Das Man) sambil menikmati sejumlah fenomena pengada. (Sept.7)

Aku melihat seolah ada jarak antara realitas rasional dan realitas sebagaimana zatnya itu sendiri. Bagaimana aku meyakini kesimpulan2 logis merupakan atau sesuai dgn realitas zatnya? (Sept.3)

Mungkin kesalahanku selalu menoleh ke belakang sampai tak terasa hari sudah mulai gelap. Aku tak mengerti dengan kebiasaan ini, aku tenggelamkan diri pada masa tertentu dan aku sulit untuk kembali ke masa kini. “Maitres et posseseuors de la nature”, begitu tegas manusia modern. Tapi kenapa, kenapa manusia harus terlepas dari raganya sendiri sebelum ia mati terkubur tanah? Atau inikah sebuah opus terbaik manusia? (Agust.25)

Dua hari lagi menuju tanggal 27 temu rindu teman-teman kutu buku Diantara senggang waktu yg cukup lama barangkali yang paling dirindukan menikmati kopi hitam plus beberapa batang tembakau dengan posisi duduk melingkar sambil berdiskusi bebas Membaca buku menulis dan berdiskusi selalu melupakan kami ttg kerasnya hidup. (Agust.25)

Entah apa yg ada di dlm otak Nietzsche ketika berkata,”Platon itu membosankan!” Sempat aku heran, apakah Nietzsche enggan meneruskan perjalannya sampai ke puncak kesatuan, atau menganggap Platon cuma membuatnya kaku tak berdaya? Ah, aku ragu. Smntara ada desertasi yg menganggap si Pembunuh Tuhan itu pd dasarnya seorang mistikus, ini lbh aneh, tapi menggairahkan otak, semacam memaksakan logika menggubah aforismenya. (Agust.23)

Mungkin Heidegger benar, aku terlalu jauh berbicara ttg sesuatu yang mungkin akan atau tidak akan pernah aku alami. Sekarang aku ingin bertelanjang bulat, membiarkan burung2 mencabik-cabik semua bagian tubuhku. Oleh karena kebebasan harus dibayar mahal, maka hanya ada dua pilihan: aku harus menjadi gelombang banjir dahsyat yg merusak dan menenggelamkan semua eksistensi atau menjadi bahtera sebagai pusat eksistensi. (Agust.23)

Bagiku, pengetahuan evidensi yg tidak kalah penting adalah merasa diri di jalan yang benar; Tentu hal ini berbeda jika merasa diri paling benar, karena sama saja dgn menutup ruang dialog dan akan mudah menyalahkan orang lain. Belakangan ini muncul tukang debat dan tukang kritik, tapi masih sedikit yg mencari kebenaran, yaitu mereka menilai sesuatu tanpa syarat dan meletakkan diri dalam sikap rendah hati. (agust.23)

Aku kira, hanya ada dua kejujuran: Kejujuran bertindak dan kejujuran berkata. Dan yang lebih penting dari kejujuran berkata adalah, kejujuran berpikir. Seringkali apa yang aku tahu belum tentu benar dan apa yang yakini benar belum tentu aku tahu. Aku hanya tak ingin seperti Georgias (300 SM), yang menolak segala realitas termasuk dirinya, sehingga muncul baginya dua pilihan: ‘diam atau berkata bohong’. (Agust.22)

Sejauh ini, kesedihan hanya trjadi pada dua hal: Saat aku tak mampu memahami perkataan orang dan saat perkataanku tak bisa dipahami orang. Apa yang disebut alienasi diri nampaknya ada dalam diriku dlm waktu yg cukup lama. Aku merasa hanya Tuhan yg mampu memahami, tapi sifat bengalku terkadang membuatku selalu memberontak, menolak dan mempertanyakan kembali semuanya. (Agust,22)

We must think things not words, but all of things may never be known without words, so that why I say the reality is words its self. At least we constantly translate our words into the facts for which they stand, or we really mean the facts as the words. Moreover we keep it to the real and true of course. (Agust.21)

Cinta memang tidak mengenal siapa yg harus dikunjungi, Martin Heidegger (35thn) dengan Hannah Arent (18thn), mereka menjalin hubungan cinta secara rahasia hingga peristiwa ini dikenal dgn istilah “Perselingkuhan dua filosof besar”. Heidegger sering menulis menulsi puisi untuk Hannah Arent, lalu menyebutnya sebagai “die passion seines lebens (gairah hidup). Cinta, memang aneh dan mengasyikkan. (Agust.20)

Saya mengajukan sebuah pertanyaan yg tidak penting, kenapa anda saat ini berada disitu? Ya, disitu, duduk di kursi sambil membuka lap-top atau handphone. Sejam yg lalu mungkin anda tidak berada disitu, tapi disana di tempat yang anda sendiri tak sadar kenapa anda berada disana. Mungkin, setiap hari, kita selalu berada di satu tempat yg terkadang kita tak tahu apa alasan akhir kita berada disana, disini atau disitu. (Agust.19)

Setiap hari, kita berangkat bekerja dan pulang sore atau malam hari. Rutinitas ini mungkin, akan terus berjalan sampai usia yg memaksa kita untuk berhenti. Dalam keseharian itu, kita seolah digerakkan oleh sebuah sistem yg mau-tidak-mau diterima sbg sebuah keharusan dalam hidup. Pada glirannya kita serupa robot yg bergerak dgn sendirinya mengikuti instruksi. Lalu, siapakah kita sebenarnya? (Agust.19)

Manusia meyakini dirinya lebih mulia dr makhluk lainnya, karena mampu berpikir. Batu, tdk mampu berpikir, lalu manusia mengatakan ia hanyalah benda mati. apakah penilaian ini benar2 objektif? karna, tentu saja, batu tdk berbicara layaknya manusia. Kita mungkin brkata, batu berpikir pd dirinya sendiri:..dimana? di salah satu bagiannya? bagaimana kita tahu? apakah berpikir sejenis dg berbicara? Biarkan batu berbicara. (gust.19)

Aku pernah bermimpi, suatu saat ada satu tempat ibadah yang disediakan untuk semua agama. Semua corak dari berbagai agama menghiasi dekorasi, mulai dari dinding yg dihiasi kaligrafi arab, lafaz Allah, photo yesus, lukisan Budha dan patung dewa-dewa. Setiap detik tempat itu akan ramai dikunjungi dan setiap orang bisa saling mengenal, bersahabat dan membangun keharmonisan. Satu tempat ibadah untuk semua agama. Indah. (Agust.18)

Tuhan, maafkanlah kami yang tak pandai bersyukur, padahal dari mana semua ini berasal selain dari-Mu. Tuhan, jagalah kami dari segala kesimpulan yang salah dalam memaknai kehidupan, kesimpulan yang seringkali menutup mata kami untuk melihat kebesaran-Mu. Tuhan, hadirkan cinta yang sesungguhnya dalam hati kami, hingga kami senantiasa berada dalam kebahagian bergaul sesama manusia dan beribadah kepada-Mu. (Agust.18)

Tak sengaja, aku melewati sebidang tanah yg berukuran cukup luas, tak ada bangunan di atasnya kecuali pepohonan karet yang nampak berbaris. Di depan tanah yg menghadap ke jalan terpasang papan tipis bertuliskan “Tanah Ini Milik Negara”. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya dlm hati, kapan negara memilikinya? Apakah tanah itu hasil merebut dari orang lain lalu dimiliki? Milik siapakah tanah ini sebelum dimiliki manusia? (Agust.17)

Semakin filsafat berpengaruh, semakin tak terlihat. Ia mengisi ruang2 kesadaranku. Ia mencakup segala hal yang ada dalam mental pemikiranku. Ketika filsafat telah mencakup semuanya, bagaimana bisa aku keluar? Ia menentukan apa yg harus aku pikirkan dan bagaimana aku berpikir. Dan terkadang, ia tdk menyediakan alternatif dlm berpikir. Aku dibiarkan bebas dgn jalan yg telah ditentukan. (Agust.17)

