Catatan Harianku Tahun 2012

By Hendra Januar

Dosen-dosen hanya boleh memberi METODE, tapi kesimpulannya biarkan mahasiswa yang MENENTUKAN. (Des.30)

Jika yang ada hanyalah “yang ada”, maka yang tidak ada akan selamanya menjadi “tiada”. Segala sesuatu yang ingin eksis di dalam realitas haruslah melalui “yang ada”. Akan tetapi, saat “yang ada” ini adanya beragam, disanalah kesulitan untuk mencari kesatuan kecuali dalam dirinya sendiri terdapat “tingkatan”. Dan “tingkatan” melazimkan adanya “kesatuan” dan “keragaman.” (Des.30)

Kita akan sedang dlm perjalanan panjang, tanpa peta, diluar apa yg dicita-citakan para pemikir sebelumnya. Kita melihat, 500rb mahasiswa berpangku tangan tanpa tindakan. Kita menyaksikan, 5rb professor hanya bergelut dgn rumus-rumus di papan tulis dan buku-buku. Ada apa ini? (Des.29)

Sudah lebih dari satu tahun aku berada di Kampus Shadra. Terasa waktu begitu cepat berlalu, padahal baru kemarin usiaku 23 tahun. Januari ini usiaku menginjak 24 tahun, sementara aku masih belum tahu apa-apa. Banyak istilah-istilah dan teori-teori yang tak aku pahami. Aku sadar, aku kurang banyak baca buku. Ya allah, semua yang akan terjadi dalam hidupku, aku pasrahkan semuanya pada-Mu. (Des.25)

Rindu saat-saat memblokir jalan, bakar Ban, mengacungkan bendera sambil berteriak. Mandi keringat dibawah terik matahari, menumbangkan barisan aparat mengangkang. Tapi kini ku temukan suasana yang berbeda, suasana yang menuntutku untuk memblokir kontradiksi2, membakar ke-aku-an dan menumbangkan deretan kerancuan teori2. Apakah ini sebuah degradasi? Aku tak tahu. (Des.25)

“Aku cinta kamu,” adalah produk bahasa yang diolah dan disusun melalui pikiran hingga terbentuk subjek dan predikatnya. Sebagian orang meyakini kalimat tersebut adalah representasi rasa, yang lainnya menyebut itu hanyalah “language game”. Yang pertama bisa disebut “ungkapan murni” dari hati yang terdalam, smentara yang ke dua biasa disebut “gombal”. Bagaimana membedakan keduanya? lihatlah perubahan dalam dirinya. (Des.23)

A love can mean a deep feeling, but also can hide a deep sadness. The true love of which nothing to say is only coming from conscious of whom we believed as an unlimited. (Des.23)

Saat hujan mengguyur bumi, ku saksikan kesatuannya; pada dedaunan terpatuk butiran, pada genangan air memuncrat derai seketika, pada sela jarak diantaranya. Begitulah Nafas Arrahman, bersarat kemutlakan dirinya , mengisi segala ruang. Tak seolah kaca tenggelam dalam air, masih ada tersisa kekosongan. Maka, kemanakah aku akan berlari? Timur, selatan, utara dan barat tak tersisa. (Des.20)

Begitu saja? Ya, aku ada ‘disana’, di dalam dunia ‘keterlemparan’. Tidak! Orang soleh akan mengecam ini, semuanya berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Ah, itu hanya produk sosialisasi primordial. Bagaimana bisa? Ya, itu bukan meng-Ada, tapi mengada-ada. Semua terlempar tanpa pilihan untuk menolak. Aku meng-Ada karena ketiadaanku. (Des.16)

Sampai tepi ini, tiada selain diriku yang memahami isi pikiran dan hatiku. Biar teramat jauh dibandingkan diriku dengan si Nietzche, tapi inilah nyatanya. Lagi, aku merasa sepi dalam keramaian dan ramai dalam suasana sepi-sunyi. “Semua orang mengalami ini!” Kata akalku. “Maka, aku tak berhak menilai orang lain, termasuk Sabda Zaratrustha itu sendiri.” (Des.9)

Kembali banyak yg mengajukan bentuk relativisme languistik dgn mengemukakan keanekaragaman isi konseptual dlm berbagai macam bahasa. Dan keanekaragaman itu ditimbulkan oleh ciri-ciri kebudayaan. Jika tafsiran terhadap pengamatan mengenai objek dipengaruhi oleh bahasa, maka pengaruh perimbangan yg tdk taat azas akan lebih besar. Contoh;Apakah karya bach lebih mengasikkan dari Beethoven? Jawaban jd relatif. (Nov.18)

Jika ada orang menyangkal bahwa “yang ada” itu tdk ada, dengan sendirinya orang itu mengakui bahwa “yang ada” itu ada. Sebab, kalau benar “yang ada” itu tdk ada, orang itu tdk dapat menyangkal adanya “yang ada”. Jadi, kenyataan bahwa “yang ada” itu dapat ditolak keberadaanya menunjukkan “yang ada” itu memang ada, sedangkan “yang tidak ada” itu tidak ada. (Nov.18)

Res extenta (tubuh) dan res cogitans (kesadaran,jiwa) dalam diriku belum sepenuhnya berjabat tangan, aku hanya menyaksikan diriku berkelahi dalam medan yang terbatas. Sejujurnya, masih banyak tersisa paradoks zenois serta antinomi kantian yang harus segera aku temukan jawabannya. Apakah harus berakhir pada kepercayaan atas dua kontradiksi mutlak atau memaksakan tesis meliputi selain dirinya? Aku belum tahu. (Nov.11)

Terus terang, jika membaca dan bertanya itu ibadah, aku akan melakukannya seumur hidupku. Usahaku menghindari sepenuhnya pertanyaan yang menghasilkan pengetahuan eksistensial (commonsense) dan berpindah menjadi ‘secondary reflexion’ belum sukses, tidak seperti keberhasilan usaha Archimedes ketika merasakan berat badannya berkurang saat berenang, lalu ia lari dan berterikak “aureka”. (Nov.11)

