Sejarah Masa Depan Kita

Oleh Hendra

Tulisan ini saya buat, tentu, jauh berbeda dari maksud sejarah pada umumnya. Tidak seperti Karel Amstrong dalam “Sejarah Tuhan”, Prancis Fukyama dalam “The End Of History” atau Bertnand Russel yang sukses mencatatkan dirinya sebagai filosof sekaligus sejarawan dengan karyanya “History Of Western Philosophy”. Berbeda dengan itu semua, saya hanya ingin melihat sejarah masa depan sebagai sebuah prediksi subjektif dengan melihat masa kini. Bukankah Presiden Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno pernang meneriakkan adagiumnya yang terkenal, JaS MeRah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)?Tulisan ini saya buat, tentu, jauh berbeda dari maksud

Berawal dari sebuah diskusi hangat bersama teman-teman: Bang Syihab, Arifin, Deden Sopyan, Ja’far Shodik, Ahmad dkk –yang kelak masa depan dunia ada di pundak mereka—  saya menemukan sebuah inferensi filosofis tentang waktu. Dalam bahasa komunikasi, sering terlontar dalam kehidupan sosial kata “sekarang” yang, mempunyai arti saat ini. Pertanyaannya adalah, adakah masa diantara masa lalu dan masa depan? tentu ini membutuhkan perenungan, yang bagi saya, butuh beberapa referensi dan beberapa perspektif untuk menjawabnya.

Dalam khazanah pemikiran filsafat Islam, waktu itu hanya bersifat i’tibari (majazi). Artinya, waktu sebagaimana dirinya adalah hasil abstraksi alam mental tidak ada secara real objektif di realitas eksternal. Itu terjadi, semata-mata karena adanya gerak di realitas eksternal dan dengannya kita mengabstraksikan waktu. Dari hasil abstraksi itulah lahir sebuah konsepsi (tasawwur) tentang waktu yang kemudian kita bisa melakukan afirmasi (tasdiq) kepadanya. Sehingga justifikasi benar dan salah kita serahkan kepada alat epistemologi yang tepat, dalam hal ini tentunya rasional.

Oleh karena waktu itu hanya bersifat konseptual dan hanya bisa diafirmasi secara rasional, maka konswekuensi dari itu adalah tidak adanya masa diantara masa lalu dan masa depan. Saat kita mengatakan “sekarang”, maka ada masa yang telah dilewati beberapa detik atau lebih kecil dari itu. Dan sejarah yang diidentikan dengan masa lalu telah terjadi pada saat kata itu dikatakan. Dengan demikian, maka masa depan tetaplah ada berupa misteri(ghaib)yang menuntut kita untuk meng-imaninya dan menciptakan sebab-sebab masa lalu untuk nasib masa depan. Hal ini, saya pikir, sesuai dengan sebuah potongan ayat 1-2 dari surat al-baqarah yang berbunyi:”Alladzina yu’mununa bil-ghaib…”(yaitu orang-orang yang percaya terhadap masa depan…), sebagai karakter pertama dari petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa( hudan lil-muttaqin).

Lebih lanjut, saya akan berbicara tentang prinsip sederhana dari hukum kausalitas yang dikaitkan dengan konsepsi waktu. Sebagian besar kita hanya menjadikan prinsip kausalitas sebagai argumentasi rasional untuk membuktikan adanya Tuhan. Sehingga Tuhan disimpulan sebagai kausa prima, kausa efisien, the unoved mover dan lain sebagainya. Tentunya, bagi kita yang menjadikan logika sebagai tolskit dalam cara berpikir, prinsip ini sudah cukup memuaskan (walaupun bagi Mulla Sadra, kausalitas ditafsirkan lebih jauh lagi).

Sebab-sebab masa lalu niscaya akan mewarnai akibat pada masa depan. Seorang mahasiswa yang tidak pernah atau hanya sekali-kali saja membaca buku, tentu akibatnya tidak mengetahui banyak tentang bidang yang digelutinya di masa depan. Atau seorang pemuda yang malas bekerja, tentunya akan berakibat pada masa depannya, baik itu kemiskinan dan depresi di masa tua. Lebih jelasnya, akibat-akibat buruk dan baik di masa depan bergantung kepada sebab-sebab yang kita lakukan di masa lalu. Sehingga kemudian muncullah perasaan menyesal atau bahagia.

Sebagai perumpamaan itu semua, sebenarnya kata “sejarah” itu sendiri sudah mewaikili analoginya. Secara pilologis, kata sejarah diambil dari bahasa arab “Syajaroh” yang berarti pohon. Kita bisa melihat pertumbuhan pohon dari akoar hingga menghasilkan daun dan buah yang baik. Perubahan sistematik tersebut terjadi bukan hanya karena sifat alamiyah yang mengikuti natural laws, tapi lebih disebabkan karena gejala awal pertumbuhan yang baik. Baik bisa berarti sesuai dengan sistem alam yang berlaku tanpa adanya sebab-sebab lain yang menjadikannya mati.

Akan tetapi, jika mencoba merenungkannya kembali, maka relasi seperti inI kerap kali terabaikan dari relevansinya dalam kehidupan real. Pasalnya, kehidupan real sering disebut-sebut bukan sebagai objek kajian filsafat yang kesimpulannya bersifat subjektif, akan tetapi ilmu-ilmu terapan yang mampu membedah realitas hingga ada manfaat secara sosial. Di sini, kita akan menemukan kembali pengaruh doktrin pragmatisme yang menanamkan pandangan hidup yang pilah-pilah. Pandangan seperti ini sangat jelas terlihat dalam definisi kebenaran yang mereka yakini, yaitu sesuatu dianggap benar jika ada guna atau manfaatnya secara materiil.

Prinsip kausalitas termasuk ke dalam katagori apriori (badihi), selain juga merupakan konsep universal falsafi. Karena kebadihiannya itulah maka tidak ada drfinisi baginya,  dan kita hanya terdorong untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-sehari untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Cita-cita merupakan akibat futuristik dari sebab-sebab yang terjadi saat ini. Sehingga ada benarnya jika muncul kalimat dalam deretan wisdom quotes yang berbunyi, “kita di masa depan adalah apa yang kita lakukan hari ini.”

Sampai disini, kita bisa mengeluarkan inferensi, bahwa kita adalah oroduk masa laludan “sekarang” kita  berada di masa depan. Maka jika hari ini kita hanya menciptakan sebab-sebab untuk diri kita sendiri, maka keberhasilan kita di kemudian hari hanya untuk kebahagiaan diri sendiri. Jika hal itu terjadi, akibat signifikan yang muncul adalah lahirnya insan-insan individualistik yang menutup mata pada nasib bangsa dan dunia. Padahal sudah jelas dalam argument skriptual, bahwa kita diharuskan memasuki islam (kepasrahan oada Tuhan) secara menyeluruh. Kepasrahan pada Tuhan menuntun kita untuk meniru Tuhan. Dalam hal ini, jika Tuhan memanifestasikan diri-Nya berupa jagat raya, maka kita memanifetasikan hails belajar kita di kemudian kepada umat. bangsa dan dunia[…]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s