Selamat Ulang Tahun, Indonesiaku. (Agust.17)

Kau yang selalu tergores, usah kau lupakan kain pembalutmu, dari si apa ia berasal, dari mana ia berangkat. Layang-layang tak selamanya terbang temani senja, ia sesekali terputus, angin membawanya entah kemana. (Agust.17)

Bila tiba satu masa: wajahku layu, kulitku mengerut, gigiku remuk, punggungku membungkuk..masih adakah alasan kau mencintaiku? Rumi menampik, alasan tiada karena, serupa burung dengan dua sayapnya..semakin kokoh sayap membawa terbang sampai puncak, tiadakah kau merindukan asal dimana kita mulai terbang? Di atas rumput hijau aku berungkap, kau senyum bunga merekah..tak usah terbang, kita disini saja. (Agust.16)

Hujan mengguyur, petir bergemuruh, dingin menyerang, selimut tiada. Masih ada kopi panas, di atas meja. Melihat ranai hujan makin menderas di luar jendela, basah rerumputan, licin pohonan, dedaunan bergerak karuan. Pada siapa kata-kata ini disampaikan, sedang dengan dingin kenapa harus berbagi. Pada cinta yg masih basah, terlempar sayup ke hilir desa. (Agust.16)

Mereka perang saudara, aku disini perang lawan nyamuk. Nyamuk-nyamuk terbang mengelilingi telinga, terdengar serupa kereta di stasiun. “Ngiung..ngiung,”katanya, artinya minta darah. Nyamuk masih manusiawi, meminta darah barang setetes. Sementara mereka bertumpah ruah, banjir darah, miliaran tetes. “Hai nyamuk, kasih tau mereka!” (Agust.16)

Banyak yang berteori sedemikian rupa untuk menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan bangsa, namun berhenti berkata-kata saat seseorang bertanya,”Apa yang telah kau lakukan untuk perubahan Negri ini?” Saya pikir, tindakan yang kongkrit untuk ikut serta dalam membangun kemajuan cukup dengan bersungguh-sungguh dalam bidangnya masing-masing. Mahasiswa, belajarlah dengan fokus hingga mendapat ilmu yang banyak. Pengusaha, bekerjalah dengan semangat hingga mampu menampung pekerja lebih banyak lagi. Ibu-Ibu, berusahalah menjadi istri yang setia bagi suami dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Inilah tindakan kongkrit. (Agust.16)

Konfrontasi tiga arah, mesir berdarah. Sempat heran, mengapa sesama muslim bisa saling membunuh sampai memakan korban lebih dari 600 orang? Padahal pemimpinnya sendiri, Muhammad, telah menegaskan tidak diperbolehkan atas pembunuhan sesama muslim. Lagi-lagi alasan membunuh cukup klasik,”Mereka bukan muslim.” Tapi, masyarakat tidak bodoh, perkelahian theologis dan idiologis bukanlah sebab fundamental. Ini tentang masalah KURSI dan PERUT yang digerakkan oleh strategi politik. (Agust.16)

Kalau kita sepakat definisi kebenaran adalah koherensi dan korespondensi, dua itu saja, maka pidato SBY pagi ini ‘jauh api dari panggang’. Teknik pidato yg berkelahi dengan kejujuran menggambarkan realitas nampak dalam isinya. Toleransi, memberantas angka kemiskinan, keterlibatan internasional dihitung melalu persentasi yg entah dengan ukuran apa. Kasus sampang saja, misalnya, akan menutup kalimat kemajuan toleransi. (Agust.16)

Kalaulah mataku buta, masih bisakah aku katakan kau berparas cantik? Kecantikanmu sebatas kedua titik bola mataku. Dalam ‘intorduction an empirism”, ketika manusia memandangi sesuatu di luar dirinya, kemudian gelombang elektro-magnetik memberikan penampakan yg mengatarkannya menuju sistem kerja mata lalu diproses oleh pikiran. Saat masuk dlm pikiran, objektivitas lenyap. Kecuali mata yang memotret sebagaimana adanya. (Agust.15)

“Tidak ada yg namanya fakta,”kata Nietzsche,”semuanya merupakan interpretasi” (From Nietzsche’s Nachlass, A. Danto Translation). Jika demikian, kita bisa bertanya, adakah yg disebut objektif itu? Saat kita melihat kopi dalam gelas berwarna putih, adakah kopi dalam gelas yg lengkap dgn warna dan coraknya hanyalah produk interpretasi yang jauh dari kesesuaian secara riil? (Agust.15)

Sebenarnya apa yang dipahami tentang ‘nasionalisme’? Ada orang yang memakai baju bergambar bendera amerika, lalu orang2 mengatakannya ‘tidak nasionalis’. Ada juga yang mengkonsumsi produk import, lalu disebut2 tidak memiliki jiwa ‘nasionalisme’. Bagaimana dengan mahasiswa yang mempraktekkan teori2 barat dlm politik, sosial, ekonomi dan filsafat, apakah mereka tidak nasionalis? Redefinisi sepertinya perlu. (Agust.14)

How can free will exist? We call this as the dilemma of determination. We don’t know our life is controlled by external influence, that’s all we have. Philosophers and also some scientists have been debating for this question. The condition must never be solved before we have the true definition of what we called ‘determination’ and ‘indetermination’. (Agust.10)

There are 8 philosophical questions that we hard to solve: why is there something rather than nothing? Is our universe real? Do we have free will? Does God exist? Is there life after death? Can we experience anything objectively? What’s the best moral system? And the last, what are numbers? Whereas we can find the difficult question in islamic philosophy, what’s the fundamental of reality? Existence or whatness? (Agust.10)

Arus balik, momentum besar-besaran urbanisasi masyarakat desa ke kota. Jakarta akan semakin padat, sesak, macet dan angka kriminalitas naik. Undang-undang desentralisasi masih sebatas konsep, tak menyentuh persoalan, faktanya tetap saja pembangunan berpusat di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Tak ada larangan urbanisasi, Rakyat hanya mencari penghasilan dan pergerakannya diatur oleh sumber ekonomi. (Agust. 10)

Mobil, alat transportasi menuju suatu tempat. Akal dan hati, alat transportasi menuju sesuatu yang tak bertempat. Ketika alat transportasi mengalami kerusakan, perjalanan akan semakin lambat dan jika sampai mogok parah, bisa jadi perjalanan terputus. Dalam perjalanan, terkadang melihat kebun yg indah dan tak jarang melihat padang gersang. (Agust.9)

Tembus pandang, sekali mataku memandang langsung tembus ke tengkoraknya. Ternyata semuanya hanya tulang terbungkus daging. (Agust.9)

Yang tdk punya tdk mungkin memberi. Kosong tak mampu mengisi. Gelap tak pernah memberi cahaya. Tak meruang tak mungkin memasuki ruang. (Agust.9)

Tuhan, serasa sebentar Ramadhan ini, tinggal tersisa satu hari saja. Betapa bodohnya aku, betapa durhakanya aku, apa yang aku lakukan selama Ramadhan masih dipenuhi kepamrihan, keriyaan, kesombongan dan hasud. Sekarang, Ramadhan akan melambaikan tangannya, betapa aku menyesal. Bulan yg penuh berkah, aku isi dgn kegiatan sia-sia, tanpa membersihkan hati. Tuhan…ini aku, aku pasrah. (Agust.7)

Next campus, McGill University of Canada. TOEFL target up to 550 and IPK 3,9. Now or never. (Agust.4)

Nostalgia terlalu lama membuat penyesalan semakin membengkak dan akhirnya menyalahkan masa lalu, padahal masa lalu adalah salah satu hal yang takkan pernah bisa dirubah. Seperti mengendarai motor atau mobil, hanya sekali-kali saja melihat kaca sepion untuk melihat belakang, tapi fokus yg lebih utama adalah melihat ke arah depan. (Agut.4)