Henri Bergso membedakan ‘pengetahuan mengenai’ (knowledge about) dengan ‘pengetahuan tentang’ (knowledge of). Pengetahuan mengenai disebut pengetahuan diskursif atau simbolis, pengetahuan yg diperantarai. Sedangkan ‘pengetahuan tentang’ adalah pengetahuan intuitif atau pengetahuan tanpa perantara. Pembagian ini sangat mirip dengan ilmu husuli dan huduri yang ada di epistem filsafat persia (metafisis). (Nov.10)

Keraguan atas keraguan itu mustahil, sebagaimana mustahil mengingkari “ilmu kehadiran”(knowledge by present). Kalaulah ada manusia yang meragukan keraguannya sendiri, maka satu-satunya cara adalah membawanya ke Dokter Kejiwaan, karena telah mengalami apa yang disebut Freud sebagai “neorosis gejala sakit jiwa”. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa mustahil juga bagi manusia mengalami kebodohan mutlak. (Nov.4)

Mendamaikan pertikaian dua idiologi memang bukan hal mudah, kita mesti menyusun bangunan filosofinya dengan baik. Bahkan, jika mampu, kita akan menemukan sintesis yang brilian. Sebagaimana pergantian hipotesis dalam sain, berlaku juga dalam pemikiran metafisika. Hanya saja, orisinalitas menjadi perdebatan, semata-mata karena pengkajian sesuatu selalu diawali oleh keyakinan bawaan. (Nov.3)

Hai jiwa, terlalu lama kau bermain-main. Kapan kau akan pulang? Semua kekasih tengah menantimu disana.. (Nov.2)

There is no God except love.(Nov.2)

Malam suntuk, bulan mengamuk,
aku sapa saja langit tak tahu diri
Jika gelap pekat menghujam ini kali, sejengkal perih pedih bercerai berkali-kali

O, nampak si pacar menaruh hati,
pada lentera di ujung kali
Kelopak matanya mencuri kedip,
saat burung-burung lelah bernyanyi

Malam ngamuk, bulan suntuk,
Aku sapa saja langit tengah menari
Jika gelap mencibir ini hari,
bukankah cahaya masih memuji?

(Nov.1)

Dimatanya masih tersimpan peristiwa itu, saat hujan deras mengguyur perjalanan pulang sore hari. Mampir disebuah warung kopi untuk berteduh sambil menikmati kopi hangat. Walau badan gemetar kedinginan, suara gagap bicara, dia masih sempat berkata:”Kakak, terkadang ide dan kenyataan seringkali terpisah, pilihan ada ditangan kita. Sadarlah! Kita bukan Plato maupun Gibran, bukan Basri apalagi Rumi. Kakak adalah kakak.” (Okt.28)

Sujud, merasakan, menetes, menyaksikan, tinggal menjadi. (Okt.27)

Bagaimana mungkin menarik kesatuan dari dua hal yang bertentangan secara zati? Hai kawan, bangunan logika yunanimu tak kan mampu menembus atmosfer kemestian sejarah. Ini bukan soal Nietczhe dan Spinoza, bukan Isyroqi dan wujudi, bukan pula soal Ying dan Yang..tapi ini semua tentang perjalanan bagi para pejalan. (Okt.22)

Yang aku gelisahkan akhir-akhir ini adalah saat aku tak mampu lagi gelisah. (Okt.21)

Bukan asosiasi makna! Tapi itulah keniscayaan hidup. Hanya mereka yang mengingkarinya bertekuk lutut pada yang kasat. Tidakkah kau melihat sekumpulan nama-nama di gelanggang? Usah kau sebutkan satu persatu, kau hanya menganggapnya dongeng belaka. (Okt.20)

Semakin hari semakin kosong, aku tak tahu apa-apa ternyata. Perjalanan masih jauh, aku salah menduga. Sementara waktu tak peduli pada siapapun, ia akan terus berlari meninggalkan pengalaman-pengalaman. Benar, bukan mirip lagi, aku adalah keledai yang membawa buku-buku. Tak tahu maknanya. Aku hanya melihat teks-teks berlarian saling mengejar lalu ku tertawakan. Tanpa tahu makna, tanpa tahu diri. Bagaimana ini? (Okt.19)

Aku tak mungkin bertolak dari pengertian intuitif mengenai segala sesuatu yang paling sederhana, semata-mata karena berusaha meningkat kepada pengetahuan mengenai segala hal dengan langkah-langkah yang sepenuhnya sama. (Okt.15)

Tak ada seorang pun yang tahu hakekat segala sesuatu, kecuali dia menyaksikannya. (Okt.14)

Mendengar lagu “Started The Joke” dari The Bee Gees, mengingatkanku pada masa yang tidak pernah aku alami:

I loke at the sky
Running my hands
Over my eyes
And I feel out the bed
Hurting my head
From thing that I said…

Till I finally die
Which started the hole world living
Oh if I’d only see
That the joke was on me

(Okt. 12)

Orang-orang berbicara tentang kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman; juga tentang kesedihan, penderitaan dan kesengsaraan. Aku yang belum mengalami dan mengerti tentang itu semua, hanya ingin tenggelam dalam diriku. Biarlah terus tenggelam sampai aku tak bisa lagi bernafas, dan akhirnya aku bersama bayangan menelusuri pintu-pintu yang tak pernah ku kenal sebelumnya. (Okt.11)

Saat ini, aku malah berjalan pada jalur yang pernah ku tempuh sebelumnya. Penuh dengan lubang dan debu, semoga ini bukan kesalahan yang sama. Karena rupa bisa bermakna ganda, seperti halnya kata bisa dimaknai sekehendak kita. Tapi, aku menyadari, mesti jaminan absolut dalam segala hal. (Okt.8)

