Apakah hidup itu?

images

                                                             Oleh : Hendra Januar

     Kebanyakan manusia memaknai hidup sebagai sebuah perjalanan (inggris: journey, arab: sabil atau subul). Pemaknaan sederhana ini tentu tidak sepenuhnya salah, akan tetapi perlu diperhatikan implikasi dari analog tersebut. Karena implikasi ini terkait dengan variasi-interpretatif dari bagian fakultas jiwa dalam diri manusia, hingga mengakibatkan implikasi yang berbeda pula. Berbedaan ini, biasanya, epistemologi kontemporer menitik beratkan pada penggunaan bahasa. dari sini muncullah Hermeneutika sebagai disiplin ilmu baru dalam penafsiran. Akan tetapi, disini, saya tidak akan terlalu masuk pada perdebatan hermeneutis yang rumit itu, hanya padangan sementara bagi pemaknaan hidup.

     Pertama, deskripsi yang populer datang dari para agamawan. Mereka memberikan interpretasi yang berlandaskan pada teks-teks suci masing-masing agama. Misalnya, dalam agama samawi, hidup dimaknai sebagai sebuah perjalanan dengan alasan bahwa ada kehidupan setelah kematian (ma’ad). dan itulah kehidupan abadi, sementara dunia ini hanyalah tempat singgah sementara (temporal). Sebagai tempat singgah yang menjadi ladang berbuat baik untuk bekal kemudian setelah pergi dari dunia ini.

      Dari penafsiran para agamawan itulah, pada akhirnya, memebentuk sikap pengikutnya masuk pada pandangan fatalistik. Yaitu, cenderung memprioritaskan aspke ukhrowi dari pada duniawi. Selain itu, dalam sisi teologis, mempercayai bahwa semua nasib manusia sudah ditentukan oleh Allah dalam sebuah kitab yang terjaga (lauhul mahfudz). Dan ini biasanya dianut oleh para sufis-praktikal yang pada akhirnya, contras dengan hal ini, muncullah kaum sosialis yang justru sangat memprioritaskan keadilan dan keharmonisan sosial secara nyata. Sebagaimana Karl Marx sendiri mengatakan dalam Das Capital,”…para filsuf boleh menafsirkan dunia sekehendak mereka, tapi yang lebih penting adalah merubahnya.”

      Kedua, tidak kalah besar pengaruhnya berasal dari golongan yang berpandangan materialisme. Suatu paham yang menancapkan komitment materialistis pada pandangan dunianya (world view) dan dari itu pengingkaran terhadap adanya kehidupan setelah kematian menjadi turunan pahamnya. Bagi pandangan kaum ini, dunia hanya merupakan perjalanan dari lahir sampai mati, yang tidak ada tujuan-tujuan metafisik sebagaimana diyakini kebanyakan manusia timur. Dengan demikian, mereka secara mutlak berlomba-lomba menikmati dunia dengan ukuran materiil. Oleh karena itu, tidak begitu heran jika muncul kapitalisme dan komunisme sebagai puncak implikasi dari pandangan ini.

       Ketiga, nihilisme. Saya memasukkan paham ini –walaupun agak jauh– karena dewasa ini secara tidak sadar banyak orang yang memasuki pada kategori nihilis. Nihilisme berada satu rumpun dengan pesimis, namun nihilisme lebih ekstrem atau pesimis pada level yang lebih jauh. Orang-orang nihilis menganggap hidup ini hanyalah sebuah kesia-siaan, sebuah drama yang konyol. Sehingga, biasanya, mereka selalu merindukan suasana mereka dilahirkan di dunia ini. Misalnya, Tolstoy sebagai penganut paham ini mengatakan:”sungguh bahagia jika aku tidak pernah dilahirkan, dan tetap berada dalam ketiadaan yang tanpa masalah itu.”

     Dari ketiga golongan tersebut, mungkinkah kita menganut salah satu dari mereka? jawabannya bisa kita temukan pada padangan kita terhadap realitas dan kehidupan pada umumnya. Namun demikian, ketiga golongan tersebut tidak sepenuhnya salah dalam konteks mencoba untuk berpikir dan bersikap, hanya saja perlu dikaji lebih jauh dan menjawab semua pertanyaan dari mulai pertanyaan yang paling sederhana sampai pada pertanyaan yang dinilai rumit. Untuk itu, dalam permasalahan ini, saya sendiri tidak sepakat jika hidup dimaknai sebagai sebuah perjalanan, mencari materi atau merupakan tempat singgah yang penuh dengan tragedi sebagai kaum nihilis. Akan tetapi, Martin Heidegger dalam being dan time menyodorkan sebuah cara memaknai hidup dengan being and nothing sebagai konswekuensi dari kemungkinan meng-ada. 

to be continues….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s