“Setiap orang bebas mengemudikan kapalnya, tapi hanya seorang kaptenlah yang menentukan arahnya.” ~Jack Sparrow, dikutip dr film ‘jack Sparrow’. Masalah kepemimpinan dilihat bukan persoalan gelar, pangkat dan tingkat pendidikan tinggi. Tapi kepemimpinan adalah soal pengaruh, dan pengaruh tak bisa dimandatkan. (Agust.2)

Paling mudah adalah membuat kesalahan, yang paling sulit adalah memperbaiki kesalahan dan yang celaka adalah tidak mengakui kesalahan. Mengakui kesalahan berkaitan erat dengan kejujuran, baik kejujuran intelektual dan kejujuran intuitif. Semoga Allah membimbing kita untuk selalu jujur dan selalu memperbaiki kesalahan, karena tidak memperbaiki kesalahan adalah kesalahan berikutnya. (Juli.31)

Sudah lama ku tunggu pagi secerah ini, akhirnya tiba juga. Sejenak menyimpan rutinitas yang seringkali membuat kenyataan meniada, kini akui saja pagi ini ada. Eh, aku tiba-tiba melihat debu tersapu angin di halaman rumah, lalu aku berpikir apa enaknya jadi debu yang tak punya kebebasan, geraknya tergantung pada angin. Menempel dimana angin berkehendak.  (Juli,28)

Sebelum berprasangka baik (husnudzon), seseorang terlebih dahulu harus memahami apa itu “baik”. Sebelum memahami “baik”, dia harus terlebih dahulu memilih pendekatan (metodologi) apa yang akan digunakan untuk menemukan makna “baik”. Kenyataan bahwa apa yang dimaksud baik oleh satu orang tidak selalu sama dengan orang lain maksudkan. Dari sinilah, seharusnya kita selalu membuka adanya kemungkinan-kemungkinan. (Juli,27)

Akan tiba suatu masa ketika diri ini merasa lelah dalam pencarian dan hanya memasrahkan segalanya kepada Yang Maha Mutlak. Bukankah itu yang disebut muslim? Pasrah kepada kebenaran, al-Haqq, Kebijaksanaan, Cinta dan ketundukkan. Atas dasar ketidakmampuan diri untuk memahami segala sesuatu, maka semakin menyadari ketidaksempurnaan diri.  (Juli,26)

Terus terang aku masih termangu di pesimpangan jalan, antara ketundukan dan pemberontakan. Aku hanya ingin cinta bukan hanya kata, melainkan rasa. Akhir-akhir aku khawatir, aku hanya pura-pura, mengutip sabdaMu disana-sini, sedang aku masih memilih jalan untuk pulang. (Juli,22)

I hope I have not been leading a double life, pretending and being really good all the time. That would be hypocrisy. I’m me nothing more, you only know what you see from me even trying to conceive the deep of my self. There are many thoughts that I can never say to you. (Juli,21)

Anaking, hidep geus nincak mangsa dewasa, omat olah kagoda ku hawa dunya nu kadang mawa binasa. Bapa sareng emak teu boga warisan benda pohara, teu boga tanah nu lega, komo deui emas permata. Bapa sareng emak ngan gaduh do’a sangkan hidep hirup waluya dibeungkeut ku iman jeung taqwan bekel hidep engke di surga. (Juli.21)

I think if the people hold a referendum, they can decide for them selves to become free. Because when the people wanna do something, they will find away of doing it. (Juli,19)

Dari waktu ke waktu, kita, rakyat, dibombardir oleh segala informasi. Semua informasi kita terima masuk dalam memori; tentang gossip, tentang pembunuhan, tentang pemerkosaan, tentang korupsi, tentang banjir, tentang harga bahan pokok, dll. Tetapi, tidakkah kita merasa bosan dengan itu semua yang selalu berulang setiap hari? Kejadian yang sama, itu-itu saja. Sehingga, rakyat kita adalah kader-kader penggosip, pembunuh, pemerkosa, perampok, koruptor, dll. (Juli.19)

Melihat kondisi Indonesia saat in serupa Roman La Peste yang bercerita tentang sampar yang mewabah di kota Oran: Semua level sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Begitu membuka pintu rumah, Rakyat langsung menerima wabah dan menerima akibatnya. “Percuma, percuma, kalian tidak akan bisa melawannya! wabah ini terlalu perkasa… bisa jadi kalian yang mati duluan” (dalam “La Peste” (1947), hal. 174). Agaknya betul, kalau rakyat tak mampu melawan dan sering terkena wabah, lama-kelamaan terbiasa bahkan menjadi ritus harian. (Juli,17)

“Siapa kamu?” Pada satu level pertanyaan ini mudah, memperjelas diri, dekat, nyata dan familiar. Seseorang bisa dengan mudah menjawab,”aku adalah fulan bin fulan, tinggal di kota ini dan kerja di perusahaan itu.” Tetapi semakin kita mendorong pertanyaan ini lebih ke dalam, maka ia akan menjadi lebih misterius dan sulit dijawab. (Juli,17)

“Tidak Normal” itu memiliki dua sebab: Karena kemampuan seseorang melebihi kemampuan rata-rata manusia, atau karena kemampuannya dibawah rata-rata. Yang disebut pertama, tidak normal karena kejeniusannya; Yang kedua, tidak normal karena kekurangannya. Sementara orang yang hidupnya biasa-biasa saja, tak ada alasan yang menarik untuk mengetahui kisah hidupnya. (Juli,17)

Ini aku sering terjaga saat dini hari. Ketika yang tua tertidur lelap, yang muda asik bercinta. Entah, aku suka sepi ini: Meminum teh manis, menyulut sebatang rokok sambil lalu terbang bersama para filosof. Menyisiri Yunani sampai Nusantara kini. Tapi..aku belum bertemu kebenaran yang benar itu–merasa ini semua hanya halusinasi. Dalam impi aku melihat “Kebenaran dibawah tiang gantungan” (Juli,16)

Hidup ini pertengahan dongeng, semua manusia sedang membuat penutup. Kita tiba-tiba datang di pertengahan buku, awal tak tahu, akhir siapa tahu. Ada yang menumpuk harta melebihi sisa hidupnya. Ada yang beribadah sampai lupa anak-istrinya. O, dengan apakah ditutup? ‘Ku dengar bukan kita yang menutup, tapi dia yang tiba-tiba datang sebelum usai dongeng bercerita; Tentang aku, tentang kau, tentang mereka, tentang semua. (Juli,15)

Barangkali ini malam kaku saja, enggan disapa. Aku tak bisa tidur akhirnya. Kau ini hidup bukan hidup lagi. Ia bertanya kau diam saja. Ia terdiam kau tanya saja. (Juli, 14)

Setiap hari adalah janji. Janji dalam sebuah tragedi. Tragedi yang memperluas ruang syukur kepada Gusti semesta raya. Walau kepalsuan membalutnya dengan mimbar-mimbar kekuasaan, mengobar-ngobar damai dan kesejahteraan, tapi setiap hari tetaplah janji. Dan, semut pun tahu mereka tahu. (Juli,14)

Ada yang memilih menjadi domba untuk hidup puluhan tahun. Ada yang menjadi harimau walau terkepung jeruji dan mati seketika. Sementara, aku hanya ingin menjadi burung yang keluar sangkar dan terbang bebas mengitari hutan belantara mencari makanan untuk buah hatiku. Sangkar kecil memancarkan kebahagiaan yang luas, itu lebih baik dari pada singgasana yang meneror hati rakyatnya. (Juli,14)

Ranai hujan masih memberi dingin pagi ini. Semoga mendinginkan hati-hati yang penat, gelisah dan penuh amarah. Walau mentari tak menampakkan diri, ia tetap disana dibalik mendungnya awan itu. Salam damai Negriku, salam sejahtera bangsaku.  (Juli,14)

Aku melihat Negriku begini-begini saja. Kabarnya itu-itu saja. Peristiwa yang sama berulang dilain hari. Begitu terus. Entah sampai kapan. Aku gak tahu. (Juli,13)