Ada tiga jenis manusia pada umumnya. Kelas terendah adalah mereka yang datang untuk menjual dan membeli, kelas di atasnya adalah mereka yang datang hanya untuk menonton. Namun yang terbaik di antara semuanya adalah mereka yang ikut bertanding. (Okt.7)

Sudah terlalu lama aku ingin melihat kedamaian, ketentraman dan senyuman yang tulus dari manusia-manusia yang ku jumpai. Tapi, aku masih belum merasakannya, masih sebagian kecil saja. Aku hanya berharap, semoga aku bisa melihat Indonesia yang damai, adil dan makmur sebelum aku tiada nanti. Dan ini sudah menjadi tugasku sebagai anak bangsa untuk mewujudkannya.  (Okt.6)

Sudah lama ku cari peta yang pernah hilang. Peta yang memuat kisah hidup seorang gerilya, melangkah dari kebekuan sampai mencair dan membanjiri jalan cerita. Cerita dimulai kembali. Pintu terbuka lebar disini. Masuklah! Tunjukkan kalau semuanya benar adanya. (Okt.5)

Terlalu luas bayang menerjang. Tapi akalku menemukan sisi akhirnya. Tanpa raga melesat jauh sampai ke perbatasan, tanpa menunjuk fatamorgana di laut lepas. Disini, pada batu hitam licin ku lihat semua. Zahir dan batin melebur tak karuan. Aku tengok saja ke dalam diri. Disini, di dalam diri, Aku dan aku yang lain muncul saling berganti. Entah mana yang sejati. (Okt.3)

Januar kecilku, meremas jari masa lalu tanpa tahu bias sejarah masa depan di pelataran waktu. Dahulu kau tertawa diantara bayang layang-layang terbang saling mengejar di tengah ladang itu. Tapi tahukah kau? sisa tawa polosmu kini tergerus rencana adi daya. Tapi masih ingatkah kau? Mimpi yang kau tulis di atas batu itu masih jelas, aku melihatnya. (Okt.1)

Bukan Einstein, bukan Lydia, bukan pula spinoza. Apakah kau seperti si pembunuh Nietczhe? Ah, bukan. Kau masih menyimpan pengecualian, kau membungkusnya tebal, seperti mummi berharap jiwa turun kembali. Aku kira kau mengira aku tak tahu itu. Kau salah, kau kalah, aku melihatnya. (Okt.1)

Dalam riang memancar merah memabukkan, hingga lunglai pada pertarungan yang masih berlangsung. Tetapi disana, di tengah rimbun hijau belantara, tak terdengar suara, padahal makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba. Mereka dalam keremangan, antara mencabut pedang atau menutup badan dengan rerumputan. (Sept.30)

Lukaku belum juga sembuh, aku tak tahu apa yang membuatnya tetap menganga. Dalam keadaan tak berdaya, sesungguhnya aku tak mau memberi luka pada bunga-bunga yang mulai merekah di sekelilingku.. Ini bukan sebab “gara-gara”, melainkan diriku sebab diriku. (Sept. 30)

Setiap malam minggu tiba, aku hanya ingin menikmati nada-nada minor; tanpa lirik, tanpa suara, biar si diam yang bersenandung. (Sept.29)

Para Urafa berkesimpulan bahwa tidak ada gradasi dalam eksistensi(wujud) karena yang ada hanya Dia , sementara para eksistensialis timur sebaliknya ada (atau bahkan niscaya) gradasi eksistensi(wujud). Bagaimana ini? (Sept.26)

Aku mencari jalan pulang, lalu ku dapati jejak kaki para pecinta. (Sept.25)

Akhir-akhir ini, tidak ada aktivitas dan karya yang hebat, kecuali hanya catatan kecil tak bermakna…tidak seperti para orang-orang besar yang menghabiskan hidupnya untuk pena-pena dan menenggelamkan dirinya dalam diri-Nya. Maka dari itu, aku ingin keluar dari kebiasaan buruk ini, kebiasaan yang menggerogoti eksistensi. (Sept.23)

Pada saat dimana semuanya terasa semakin asing, muncullah kerinduan pada Kekasih yang meliputi seluruh, yang menampakkan nama-namaNya pada segala… Tapi, aku takut, takut cintaku hanya kepuran-puraan. (Sept.22)

Alone we can do so little, together we can do so much. (Sept.22)

Terus terang aku tidak suka bermain kata-kata. Bagiku kata-kata bukanlah alat menemukan pengertian, melainkan ia adalah pengertian itu sendiri. Tapi, bagaimana dengan perdebatan ‘ineffability’? Sebuah pengalaman spiritual seseorang yang menjelma menjadi pengetahuan tanpa kata. Aku masih belum setuju dengan itu. Aku hanya ‘mengira’, orang semacam itu hanya miskin kata-kata. (Sept.6)

Kepada yang belum pernah ada, sungguh enak menjadi dirimu. (Sept.5)

Orang-orang berbicara kebenaran dan kebijaksanaan, orang-orang berucap cinta dan keadilan, orang-orang berdiskusi tentang demokrasi dan toleransi. Tapi aku hanya ingin bertanya: aku ini punya siapa? Jika aku dimiliki, maka aku tak memiliki. Aku ingin aku memiliki. Bagaimana, bagaimana bisa? Aku punya aku, tapi aku pun punya Dia. Aku memiliki ini, tapi ini pun Dia yang punya. (Sept.5)

Hanya kata. Tapi, itulah awal mula sebuah cerita. Cerita yang memahat kebahagiaan dan kesedihan di pelataran nasibku. Aku ingin keluar dari kata dan hanya ingin mencinta, tapi… malah terpenjara olehnya. Biarlah! mungkin di balik jeruji ini, aku masih mampu bebas dari aku sendiri menjadi aku yang lain. (Sept.4)