Belum sempat berbicara, bayi itu dipaksa menanggung beban Negara. Kelopak matanya menyala-nyala sambil menangis mencari susu ibunya. Kiranya disini, ia tak pernah menunjuk Indonesia menjadi awal hidupnya, lalu tangan siapakah yang kuasa merubah masa. Tak lama ia belajar mengaji,”alif ba’ tsa!”, sambil cubit-cubitan bersama temannya. Siapa berani memberinya kabar, tentang akibat masa depannya sebab ulah manusia kini. (Juli,13)

Pasti kita lebih mengenal diri kita lebih baik daripada orang lain? Begitulah yang sering kita pikir. Namun kadangkala, dalam beberapa hal, kita juga mengklaim mengetahui orang lain daripada mereka sendiri sehingga penilaian demi penilaian bertaburan tak karuan. Apakah kau kira apa yang dia katakan adalah apa yang dia rasakan? Sunnguhpun demikian, kita tidak bisa menyelami kalbu seseorang. (Juli.12)

Kehidupan baik yang akan aku jalani. Jika aku terasing pada jaman ini, mengembara dari satu kota ke kota yang lain, dan selalu terusir! Karena aku benar-benar tahu akan hal itu. Kemanapun aku pergi, anak-anak muda akan mendengar pembicaraanku seperti yang telah mereka lakukan disini. Jika aku mengalahkan mereka, mereka akan mengadukan kepada orang yang lebih tua untuk mengasingkanku; dan jika aku tidak mau, ayah mereka dan teman-temannya akan mengusirku demi kepentingan mereka. (Juli, 10)

Melihat sesuatu sebagaimana dirinya. Ya, menarik. Memaksudkan diri untuk sebuah ‘aphoce’ tanpa dibubuhi kerangka-kerangka sebelumnya. Lihat saja seorang anak yang memandang kursi hanya sebagai tempat duduk, tak lebih. Bukankah begitu Husserl memberi pengantar pada fenomenologinya? betul dan mudah secara teoritis; tentunya, sulit secara praktis. (Juli.9)

Melihat dari sisi lain terhadap moralitas penguasa, melalui pendekatan yang dilakukan Friedrich Nietzsche, setidaknya akan ditemukan pemandangan yang amat kontras antara moral budak (Herdenmoral) dan moral tuan (Herrenmoral). Karena penguasa memiliki otoritas yang mengikat, superior dan adikuasa, maka ‘herrenmoral’ memandang bahwa apapun yang dilakukannya adalah baik. Berbeda dengan ‘herdenmoral’ yang berprilaku baik, lembut, simpati dan rendah hati dalam hubungan sesama mereka. Jika saat itu Nietzsche menuduh gereja sebagai pelanggeng moralitas budak sekaligus pembalik nilai-nilai (Umwertung aller Werte), maka saat ini bukan tidak mungkin fatwa-fatwa ulama dan redefinisi kebenaran yang terselubung menjadi “biang kerok” adanya moralitas budak tersebut. (Juli, 7)

Terkadang, hanya terkadang, aku melihat banyak orang yang mengutamakan keindahan puisi pada aspek irama dan bahasa; bukan pada pesannya. Pesannya hanya itu-itu saja: jika bukan merasakan alam dalam keheningan, maka berdendang ria sebagai bentuk kritik terhadap realitas sosial. Fungsi puisi telah digeser, menjadi seni bermain kosa-kata, bukan sebuah pesan dari kedalaman spirit yang sukar dibahasakan (inaffability) (Juli,5)

Menarik saat aku perhatikan apa yang dikatakan Jacques Derrida,”Ketika para filsuf,”katanya,”menemukan apa yang disebut kebenaran, sesungguhnya mereka hanya berharap apa yang ditemukannya adalah benar.” Tak diragukan lagi, sebagai pencetus teori Dekontruksi, Derrida bersikeras terhadap keyakinannya bahwa tak ada kesimpulan dalam kesimpulan. Tentu, hal ini mengindikasikan adanya proses tiada henti dalam mencari kebenaran. Dan, dari proses yang abadi inilah pengetahuan mampu berkembang sedemikian rupa hingga tiba pada pengakuan bahwa “Aku tidak tahu apa-apa.” (Juli, 5)

Sesaat setelah tiba di Purwakarta, ada suasana yang berbeda. Kesan-kesan baru yang penuh dengan simbol-simbol kultur yang ada. Di sepanjang jalan kota, terlihat lentera berbaris menyusuri trotoar-trotoar jalan. Sebagian dihiasi dengan warna-warni lampion. Tapi, semuanya itu menjadi tidak begitu indah saat aku melihat pengemis tertidur di samping jalan. Ada apa ini? Aku gak tahu. (Juli.5)

Aku meyakini, sejatinya, sedikit manusia yang membutuhkan kebebasan. Mereka hanya membutuhkan tuan atau penguasa yang adil dan mampu mengurusi rakyat. Kebebasan yang disebut-sebut “kelewatan” itu merupakan sebuah inisiatif yang memberi pesan bahwa “kami mampu mengurus diri sendiri.” (Juli.4)

Banyak orang yang menghapal istilah-istilah pengetahuan agar terlihat sudah tahu. Tidak sedikit orang-orang tertentu menyebut tokoh-tokoh hebat (semoga Allah meridhoi mereka) dan menjadikan kualitas argumentnya legitimed. Apa yang diharapkan dari itu semua selain secara sadar mengakui ke-tidak-tahuannya dan keluar dari realitas dirinya yang aktif dalam berhadapan dgn realitas. Filsafat adalah dirimu sendiri. (Juli.2)

si A dan B bersitegang, sempat juga mau saling pukul. Masalahnya sepele. Si A bilang rambutnya keriting. Si B yakin rambutnya lurus. Setelah dibuka kerudungnya, ternyata wanita itu tak berambut alias botak. Wah, sudah jangan berantem. Salah semuanya. (Juli.2)

Demi keagungan-Mu, Engkau terlalu kuat untuk dibela..maka untuk apa aku marah kepada mereka yang mengolok-ngolok-Mu. Aku tak ingin menjadi Rumi, tidak pula Atthar, aku hanya ingin menjadi aku yang terlibat kerinduan. (Juli.1)

Saat seseorang merasa sudah pandai, maka dia mulai menjadi orang bodoh. (Juli.1)

Tanyakan kepada mereka tentang satu hal: Masih adakah nurani yang bersemayam dalam hati? Kala memandang raut muka pejuang-pejuang kecil pergi ke ladang dengan punggung yang mulai membungkuk, anak-anak yang berusaha menahan air mata, ibu-ibu yang setiap hari berdo’a agar rumahnya masih berdiri tegak dibawah ancaman penggusuran dan angin kencang. Mengapa mereka tidak mengerti? Atau pura-pura tidak tahu. (Juni,28)

Tugas kita bukanlah menciptakan “kebenaran-kebenaran baru”, melainkan kita berusaha menyediakan kunci yang lebih segar dan sesuai dengan zaman. (Juni.26)

Tak usah bertanya kepada burung-burung tentang dalamnya lautan. Jangan paksa ikan-ikan berbicara tentang luasnya daratan. (Juni.26)

Banyak orang dicintai karena usahanya menjadi orang lain, dan banyak pula orang dibenci karena usahanya menjadi diri sendiri. Usaha untuk menjadi diri sendiri adalah proses kedua setelah tahu siapa diri kita sebenarnya. Tapi proses pencarian itu bisa lebih baik dari pada hidup dibawah ‘kepura-puraan’. (Juni.23)

I don’t even know why the people judge for each other without knowing the problem exactly. (Juni.21)

Here what I thought: we spread our power out for something useless. Let’s keep a record something, or make certain that we know what was happened and then we look up the value or the deep meaning on it. Just remember, what see is not what we know about. (Juni.21)