The truth is I don’t know what is going to happen tomorrow. Life is a crazy ride, and nothing is guaranteed…when I’m unable to make a change within my life today, I won’t seek peacefull tomorrow. (Sept.4)

Beberapa kali inisiatif diperlukan dan perlu diyakinkan, tapi yang ada di hati hanyalah cinta dan kecemasan. Romatika di masa mudaku mungkin akan hilang begitu saja dengan satu atau dua pengalaman yang tak berarti. Dan terkadang pencarian diri yang belum juga terungkap seringkali menjadikan diri ini merasa terasing, yang bisa dilakukan hanyalah bersembunyi di balik buku-buku sukar aku pahami. (Sept.3)

Aku baru sadar, ternyata ulang tahun dan hari kelahiranku yang resmi, 15 Januari, tiga bulan lagi. Tahun lalu aku lupa pada tanggal itu. Walaupun begitu aku ingin tetap berdoa: Semoga Tuhan memberiku umur panjang, karena masih banyak yang belum aku lakukan untuk umat dan bangsa ini, termasuk tanggungjawabku terhadap keluarga. (Sept.2)

Jarum jam saling mengejar malam. Tapi..Tak ada suara. Lampu memadam. Angin di luar jendela yang sayu pun terhenti. Aku mencoba bercermin pada bayangan yang mulai mengecil. Semakin mengecil sampai tak terdengar sentuhan. Hanya terbisik cerita dari bayangan lain. Tiba-tiba..bisikan lain pun segera berkemas. Pergi entah kemana membawa separuh cerita. Disana bulan kian membiru pudar di atas kata-kata. Tuhan, maafkan aku. (Sept.1)

Kembali aku mengalami keheranan. Aku heran mengapa banyak orang yang mengorbankan segalanya untuk sesuatu yang bisa hilang dicuri, dibeli dan dihancurkan. Setelah sesuatu itu lenyap, mereka mengalami goncangan dan keraguan yang serius dalam diri, dan menurut Prancis Bacon itu akibat dari “kepastian awal”. Benarkah sesuatu yang diawali dengan kepastian akan berakhir dengan keraguan, dan sebaliknya? Aku masih belum yakin dengan itu, dan ini menjadi sebuah paradoks. (Sept.1)

Hari ini aku lihat kembali, kesunyian dalam diri yang berbicara tanpa suara setelah keadaan membeku. Masih lebih baik dari mereka yang berteriak tentang keadilan dan demokrasi, tentang toleransi dan kesetaraan yang disertai sikap sebaliknya. Tuhan, murkakah Engkau menyaksikan orang-orang yang memotong hati, pikiran dan tindakan? Maka dari itu Tuhan, semoga kebekuan ini segera mencair untuk menyambungkan kembali tali-temali yang sudah lama kusut. (Sept.1)

Malam ini akan menjadi malam melelahkan, aku harus membereskan dan menata kamar. Kamarku berantakan; buku-buku berserakan di atas kasur, settingan kamar yang membuat susah siapapun yang hendak masuk karena terhalang lemari. Slogan ‘kamarku adalah surgaku’ hampir tidak tepat jika ditujukan ke kamarku. Tapi..ini semua akan menjadi sejarah, dimana suatu saat orang-orang di masa depan akan menulis biografiku dan seluruh warna kehidupanku, termasuk kamar ini. (Agust.31)

Aku orang yang kurang banyak membaca, sehingga tidak begitu paham tentang pemikiran-pemikiran di bidang filsafat, politik, sosial, agama dan kebudayaan umumnya. Oleh karena itu aku butuh studi formal lagi. Saat ini studi filsafat yang sedang aku jalani cukup 5 tahun; setelah itu aku ingin studi antropologi selama dua tahun; sosiologi tiga tahun; sejarah dan psikologi masing-masing cukup setahun saja; studi ilmu politik dua tahun. Aku harus menjalani itu semua agar punya dasar yang kuat untuk menjadi pemikir. Lalu, kapan aku akan menikah? Ah, itu pertanyaan yang sangat sulit aku jawab, entahlah. Saat ini aku hanya berharap semoga semua rekomendasiku ini dikabulkan oleh Tuhan.  (Agust.30)

Aku melihat seseorang mengalah lalu berhenti menjalani sebentuk hidup, identitas dan keyakinan moralnya. Sebuah paradoks yang cukup serius, karena keyakinan moral yang mau bersikap adil haruslah membatasi diri (self-limiting) dan bersedia menerima legitimasi prinsip demokratis berikut dasar-dasar hak asasi manusia. Sungguh ini pemandangan yang mengerikan, dimana perlindungan atas adanya ruang kemajemukan tak bisa hadir. Aku gelisah. Jangan sampai “hidup adalah menunda kekalahan” ala Chairil berlaku secara universal. Aku tidak setuju! (Agust.30)

Hari ini aku ditegur oleh Syafi’i Ma’arif agar berterima kasih kepada Karel Amstrong dan Esposito, atas usaha mereka dalam menjelaskan kepada dunia khususnya Eropa bahwa Islam bukanlah agama teroris; melainkan agama yang penuh damai. Akibat dari kerja keras mereka, kini muslim di eropa mencapai lebih dari 75juta jiwa yang berpusat di Prancis dan Inggris. Apakah aku harus sepenuhnya bangga dengan itu? Aku masih ragu. Kekhawatiran aku lebih besar. Apa yang diprediksikan Auffman dan Tibi ternyata benar, diaspora muslim di Eropa yang berpikir klasik dan konservatif lebih memilih opsi yang pertama “…Islamization of Europa,” dari pada opsi ke dua “..Europanization of Islam.” Sehingga, sayangnya, pembengkakkan populasi tidak berbanding lurus dengan nilai-nilai positif demokrasi dan pluralisme yang ada di Eropa; malah kembali membangun mimpi ‘Daar al-Islam’ yang telah usang itu. (Agust.28)

Lagu Angel dari Sarah Miclean itu membawa aku kembali pada suasana beberapa tahun lalu, ketika aku berada di tengah sahabat-sahabatku yang beragama katolik. Aku teringat bagaimana malam itu aku berkumpul dengan mereka di depan Gereja sambil bernyanyi, menari, tertawa dan bermain tebak-tebakan. Sungguh suasana yang sulit aku temui saat ini.
Kini, kesyahduan kembali menyusup di kesepian malam ini. (Agust.27)

Sementara modernitas belum menjadi naluri, aku masuk lagi secara fisik ke kampung halaman yang sikap-sikapnya merupakan oposisi pada perkembangan. Dengan apakah aku bisa menghindari dari kompromi idiil? Ah, aku tak mau kepura-puraan menjadi solusi. Kini aku tersadar, “aku sedang ditegur keadaan.” (Agust.27)

Usiaku hampir mendekati 25. Sementara aku tidak tahu apa-apa, kecuali aku tahu bahwa aku tidak tahu. Terdengar klise, memang. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin seperti burung yang bercerita tentang luasnya daratan, ingin seperti ikan yang berbicara tentang dalamnya lautan. Aku ingin punya kisah! biar pun itu pedih perih. Seperti kisah orang-orang besar yang hidup di antara peluru dan hunusan pedang. Ini adalah keinginan. Keinginan yang bebas penilaian. Bukankah penilaianmu adalah pertanyaan bagi dirimu sendiri? aku tidak tahu. (Agust.25)

Ayah selalu menyembunyikan kesulitan-kesulitannya kepadaku. Ayah tak ingin melibatkan aku dalam kesulitan-kesulitan. Ayah sering tidak sampai hati. Ayahku sudah tua. Enam puluh lima tahun adalah umur yang sebaiknya hanya digunakan buat pemikiran-pemikiran ringan. Sayang, anak-anaknya belum benar-benar kuat untuk melonggarkan bebannya. (Agust.25)

Dahulu, aku mengira orang sholeh itu ialah orang yang mampu mengaji. Kini aku mampu mengaji, tapi aku belum juga sholeh. Dulu aku menyangka Mahasiswa itu pintar. Sekarang aku Mahasiswa, tapi belum juga pintar. Saat ini aku berpikir bahwa orang besar ialah orang yang menorehkan pikiran dan tenaganya bagi kemaslahatan umat dan bangsa. Tapi, mungkin, suatu saat jika aku menjadi orang besar, aku akan mengatakan “aku belum berpikir dan berbuat apa-apa. (Agust.24)

Teman-temanku menganggapku ‘gila’. Ya,aku memang gila, selalu memungut sampah pemikiran. Mencampurnya dengan pemikiran populer, tak peduli bergizi atau tidak. Dan kadang kala aku bela dan pertahankan sampah-sampah yang berserakan, lalu aku daur ulang hingga menjadi hidangan yang boleh dikonsumsi. Namun, mereka enggan, masih menilainya sebagai sampah busuk yang bersarang di dalam got. (Agust.24)

Aku melihat orang-orang yang merasa bahagia, atau seolah-olah bahagia. Bagaimana mereka bisa bahagia sementara segala pertanyaan dan keraguan dalam hidup ini diabaikan?…Aku tak mau berpura-pura, dalam segala hal, termasuk pikiranku sendiri. Karena aku tak mau menjadi seorang munafik, yaitu orang-orang yang mengabaikan keraguan. (Agust.23)

Aku merasa aneh dengan orang-orang yang memaknai “iqtiqomah” berarti konsisten. Aku tidak sepakat. Aku pernah berjumpa dengan orang yang sudah 30 tahun menjadi tukang becak, istiqomah kah? Bagiku istiqomah berarti perubahan. Berubah berarti bergerak. Bergerak adalah usaha dinamis, dan dinamis berarti maju, dan untuk maju butuh perjuangan tanpa menyerah. Menyerah berarti “kafir”. (Agust.22)

Barangkali aku sangat terlambat menyadari keanekaan dan keyakinan dunia dan kehidupan ini. Aku sadar setelah kesempatan tidak banyak lagi. Alangkah luas dan kompleksnya ilmu pengetahuan. Alangkah banyaknya ide-ide yang bisa diungkapkan kompleksitas unsur-unsur kehidupan ini. Dan semua ini ku sadari setelah fasilitas dan sensitifitas diri mulai berkurang. Alangkah kerdil dan keringnya jawaban beberapa tahun lalu. Kini, aku merasa lahir kembali dengan penuh gairah! (Agust.21)

Komposisi musik meresapkan dalam diriku suatu kesyahduan. Rohaniku yang gelisah karena persoalan-persoalan hidup dan tanggungjawab yang berat, untuk sementara terobati oleh denyutan-denyutannya. Dia datang membawa ketenangan dalam jiwa, penghargaan yang lebih besar pada sesama manusia, dan kesadaran akan misteri kehidupan. (Agust.21)

Aku seorang muslim, sebagaimana muslim Indonesia umumnya, merupakan hasil refleksi masyarakat. Dan kini setelah kurang lebih lima tahun aku mencoba merenungkan kembali, mengendapkan dan mengolah pengalaman itu, maka aku kini menjadi muslim pemberontak. Berontak terhadap sikap-sikap umat dan bangsa yang ada. (Agust.21)

Aku terbangun oleh mimpi yang mengerikan setelah beberapa jam tertidur. Masih jam 22.50. Aku kesal menunggu pagi. Aku teringat pada..yang mengembalikan aku pada kenangan masa anak-anak dimana aku baru mengenal cinta dari buku-buku komik dan roman murahan. Oh, aku teringat pada rambutnya yang mayang mengurai, warna keputih-putihan pada pipinya dan tubuhnya yang tidak begitu langsing. Aku teringat, bagaimana dia bermain-main di halaman rumahku. Aku tak tahu lagi dimana dia sekarang. ah, romantis sekali menoleh pada masa lalu. Adakah ini tanda-tanda bahwa aku telah apologetik dalam erotik? apologetik yang tak pernah ku sukai? Tidak! aku tak mau apologetik. Aku akan berjuang menghadapi masa kini dan nantiku. (Agust.18)