Ada yang bisa aku bagi; ada yang tidak. Yang pertama adalah cinta, yang kedua selainnya. Ada orang pergi mencari kedamaian, kasih sayang dan kebahagiaan dari satu tempat ke tempat lainnya; padahal semua itu ada dalam dirinya. Ada juga orang yang sibuk dalam kesunyian mencari makna dan rasa; padahal dalam keramaian makna menampakkan dirinya dan rasa menyelinap. Bukan aku telah mencapainya, tapi usaha adalah daya. (Juni.19)

Maka tak pernah aku menyesali daun kering yang jatuh di musim kemarau. Awalnya ia berupa pucuk, bergerak menjadi daun muda yang hijau nan cantik. Tapi daun tak pernah lupa, suatu saat tubuhnya akan mengering, berubah coklat sampai kehitam-hitaman lalu mati dan tersapu angin. Entah kemana ia setelah itu. Seratus tahun kemudian, tak ada satupun ranting pohonan yang tahu ia pernah lahir dan tumbuh. (Juni.18)

Komedi yang paling lucu dalam hidup ini adalah ketika melihat diri sendiri yang mudah tersinggung, marah dan membuat keputusan yang tak masuk akal. (Juni. 13)

Berangkat dari hal yang sama, berpikir dengan cara berbeda. Melihat gelas nampak merah dibawah cahaya terang, namun nampak merah kecoklat-coklatan dibawah cahaya redup. Keduanya benar dari cara dia melihat, dan keduanya adalah satu hal dalam dua pasang mata. Demikian, semua filosof bijaksana pada satu sisi dan tidak bijak pada sisi lain. Sisi yang terakhir menyentuh sendi-sendi yang telah dibangun oleh selainnya. (Juni, 8)

Aku berlari ke puncak keraguan, lalu berteriak,”Hai Kau yang ada disana, mengapa kepastian semakin menjauh? Seperti mutiara yang tenggelam dalam lautan, hilang dan tinggallah cerita!” Maka aku temui Descartes, semakin aku ragu. Aku jumpai Ghozali, tak ada yang pasti. Dalam kegelisahan, muncullah seekor burung bersenandung tentang cinta. “Ya, mungkin Cinta,”kataku,”dia tidak ada juga bukan tidak ada. (Juni, 8)

Selamat ulang tahun Bung Karno. Di atas keberanian dan kontroversimu, membawa Indonesia pada kemerdekaannya. Semangat “to Bulid world a new” yang kau teriakkan di hadapan dunia, masih berkobar di dalam nadi anak bangsa. Saat Kau bilang “jijik” pada imperialisme dan kolonialisme, kami meragukannya, tapi saat ini keraguan kami dijawab oleh keadaan dibawah bayang-bayang penjajahan yang lebih canggih. (Juni, 6)

“Bahagialah,”kata Tuhan,”orang-orang yang beriman dan beramal baik di jalan-Nya.” Beriman tanpa pembuktian rasional itu sulit diterima. Sebaliknya, rasionalitas tanpa ada sesuatu yang diimani itu mustahil. jikapun ada yang tidak beriman, maka pada saat yang sama dia meng-imani ketiadaan imannya. Karena itu, kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai melalui meng-aktual-kan seluruh potensi akal sbgmn definisinya. (Juni.4)

“Ibu pertiwi, tak usah bersedih lagi, ini kami masih ada untukmu. Anak-anakmu kini sudah mulai dewasa, walaupun terkadang kami bertengkar karena hal-hal spele. Kami mencintaimu Ibu, kau melahirkan kami disini, di rumahmu, di Indonesia. Pancasila masih ada, kami masih ingat, kami akan menjaganya baik-baik. Walau kadang kami tak tahu apa yang harus kami lakukan selain belajar memahami.” (Juni, 1)

Sains dengan kesimpulannya yang pasti, membantu kehidupan manusia dalam mengelola materi. Sementara Filsafat dengan corak pemikirannya yang spekulatif, membantu manusia dalam melampaui hakikat materi. Keduanya saling berinteraksi, mengisi dan mengungkapkan realitas. Sehingga yang dibutuhkan adalah menyeimbangkan keduanya. Sebab jika salah satunya mendominasi yg lain, maka dunia dalam ancaman. (Mei.23)

Barangkali akan lebih bijak jika menghukumi sesuatu dengan sesuatu itu sendiri; bukan dengan sesuatu yang lain. Karena setiap ilmu memiliki epistem dan metode yang mandiri dalam memandang realitas. Kaum eksistensialis dengan metodenya sendiri berbeda dengan kaum esensialis yang mengutamakan ‘penyaksian’ secara langsung. Walaupun sampai saat ini aku meyakini ada perbedaan dan kesamaan pada segala sesuatu. (Mei.23)

Sepertinya, mencari jati diri dimulai dengan menyadari eksistensi diri melalui pengetahuan representatif. Karena, Individu adalah bagian dari realitas eksistensial dimana limitasi masing-masing entitas dibedakan melalui identitasnya (taysakhhus). (Mei, 21)

Selalu ada yang sukar dipahami: tentang dua jiwa yang bercumbu dalam bayang-bayang tak menentu. Dengan apa semuanya harus dikatakan, sebab kata-kata hanyalah bingkai dari lukisan hidup. Aku hanya ingin merasakan, hanya itu. Biarkan salah-benar berkelahi saja dalam pribadi yang terbelah; yaitu pribadi-pribadi yang tak menyiram segala premis dengan ruh yang Maha Kasih. (Mei.20)

Dalam Part I ‘Discourse on Method’, Descartes menulis:”Tidak ada kebenaran yang dapat meyakinkan saya hanya melalui contoh dan tradisi.” Melalui ini pula ia mengajukan sebuah adagium terkenal yg merupakan ‘primum philosophicum’ darinya:”Cogito ergo sum”; I think, hence I am. Cogito sebagai hal yang apriori, lalu digunakan metode “kesangsian”. Dasar filsafatnya inilah yang kemudian berpengaruh sampai saat ini. (Mei.19)

Selamat pagi Tuhan. Selamat pagi Rosulullah, sahabat dan keluarganya. Selamat pagi tumbuhan: pohonan, dedaunan, bunga-bunga dan rerumputan. Selamat pagi awan, mentari dan langit biru. Selamat pagi burung2, ikan2, dll. Selamat orang-orang sholeh, selamat pagi para pekerja, selamat pagi para guru dan murid. Selamat pagi semuanya.. Do’akan aku untuk memecahkan teori ‘eksistensi konseptual’ hari ini. (Mei.13)

Inilah kisah dari kota yg mulai runtuh. Seorang ksatria melarikan diri dari tragedi; alih-alih menyusun kekuatan, ribuan manusia hangus terpanggang. “Kota ini sudah tua, mari kita lenyapkan semuanya!” Teriakkan itu terdengar sampai ke batas pengakuan si bayi yang baru lahir.”O, Tuhan manakah yg peduli dengan nasib kami,”Katanya. Seseorang berlari sambil berteriak,”Tuhan sedang tidur, jgn diganggu!” (Mei.11)

People may hate someone for being different and not living by society’s standard nor religion doctrine, but deep down, I think they wish they had the courage to do the same. Everyone has story, everyone has gone trough something that has changed them. So the different one is a necessary of life which causes to change the world. (Mei. 9)

Kuiditas yg berada di bawah dua kategori sebagai kritikan bagi adanya eksistensi konseptual telah terbantahkan. Pasalnya, kuiditas yang masuk ke dalam konsep bukanlah kualitas jiwa secara absolut; melainkan nisbi adanya. Karena ilmu dalam wilayah ini tdk memberi efek dimensional; kecuali hanya pengetahuan semata. Efek dimensional yg dimaksud adalah tidak berada dalam struktur derajat yg ada dalam hirarki substansial. (Mei.7)