Terus terang aku adalah si pendosa, kepada Tuhan atau sesama. Maka Tuhan..sekiranya Kau memang Maha Pemberi ampun, ampunilah segala sikapku yang selalu memberontak terhadap kekuasaan-Mu. Muhammadku, maafkanlah aku belum mampu meniru akhlakmu. Ibu bapakku, maafkanlah aku anakmu yang kerap kali berbeda pendapat denganmu. Pemerintah negriku, maafkan aku selalu membiarkanmu berbuat dzalim. Sahabatku, maafkanlah aku atas segala kesalahan yang tampak dan tersembunyi. (Agust.18)

Merdeka itu tak ada pengangguran..
Merdeka itu bisa sekolah gratis..
Merdeka itu tak ada ketakutan..
Merdeka itu beras murah…
Merdeka itu listrik murah..
Merdeka itu gratis biaya pengobatan..
Merdeka itu berprestasi..
Merdeka itu tidak ada kekerasan..
Merdeka itu..
Merdeka itu..
dan lain-lain.

(Agust.17)

Tuhan, kelaziman-Mu bikin sengsara dan hati yang meranggas kuasai malam dan manusia Pada segenap pinggiran pesiar-Mu
makin daku menggila. (Agust.16)

It’s true. We live to die, and we die to live again. From an eternal perspektive, the only death that truly premature is the death of one who is not prepared to meet God. (Agust.11)

Mengapa kau biarkan memar menghiasi dirimu Negriku? Tiada perlawanan. Seolah lupa akan sejarah yang berdarah-darah di atas tanah suburmu. Kembali tak ada bunyi. Allahu Akbar pun meredup. Mengecil. Pasrah. (Agust.11)

After I death, I will be what you were before birth. (Agust.11)

Lemah tak berdaya di bawah cahaya, seolah ia menarik-narik lengan bajuku yang mulai lusuh kusut. Aku bangkit lalu ku teriakkan pada-Nya: Robeklah! Biar semuanya puas. Robeklah berkeping-keping dan taburkanlah di atas samudra bayang-Mu. Biar semua telinga mendengar, semua mata melihat bahwa aku adalah diri-Mu yang hilang hanyut terbawa gelombang gelap. (Agust.10)

Nietszche Said, When we are unable to conquer the enemies within ourselves, that unless to conquer the enemies elsewhere. (Agust.10)

Bisa jadi kebenaran yang aku maksud adalah kesalahan tanpa ku sadari, semata-mata karena sesuatu yang dicari adalah pencarian itu sendiri; tanpa akhir dan kesimpulan. Sehingga proses bukanlah jembatan menuju kebahagiaan. (Agust.6)

All things are subject to interpretation, whichever interpretation prevails at a given time is a function of time not truth. (Agust.6)

Unless I try something beyond what you already mastered, I WILL NEVER GROW. (Agust.5)

The Kingdom of Heaven is a condition of heart, not something that comes upon the earth or after death. (Agust.5)

I never did anything doing by accident, nor doing any of my inventions come by acçident, they came by work. (Agust.4)

The end of life is to be like God. (Agust.3)

Love: the only game we play and always lose at the end. (Agust.3)

To be is to do. (Agust.3)

I’m me nothing more. (Agust.2)

Tanpa udara, tanpa suara, sepi, tanpa gelisah tanpa duka tanpa gejolak. Tiada tirai terbuka, tiada pintu masuk, sang penjaga setia melampaui ruang waktu, melampau kebahagiaan. Siapa dia tiba-tiba tertawa? Ah, biarkan saja, keputus-asaan memberinya tawa. Ini bukan puisi bukan pula prosa, apalagi sabda zaratrustra. (Agust.1)

Wangi mentari sudah sampai di ujung pucuk, memberi kabar gembira bagi insan-insan yang berpuasa. Setelah kelopak mata terpejam dan diisi aneka mimpi yang tumpang tindih, kembali gelombang gelap dalam hati tertidur di siang hari, atau selamanya. (Juli,28)

Garis, terpotong menjadi titik-titik, titik mengecil, semakin kecil…kecil..huuuussst hilang ! (Juli,27)

Laras, larasku..sepulang dari Jakarta aku cari diriku di tengah album kenangan yang tersimpan utuh dalam memori ingatanku. Tapi, aneh, diriku hilang entah kemana. Dalam kebingungan aku merasakan udara yang berbeda, bocah-bocah tak lagi bermain kelereng, sementara ladang tempat kita bermain dulu kini gersang oleh cahaya matahari yang memantul di atas gedung. Laras, larasku, tanahku tak lagi merah. (Juli, 27)

“Menurut kaum pesimis, hidup ini hanyalah proses pasti menuju tragedi. Jadi hidup adalah kesengsaraan. Darrow pun mengatakan bahwa hidup adalah ‘guyon yang mengerikan'(awful joke), dan Tolstoy melihat hidup sebagai ‘tipuan dungu'(stupid fraud). Jadi, untuk apa hidup? Bukankah kalau begitu, lebih baik tidak pernah hidup di dunia ini dan tetap berada dalam ketiadaan yang tanpa masalah itu?”. [Islam Doktrin & Peradaban, hal.20] (Juli,7)

“Tidak ada satupun kesalahan, karena yang ada adalah kebenaran dalam berbagai perspektif. Maka dari itu, diperlukan kesadaran akan keberagaman.” (Juli.5)

Setiap pengalaman sejarah harus diberi makna transendensi untuk membentuk suatu budaya yang lebih manusiawi di masa depan. (Juni, 29)

Kini kita hidup di dalam sebuah dunia realitas yang tanpa pondasi, sebuah kondisi mengapung (ploating) kesana-kemari tanpa ada yang mengendalikan dan mengarahkan, sebuah dunia yang berkembang ke arah bentuknya yang melampaui dirinya sendiri. (Juni. 24)

Kanya’ah Indung jeung Bapa moal gedag ku ka’anginan, moal la’at ku kalinduan, moal lantis ku kahujanan, Indung tunggul rahayu Bapa tunggal raharja. (Juni, 24)

Duh Gusti jisim abdi nyanggakeun sadaya-daya, anjeun nu nangtoskeun ogé anjeun Nu Maha Ngersakeun sadaya nu lumangsung di ieu alam dunya, saéna anjeun nu Ngersakeun, atuh nu awonna jisim abdi nu janten margalantaran. nu hade hasil sareng untungna kangge abdi, pon kitu keneh nu awonna mulang deui karugianana kangge abdi da rumaos abdi nu melakna, tapi sanaos kitu pamugi Anjeun Gusti maparin pituduh jalan nu sae nu anjeun mikaridho ka abdi. (Juni,23)

Sebuah kebangkitan diri yang lain, diri yang sebenarnya,yang ternyata selama ini dininabobokan oleh mimpi-mimpi yang berperan sebagai -seolah- realitas. (Juni, 20)

Aku pikir kita datang.. Untuk berpasrah diri di dalam keheningan, untuk berserah pada Cahaya dan kebahagiaan, Untuk berdansa dalam batin, dalam perayaan Kejayaan Cinta. (Mei, 25)

Sepi dalam ramai. Ramai dalam sepi. Ada suara-suara berkeliaran, mengecil, memelan, hilang! Ada nada yang berbisik samar, melangkah menyusun huruf menjadi kata, menjelma kalimat. (Mei, 16)

Biarkan angin berbicara apa adanya, tentang kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita. Ciptakan saja kincir-kincir untuk menampungnya demi perputaran waktu, agar kita capai kedamaian, agar kita gapai kemenangan, walau terasa tawar dan melingkar. (Mei, 13)

Ijinkanlah aku untuk tetap bernyanyi, ayah. Seperti dulu kau slalu bercerita tentang gembala kecil yang berdendang di bawah terik matahari. (Mei, 12)

yang tersulit ialah menghilangkan ke-aku-an. Ya Robb, singkirkan kesempitan dalam semesta qolbuku, agar kita bisa berjumpa setiap saat. Hingga ku rasakan kalimat “labbaik” dari-Mu. (Mei, 10)

Kalau saja jarum jam bergerak ke belakang; aku ingin lahir dari kandunganmu lagi ibu, aku ingin engkau membimbingku lagi ayah, aku ingin menggendongmu di sepanjang pantai itu kekasih, aku ingin mengenalmu lagi sahabat. (Mei, 10)

Semakin dalam semakin merasa kosong, padahal masih banyak mutiara yang belum terungkap. Ah, semuanya harus ku selesaikan walau pada akhirnya masih berupa pertanyaan. Karena kesimpulan tiada lain hanyalah tumpukan pertanyaan. Selamat pagi daunan, apa kabar pohonan, salam sejahtera bagi segala wujud. (Mei,6)

Peta hidupku hampir hilang tersapu ruh yg mengisi ruang kebodohanku. Ku coba meng-Hendra-kan diri, namun adanya msh belum beranjak.. Hingga masih terasa berat bersujud. (Mei,3)

Lagi, dunia berusaha melemahkanku.. Sementara aku pun bersikeras tuk mengubur kesenangan dan kesedihan di ‘alam ini’, hingga ku makin mendekati realitas tertinggi. (Mei,2)

Satu adalah semua, dan ide dari semua, dengan ide yang mengiringi keabadian, ide dr dirinya sendiri – jiwa yang mengapung, yang tak terhancurkan, berlayar selamanya. (April, 29)

Terkadang dunia berusaha melemahkanku, membawa gelombang gelap pada tasybih dan tanjih. Sementara anjing penjaga hati tiada henti membisikkan seolah kemenangan. Siapa yang mampu membuatnya pasrah dalam genggaman? hingga mampu melesat menuju pusat cahaya, mendekat, semakin dekat. (April, 26)

Anak dari segala duka, dengan nama apakah akan kutandai kehadiranmu yg besar? Suara semesta suara, tiada arti bagimu.. Suatu bisik, sebuah nama, sepatah kata sunyi. (April, 24)

Masih ingatkah kau? Saat itu dgn lantang kau berkata:”sejarah adalah biografi orang2 besar!”, lalu dgn sedikit tersenyum ku bisikkan padamu bahwa ‘orang besar selalu merasa dirinya kecil.’ Setelah itu kau seperti padi yg mulai membungkuk, sedang aku hanyalah benih2 yg berkelahi dengan kemarau. (April,24)

Engkauku, aku engkaumu. Kau mendekap kau, aku mencumbui-ku. Karena aku kau meng-aku, jikalah tidak aku meng-engkau…kepada si apa aku meng-apa? (April, 22)

Beginikah kau mengajariku tentang jarak dan waktu–nyanyimu tak henti-henti memintaku menari menggendong senja menyapa malam, menggendong sepi riap kenangan merajam diri. (April, 21)

Sebagian orang percaya keadilan berbuat didahului oleh keadilan berpikir. Tapi kadang kala korenpondensi seperti itu melazimkan hakikat sebagai dasar realitas, hingga kesatuan eksistensi hanya bersifat i’tibari. (April, 18)

Senar gitarku putus, ku tak bisa bernyanyi lagi, bahkan untuk sekedar bertepuk tangan pun terasa berat… ada perkelahian akal dan nafsu, membanting segala yg bisa dibanting, hingga pondasi yang dahulu pernah ku bangun kini mulai retak. ah, ini kan menjadi pekerjaan rumah di kemudian hari. (April, 18)