Seperti katanya, aku hanya bisa “melangit” dan jauh dr kehidupan bumi. Tapi setidaknya aku tidak mencaci penduduk bumi sekalipun buruknya mereka. Aku hanya ingin katakan, dilangit tak ada untung-rugi seperti layaknya matahari menerangi hamparan tanah adam. Benar, setiap manusia memiliki kepentingan, dan kepentinganku adalah tdk berkepentingan. Karena cahaya begitu dekat, semuanya terlihat sampai babi di tenggorokan. (Mei.6)

Jika makna ‘kaya’ yang sebenarnya diartikan sebagai sebuah kondisi yg tidak membutuhkan apapun, maka setiap entitas yg membutuhkan sesuatu disebut tdk kaya (miskin). Manusia sebagai entitas dimensional, spanjang hidupnya membutuhkan sesuatu. Karena itu, tiada satupun manusia yg merdeka dlm makna filosofis. Manusia dlm istilah lain bisa disebut dgn makhluk berkebutuhan: tidak butuh ini tapi butuh itu, atau sebaliknya. (Mei.3)

Siapa aku sebenarnya, aku belum mengerti. Pernah ku jumpai James, dia hanya menjawab bahwa ‘aku adalah segala atribut yang melekat pada diriku, tak ada selainnya’. Terus terang aku belum puas, lalu ku datangi Rumi, dia berkata ‘aku adalah apa yang aku pikirkan, selainnya hanyalah daging dan tulang.’ Jika akulah yang aku pikirkan, maka siapakah aku, hai Rumi? Jika aku bukan siapa-siapa, maka aku hanyalah ‘apa’. (Mei.2)

Bagiku semua agama mempunyai ‘cinta’, tak terkecuali agama yg dibawa Muhammad. Tentang apa yang diyakini sebagai Tuhan, biarlah itu menjadi urusan individu dengan tuhannya masing-masing; tak usah mengusik apalagi mencaci. Aku hanya mendambakan suasana kehidupan yang harmonis, toleran dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Entah kapan hal itu kan terjadi, aku hanya berharap bisa menyaksikannya sebelum tutup usia. (April, 30)

Aku memang tidak saleh, tapi setidaknya aku punya kerinduan, kerinduan pada cahaya. Sehingga batinku mampu melihatNya dgn jelas, seperti memandang bulan purnama di keheningan malam. Dan, aku hanya ingin berjumpa dengan Dia yang mengisi segala realitas; bukan Dia yang hanya ada di mesjid-mesjid, di gereja-gereja dan di kuil-kuil. (April, 25)

Aku belum mengerti mengapa ada eksistensi konseptual yang berdiri dgn tiga argumentasi. Jika dikatakan bahwa substansi adalah wadah bagi semua aksiden, maka substansi yang dipersepsi di dalam konsep melazimkan sesuatu yang menggugurkan pengertian substansi (sebagai wadah). Karena justru, substansi itulah yang menjadi aksiden bagi konsep, sehingga dirinya membutuhkan wadah (bukan sebagai wadah). (April, 24)

Kematian tak memandang usia, seluruh manusia pada dasarnya sudah cukup tua untuk mati. Segera setelah bayi lahir ke dunia ini, yang ia siapkan hanyalah bagaimana menghadapi kematian. Maka, tak ada yang harus ditakuti, karena kematian adalah sebuah keharusan. Dan tiada hal yang mampu memberi keindahan diantara lahir dan mati, kecuali “cinta”. (April, 21)

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya keadaan staminaku tak menentu; sering tiba-tiba lelah tanpa sebab yang jelas dan sesekali rasa dingin menyelimuti tubuh sehingga tangan terlihat gemetar disaat mengangkat gelas. Tapi, ini sesekali saja terjadi, tidak setiap saat. Ah, mungkin aku kurang tidur, atau terlalu banyak minum kopi dan menghisap rokok. Semoga semuanya baik2 saja. (April.  20)

Sebagian pengkaji menyamakan proposisi simple (hamlu al-Basith) dengan proposisi analitik dalam positivisme logis. Akan tetapi, bagaimana mereka bisa menyamakan keduanya hanya karena predikat keduanya sama-sama diambil dr diri subjek? Padahal, sudah sangat jelas bahwa proposisi simple bersifat eksistensial sementara proposisi analitik bersifat esensial. (April, 12)

Diakui bahwa seseorang tidak bisa mengetahui differensia yg hakiki dari ke-apa-an (essence). Sehingg, pembuatan definisi pada akhirnya bukan berfungsi untuk membuat batasan dan perbedaan antara satu dgn yang lainnya, melainkan untuk menetapkan realitas fundamental. Akan tetapi, bagaimana sesuatu yg belum diketahui bisa diabaikan begitu saja, lalu menetapkan sesuatu yg lain sebagai sesuatu yg mendasari semua realitas? (April, 11)

Wahdah al-wujud, memberi penjelaskan bahwa wujud hanya dinisbatkan kepada “al-haqq” secara dzat. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak adanya korespondensi yang mempunyai banyak wujud di realitas eksternal. Jika pun ada, itu hanyalah lokus/manifestasi yang mengalir melalui “Nafas ar-Rahman”( wujud laa bi-assyarti qismi). (April, 10)

We can infer that God exists, even if we don’t directly experience Him, because there has to be a non-material cause of our ideas. Fortunately, God is good, which explains why He provides our finite human minds with orderly sense experiences. God also maintains sensory ideas for us to have when they are not being directly perceived. It seem that unperceived ideas don’t have a sort of existence after all. (April, 7)

Human experience has shown us that, so far, every event has always had a cause. But some philosophers say there is nothing logical “necessary” about causation. They say that our knowledge of it is based on experience and induction. Causation means something like “all the condition needed an event to occur”. “Necessary conditions” mean those which are vital for the event to happen. (April. 5)

Almost philosophers are trying to maintain of what the basic of reality is. Nevertheless, from dawn western-philosophy thinking until today, the conclusion of this is still never ended, perhaps even be the “lasting course”. Yet the eastern philosopher, like Avicenna and Shadra, are the most successful to discover reliably the true of reality that’s impossible to be defined. (April, 5)

The world is just as we perceive it to be. If all we ever perceive are ideas, and we have no real knowledge of mysterious “material substance” or matter, we might as well dump the one superfluous term that has no useful function. (April, 3)

Maka kau teriakkan pada mereka, Aku bukan Ada dan bukan juga bukan Ada. Sebab, mereka yang Ada dihantui ketiadaan, berjalan diantara tebing-tebing pembuktian yang kosong. Sementara, cobalah kau pandang mentari pagi yang menerangi hijau hutanku dan memberi kehangatan tubuhmu. Cahayanya menyelinap masuk pada lorong-lorong kegelapan, seolah cahaya lentera yang terpecah diantara lubang bilik gubuk itu. (April, 1)

Teori “Dentuman Besar” (big bang), dipandang sebagai teori yang paling masuk akal dlm kosmologi modern. Hipotesis fundamental ini, diajukan bahwa ledakan tidak bermula dlm waktu, alih-alih, waktu dan ruang tidak ada pada saat permulaannya. Akan tetapi, perlu diingat, signifikansi teori ini dari perspektif teologis dan metafisis dan relevansinya dgn teori “creation ex-nihilo” tetap merupakan subjek pertanyaan. (Maret, 31)

Indonesians are the happiest people on the planet, happier than Brazilians, Australians, American and Europeans, according to a survey which is written Farid Harianto. I think the survey was not surely represented, but the truth is that Indonesians pretend to be happy because most of them are poor and the best way to cover that is by looking happy. (Maret, 29)

Dalam “Being and time”, Heidegger mengeksplisitkan bahwa logos berfungsi sebagai ‘apophansis’, yakni bahwa struktur logos itu adalah sintesis: membiarkan sesuatu terlihat dlm kebersamaannya dgn ssuatu yg lain, membiarkan sesuatu terlihat sebagai sesuatu. Karena itu menjadi keliru jika kebenaran diasosiasikan dgn korespondensi atau kecocokan(Ubereinstimmung). (Maret, 21)