Daun yg berguguran tersapu angin bisa jd pelajaran yg lbh bijak dr pd orang2 bijak itu sendiri.’ (April, 10)

Aku sekarang adalah aku yang dahulu. Aku tidak bertambah ataupun berkurang, karena aku adalah tak bergerak, yang menggerakkan sesuatu. (April. 10)

Segalanya ada dimana-mana. Di setiap bagian ada segalanya, dan segalanya adalah bagian. (April, 2)

Kau tahu negriku, saudaraku.. Hamparan tanah dan lautan yang kaya kini jadi tempat bermukim para tersangka. Anak-anak tumbuh di tengah kekerasan dan tipu daya. Para remaja gelisah memandang hari-hari tanpa harapan di mimpinya. Sementara pemuda-pemuda yg gagah dijebaknya, di kerumunan massa. Saling tikam antar saudara. Tahukah kau saudaraku, inilah negri kita. (Feb.27)

Jangan kau berbicara idealisme jika masih memikirkan perut dan selangkangan! (Feb.24)

Seperti batang-batang bambu tumbuh liar di teapi genangan, begitulah anak-anak pasrah dijemput waktu tanpa sepatu, tas sekolah dan buku-buku.. maka lihatlah olehmu, pada “kecemasan” mereka mengaji dan dan berguru. (Feb, 19)

Dik, adik kecilku, hidup ini nyanyian tak henti, ttg suka dan duka, ttg mayor dan minor.. Berlarilah walau peta kian lusuh, hingga menembus kerumunan para bandit yg berbicara kelezatan!! Jika sampai waktumu, tebarlah cinta di atas cinta dirimu. (Feb. 18)

sayap-sayap kecil..baru kemarin kau singgah lalu kau curi hatiku.
Sejak hari itu kau rajaku dan aku budakmu, siang malam kau ukir cinta lagi dan lagi…begitu nyata hingga tak lagi aku berkelana mencari kekasih di alam fana. Lembut sayap-sayap kecil memelukku, melindungi, menghangatkan pun ketika aku terhempas. (Feb, 17)

Bernyanyilah melupakan lelah, sebab negri tempat kita singgah kini telah menjadi sarang para bandit! Tempat anak cucu kita kelak dipaksa berziarah, setelah gagal menulis kata sesal melunasi utang sejarah yg gagal. (Feb, 16)

Kearifan sejati lahir dari hasil pengamatan manusia atas segala praktek dan situasi yg melingkupinya sehari-hari, karena kehidupan sekitar mempunyai banyak pertanyaan atas semua kontradiksi-kontradiksi hidup. (Feb, 15)

Untukmu Abah, jika harapan muliamu tak mampu ku wujudkan, cukuplah harapanmu terperangkap dlm semesta diriku. Lemah jariku untuk mengepal karang perubahan, sementara masa seolah lari tergesa meninggalkan diriku yg bodoh ini. Andai saja ada wujud yg membakarku, niscaya aku terperanjat dan berteriak lantang ttg harapanmu. (Feb, 15)

Sore td ku berjumpa dgn orang yg gemar membicarakan Tuhan dan segala bangunan filosofisnya, namun ku mengabaikannya. Saat dia bertanya mengapa aku terlihat cuek dgn pertanyaan2 ttg Tuhan, aku jawab: “Tak pernah ku melihat adanya alasan mengapa kita harus menganggap serius pembicaraan ttg Tuhan. (Feb, 14)

Untukmu Mak, hidup ini nyanyian tak henti, kepedihan dan suka cita silih berganti, dalam setiap sunyi menunggu sebagai kesetiaan hati menjagamu, anak-anak yang terus menyanyikan rindu untukmu. (Feb, 13)

Untukmu, Pemimpinku : Demi ‘TANAH SUBURKU’ dimana engkau semestinya sadar diri, tentang pilihan tahta dan cinta sejati, bukan soal moral dan sandi-sandi politik. Lalu, masih adakah jiwa ksatria yg merobek jantungmu sendiri sebagai tebusan pengkhianatan tugas suci? (Feb, 12)

Setelah ucapan salam dan ketukan pintu kesekian, biarkan rindu petualang dijemput kegelapan malam, karena janji lelaki yg jejak kakinya telah terhapus air hujan. Tak akan menemukan tempat singgah, untuk sekedar mengingat kembali apa yg patut dituliskan. (Feb, 11)

Untukmu yang berjalan tanpa peta, jika masih tersisa air mata tumpahkan dengan seluruh tangis kanak-kanakmu, karena kalimat penyesalan dan dendam berkepanjangan tak mengurangi rasa sakit masa lalu. (feb, 11)

Untukmu setangkai mawar itu telah menjelma nyanyian pagi bersama mentari, dari pengembaraan tak tentu jalan, hitungan usia ditantang kehidupan. Di matamu riuh jalan2 itu melarutkan mimpi kanak2, ttg bola mainan, nyanyian pagi dan buku2 sekolah. (feb, 9)

Saat wajahnya masih terlihat basah oleh percikan air wudu, ia pun tersungkur di atas sejadah sembari menyelami kedalaman ruhaninya dengan penuh cinta. Hingga sejadah yg tadinya kering, kini terlihat basah air mata. Kebencian yang selalu mengisi ruang kalbunya, kini luntur dan berbuah kedamaian. (Feb, 7)

Aku mesti sedikit menggeserkan diri, agar Cahaya itu sampai kepadaku secara sempurna. Sehingga tidak lagi ku yakin terhadap bayangan, melainkan pasrah menjadikan diri objek dan subjek kasihNya. (Januari, 17)

Akhirnya kutempuh kembali jalan itu, memunguti kesalahan masa lalu, yang telah tertipu kemenangan, melawan bayang-bayang waktu. Maka inilah jalan penebusan, tempatku semestinya lalu. Selamat Ulang Tahun Untukku. (Januari, 15)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s