Setelah memberikan beberapa premis ttg genus pertama (intelligible) dan genus kedua (sensible), Platon lalu mengatakan ada genus ketiga (triton genos) yang disebutnya sebagai “Khora.” Sampai akhir hayatnya, Platon sulit mendefinisikan apa itu Khora. Derrida membaca Khora sebagai “more than the name”. Sehingga, Khora tidak bisa disebut Logos atau Mitos, karenanya berada pada posisi “both this and that.” (Maret, 17)

Sebagian orang melakukan afirmasi terhadap hidupnya yang nihil, berbondong-bondong berlari kepada seni dan kontemplasi seraya berharap mampu melupakan tragedi hidup. Upaya menghindari “penderitaan abadi” dari kehendak yang abadi justru malah memunculkan “kecurigaan” baru pada penderitaan dan nilai; dengan apa fenomena mengalami kontradiksi dengan dirinya sendiri seperti ekspresi “ya” dan “tidak” terjadi secara bersamaan. Sehingga sudah sewajarnya jika muncul istilah “kegembiraan dalam kehancuran.” (Maret, 5)

Aku hampir lupa bagaimana cara merindu (Feb. 26)

Prinsip kekuasaan pengatur serangan. (feb, 23)

Kerinduan menyeret masa laluku di atas tanah kerikil, menggelandanginya bagai lalu lalang kesenangan yg berkhotbah di pusat Kota. Dan, semua mulut tertawa lepas dalam kerumunan; sedang Sang Ratu malu dibuatnya, seraya berkata pdku,”Maafkan daku, kekasih, karena aku telah menonton kepedihanmu seperti layaknya orang lain, padahal kau belahan jiwaku yg hilang saat Tuhan menghunus pedang dan memotong kelingkingku. Maaf.” (Feb, 21)

Hujan malam tiba, alam mengajakku berbicara pada ujung lidah dedaunan. Dan, dia tersenyum tulus pada bibir bunga teratai yang mengapung di atas kolam kautsar. Kegembiraan berlari mengepung sekelilingku, ku kecup saja kening mereka yang mulai basah. Mereka berkata,”sekiranya kau tahu betapa kami rindu dikunjungi bangsa Adam, pastilah kau kan mendekap kami dengan erat. (Feb, 21)

Di bawah pohon rindang Kasih bersenandung kerinduan, pun burung-burung rela mengabdikan diri sejenak menghayati lirik demi lirik. Tibalah ia pada kata-kata yg sukar diselami,”akulah kamu,”katanya. Semua membisu, tiba-tiba wajahnya merah bukan karena marah, mungkin karena malu bercampur rindu sangat. “Kekasih, janganlah kau pasung rindu ini, biar aku mati berselimut Namamu,” katanya dlm hati. (Feb, 21)

Cinta dalam sangkar terbang mencari sepotong roti, melewati rimba dan lembah terjal; sesekali ia menengok kanan-kiri seraya mengintai siapa yang masih bersembunyi di balik semak tebal; tidakkah mereka bahagia saat cinta menjumpai, menyapa dan memberi salam sejahtera; sebab tiada sebab dlm cinta, semua menyatu dalam kerinduan sangat; tanpa alih-alih, suci dlm segala, segala dalam kesucian. (Feb, 20)

tidak seharusnya terlalu asyik berlari-lari dalam sebuah teori, sesekali mesti bertanya ttg apa yang mungkin bisa dilakukan setelah tahu ‘apa yang harus dilakukan’; walau teori juga penting, tanpanya tujuan kehendak akan samar dan tak tentu arah…maka yang penting dr itu semua adalah keseimbangan; dan keseimbangan berkaitan erat dengan keadilan; adil dlm berpikir juga dlm bertindak. (Feb, 20)

Ketahuilah, saya punya indera ke tujuh. Saya bisa meramalkan apa yg akan terjadi 100 tahun ke depan. Saya yakin, 100 tahun lagi anda akan sudah menjadi tulang belulang yang berserakan di dalam tanah. Dan hanya segelintir manusia saja yang tahu siapa anda dan bagaimana kehidupan anda saat ini. 1jt tahun kemudian tidak ada yang tahu anda pernah ada di dunia, nama anda lenyap dan terlupakan. (Feb. 27)

Sekilas hujan di pagi hari, datang lalu pergi (Feb, 20)

Nak, kehidupan ini tak seperti yang kau bayangkan. Suatu saat sahabat2 kecilmu akan pergi entah kemana, mereka akan sibuk dengan kehidupannya; tak ada lagi tempat bermainmu dan ikan-ikan di sungai itu akan digerus habis oleh orang2 yg tak pernah kau kenal. Kau akan berjalan sendiri, mengarungi kisahmu sendiri. Nak, ibumu dan bapakmu tidak mampu memberi bekal hidup yang banyak, hanya bisa berpesan,”jangan takut.” (Feb, 19)

Suatu ketika saya bangun, lalu tidur lagi. -tamat. (Feb, 19)

Mereka yang keluar dari kegelapan untuk melihat visi kebaikan tidak boleh tinggal di menara gadingnya seraya menolak untuk kembali kepada urusan-urusan dunia biasa. (Feb, 19)

Mereka hanyalah debu-debu sejarah yang berceloteh tentang keadilan dan kebahagiaan. (Feb, 18)

Para filosof sosial, sepertinya, harus berbuat lebih dari sekedar merekam kejadian-kejadian dan teori-teori politik masa lalu, hal ini cukup penting karena kejadian dan teori-teori itu telah membentuk mentalitas peradaban ‘modern’. Selain itu, mencurahkan perhatian ke dlm pemikiran para maestro merupakan pengalaman intelektual yg besar, namun dia tidak boleh puas sampe disini. (feb, 18)

Akan kuhancurkan saja sampai kepingan-kepingan tersisa. Tak ada lagi hidup !!! Semua orang hanya akan memakan dan membuang muntahannya. Aku hanya ingin seperti dulu, bebas sebebas-bebasnya. Tak memikirkan cinta, tak memikirkan masa depan. Tak memikirkan tanggung jawab bagi siapapun termasuk diri sendiri. Biar mati, mati sekalian. Seperti jutaan manusia mati dlm sejarah ! (Feb, 17)

Lelah.. (Feb, 17)

Setiap orang akan merasa kesepian saat berpikir bahwa hanya dirinyalah yang memahami dirinnya sendiri. (Feb, 17)

Meng-Ada tidak selalu terjadi ‘ad infinitum’ pada dirinya, oleh karena itu istilah “mendahului dirinya sendiri” menjadi tidak berlaku pada eksisten. (Feb, 15)

Meng-Ada tidak selalu terjadi ‘ad infinitum’ pada dirinya, oleh karena itu istilah “mendahului dirinya sendiri” menjadi tidak berlaku pada eksisten. (Feb,15)

Jika makanan sudah tersedia dalam sangkar, tentu burung-burung tak perlu bersusah payah terbang mencari makanan di luar sana. Apa jadinya jika ada manusia yang menunggu sesuatu yang diinginkannya datang sendiri? Tentu, jika boleh saya menilai, burung-burung lebih cerdas darinya. Atau jika ada manusia yang hidup hanya sekedar hidup, maka lihatlah burung-burung itu, mereka juga hidup. Bangun dipagi hari dan terbang mencari makanan, lalu kembali di sore hari melihat anak-anaknya siap menunggu makanan (Feb, 13)

Ada seekor semut, jalannya lambat, tapi mampu pergi ke London dari sini. Ada juga seekor kuda, lari cepat, tapi berputar-putar di dalam kandangnya. Semut kecil keinginan kuat, kuda besar keinginan kecil. Semut kecil sering terinjak-injak, kuda besar sering menginjak. Tapi, keduanya hewan, gak ngerti apa-apa. Lalu, yg jadi masalah apa? Ya, gak ada masalah. (Feb, 13)

Being single is a good feeling, no drama and no heartaches. But sometimes it gets lonely and you miss that feeling of being taken.  (Feb, 11)

Tears are more expensive than smile because you can a smile to anyone you want, but the tears fall only for the best person in your life. Actually we always ask in our mind, why the woman is suddenly tearing at night without any causes, i don’t know why. Anybody know? (Feb, 11)

Sudah kesekian kali aku katakan, aku tak punya apa-apa, hati pun aku tak punya. Bagaimana aku bisa memberikanmu apa-apa selain ketidak-punyaan apa-apa?Jika kau ambil ketidak-punyaanku, maka aku akan punya apa-apa. Apakah ada apa-apa lain selain ketidak-punyaan apa-apa yang temukan dalam diriku? Tidak ada, sekali lagi tidak ada selain ‘ada’ itu sendiri. (Feb, 11)

Tuhan, boleh aku merayumu malam ini? (Feb, 11)

Ada orang yg menghabiskan hari-harinya dengan berpolitik. Ada orang yang melewati setiap waktunya dengan bekerja tanpa lelah. Ada orang yg menikmati hari-harinya dengan membaca dan menulis. Ada juga orang yang mengisi hari-harinya tanpa melakukan apa-apa. Dan suatu saat akan ada orang2 yg menyesal karena telah melakukan sesuatu yg salah, tp itu lebih baik dari pada menyesal karena tidak berbuat apa-apa. (Feb, 9)

Selidiki lagi perasaanmu kawan, jangan-jangan itu bukan cinta. (Feb, 8)

Di luar kesadaran kita, setiap moment menunggu untuk dipahami sebagai peralihan eksistensi. Pada saat mengatakan ‘kiita ada disini’, seseorang mungkin bertanya,’apa yg dimaksud disini yang disini?’ Seolah mati dan lahir kembali, tanpa bisa ditolak dan tanpa pilihan selain menyadari keberadaan kita pada bentangan waktu dan ruang. Karena setiap peristiwa adalah buku tebal yang harus digali misteri di dalamnya. (Feb, 7)

Jika otakmu kosong, maka matamu tak ada gunanya melihat apapun. (Feb, 6)

Kau tak pernah memiliki apa-apa, lalu mengapa kau merasa kehilangan apa-apa? (feb, 4)

Kalau saja ini kali semua memamahami, akankah aku dilewati? Pada bebatuan diam mengada, tapi diam juga bergerak pada inti yang belom berbalut ke-batu-an. Hai, ini bukan evolusi kau pikir! ini evolusi aku pikir. (Feb, 1)

Its like some pails which are filled by water kept in to the field at daylight period. We can see the sun in every pail, but its just a shadow each other. The true sun is permanently located in the sky, never changed, never being nothing, even thought the rain always provide a cover for it we can admit surely that its still being there. (Jan, 31)

I’d rather regret something I did than regret not doing something. (Jan, 26)

Semakin tidak ada yg aku ketahui selain ketidaktahuan itu. Lalu, dengan apa aku brsikap & menilai keseharian? Aku hanya bisa menilai untuk tidak menilai sesuatu pun. Memang, seperti terpenjara oleh ‘mental conception’. Tapi, sekali-kali bukan itu. Aku hanya memasuki lorong waktu dan kembali pada masa dimana semuanya dibongkar. (jan, 17)

Untuk Gibran. Apapun yang kau lakukan di kegelapan malam akan terlihat jelas di siang hari. Kata yang kau bisikkan secara rahasia akan menjadi kabar umum tanpa terduga. Perbuatan yang kau sembunyikan hari ini di sudut rumahmu akan diterikkan esok hari di setiap persimpangan jalan. Maka, adakah kesamaran dan rahasia dlm hidup? Ketika mata tertutup, semuanya akan jelas terlihat. (Jan. 16)

Malam kembali tiba, senja mengumpulkan cerita hari ini pada dinding-dinding ratapan anak manusia yang berkelahi dengan perubahan. Karena buih-buih lautan lenyap entah kemana, tapi mereka tak pernah meniada, sekali apung hilang untuk kembali. Kepada yang belum juga pulang, setiap saat adalah awal dan akhir. (Jan, 16)

Ketika pagi menjelang, kembali kita bertarung dengan bayang-bayang. Karena matahari hanya akan memberikan siangnya pada yang mengerti mengatasi keraguan, melipat gagal menyimpan kesal, harga diri yang tak patut dikenang. (Jan, 15)

Jaman kiwari, urang sadayana kedah carincing pageuh kancing, saringset pageuh iket. Kumargi lain jaman lain basana, elmu sareng du’a nu tiasa mageuhanana. Urang lembur lain lembur ku pikirna, tapi pedah cicing tebih ti dayeuh. Alam pikirna jauh mamprang ngaliwatan urang kota, sangkan urang lembur mah ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. (Jan, 13)

Dalam benak kita, bisa jadi, kehidupan ini berjalan seolah sirkuit yang senantiasa berputar. Dimulai dari hari; senin, selasa, rabu dst sampai bertemu senin kembali. Apa artinya hari-hari itu jika berlalu begitu saja, seperti kendaraan yang lalu-lalang di depan rumah kita? Hari-hari adalah batu besar yang sedang kita pahat, dan pahatan itulah yang menjadi sejarah hidup; Bukan menulis di atas air. (Jan, 8)

Bahasamu adalah pikiranmu. (Jan, 8)

Ini bukan tentang kabar yang terbakar, ini ttg diri yang terasa semakin jauh saja. Kini jejakku tertutup debu jalanan, mengecil dan lenyap. Sebagaimana lorong-lorong yang pernah disinggahi nampak luluh lantah, bertumpuk bebatuan, hanya tersisa satu jalan setapak. Sesampainya di perbatasan, tiada yang patut dikenang dari masa lalu selain tangis Ibunda ditengah malam. (Jan, 6)

Setelah ucapan salam dan ketukan pintu kesekian, biarkan rinduku dijemput waktu, karena jejak kakiku telah terhapus air hujan malam ini. Tak akan menemukan tempat singgah, untuk sekedar mengingat kembali apa yang patut dituliskan. (Jan, 6)

Duh Gusti…gening takdir teu tiasa pungkir, qodar teu tiasa disinglar, sadayana kagungan Gusti sang-hiyang murbeng alam. Mudah-mudahan cunduk waktu nu rahayu, ninggang mangsa nu sampurna, niti wanci nu mustari, Gusti masing maparinan kahoyong abdi nu sulaya. Duh Gusti..apan kami teh ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak, namung abdi sok unggut kalinduan, gedag ka anginan. Ku kituna, hampura Gusti. (Jan, 5)

Malam, gelap, angin, suara manusia, laju mobil, warung kopi terlihat sepi, suara hembusan angin, dedaunan bergoyang, sepeda motor saling menyalip, anak kecil saling mengejar. Dimana aku? Dimana dia? Dimana kamu? Dimana mereka? Kembalilah, mari berkumpul dalam perpindahan detik menjadi menit, menit berubah jam, jam menjadi hari, hari me-minggu, minggu menahun, tahun meng-abad, abad me.. (Jan. 4)

Dua anak jalanan di trotoar pasar minggu bermain cubit-cubitan, tertawa dan berlari kecil-kecil, ditangan kanannya memegang ukulele berwarna merah kusam akibat debu jalanan, sementara tangan kirinya memegang es sirup terbungkus plastik. Segera aku mengahampirinya. Namanya Deri dan Dede, kakak beradik yang belum sempat mengenyam pendidikan itu tiba-tiba mengasongkan es nya lalu berkata:”Om, mau es gak?” (Jan, 3)

Malam ini aku hanya ingin berterima kasih pada semua yang ada. Terima kasih udara kau telah rela ku hirup; terima kasih air kau telah setia ku minum; terima kasih matahari kau tak bosan menerangi bumiku; terima kasih bumiku kau sungguh rela dihuni; terima kasih pohonan dan dedaunan karenamu hidupku terus berlanjut; terima kasih kpada semua manusia tanpamu aku sepi; terima kasih fb karenamu aku mndapat banyak sahabat. (Jan, 3)

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s