Tradisional Konservatif Dalam Islam

Konservatif  Oleh : Hendra Januar

Penjelasan mengenai tradisional konservatif dapat kita pahamai dari kata-kata tradisional yang berarti sikap dan cara berpikir serta bertindak yg selalu berpegang teguh pd norma dan adat kebiasaan yg ada secara turun-temurun. Tradisional dipahami dengan sifat konservatif[1]. Ia hanya melihat sejarah masa lalu sebagai inspirasi atau sesuatu yang harus dipertahankan. Akar teologis pemikiran tradisonalis adalah manusia itu harus menerima segala ketentuan dan rencana Tuhan yang telah dibentuk sebelumnya (Qodlo dan Taqdir). Meskipun manusia didorong untuk berusaha namun akhirnya Tuhan jualah yang menentukan hasilnya.

Ilmu pengetahuan dalam presfektif Islam berasal dari Tuhan. Jika terdapat perbedaan antara penginderaan (empiris-realis) dengan wahyu, maka pemikir Islam akan lebih mempercayai dan mandahulukan otoritas kebenaran wahyu daripada hasil penginderaan, karena kebenaran wahyu dianggap sebagai kebenaran sejati dan mutlak. Di samping itu, Islam klasik memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang utuh (Whole),terpadu (integrated), dan tersintesiskan (synsthesized) sehingga membentuk suatu harmoni. Pada masa Islam Klasik pendidikan dikelompokkan dalam dua kategori yaitu lembaga formal yang bercirikan eksklusif (sekolah dan universitas) dan lembaga sampingan (informal) (kuttab, masjid rumah ulama dan lain-lain) dengan cirinya bebas.

Kedua lembaga ini bersifat Teacher oriented yang memberikan peran yang sangat besar pada guru, termasuk dalam penentuan materi dan pemberian Ijazah. Wajar bila ada siswa memiliki ijazah lebih dari satu baik dalam satu bidang studi maupun berbagai bidang studi. Dengan ijazah ini mereka memiliki hak mengajar orang lain. Dari ijazah yang diperolehnya dapat dijadikan indikasi seberapa kualitas mutu ilmu seorang guru dan dengan siapa ia berguru apakah ia ulama terkenal atau tidak. Kurikulum di lembaga pendidikan Islam masa itu tidak menawarkan berbagai macam bidang studi atau mata pelajaran. Dalam suatu jangka waktu, pengajaran hanya mengajarkan satu mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa. Sesudah materi itu selesai, siswa dapat mempelajari materi lain atau materi yang lebih tinggi tingkatannya. Pelaksanaan proses belajar mengajar sepenuhnya tergantung pada guru yang memberikan materi pelajaran (Hanun Asrohah, 1999).

Ada beberapa karekteristik pemikiran pendidikan Islam tradisional yang bisa diungkap dalam konteks sejarah yaitu :

a. Orientasi Pendidikan Adalah Mengemban Misi Suci.

Orientasi pendidikan adalah mengemban tugas suci, menyebarkan agama. Titik tolak ini berkembang dari para sahabat sampai pada penyebar agama Islam awal termasuk di Indonesia. Para Wali (wali sanga) menyebarkan Islam di Indonesia berawal dari panggilan suci, menyampaikan amanat sehingga tujuan akhir yang ingin dicapai adalah mardlotillah, ridlo Allah SWT. Manusia pada satu sisi sebagai hamba Tuhan yang berbanding sejajar dengan makhluk lain – dengan segala bentuk ritualnya masing-masing -, pada sisi lain sebagai puncak ciptaan Tuhan manusia mengusung misi suci berdasarkan visi yang telah digariskan Tuhan sebagai “khalifah[2]

b. Melestarikan ajaran Islam.

Islam bisa berkembang dan bertahan karena pemeluknya berupaya untuk melestarikan ajarannya. Salah satu untuk melanggengkan ajaran Islam adalah dengan proses pewarisan ajaran, budaya, adat istiadat masyarakat beragama. Proses ini bisa dijalani melalui pendidikan karena pendidikan itu sendiri merupakan sarana atau wadah dalam rangka proses pentransferan nilai-nilai relegius. Melestarikan ajaran adalah tugas setiap muslim. Tugas yang diemban didasarkan pada panggilan suci untuk mewariskan nilai-nilai relegius pada generasi selanjutnya. Proses pelestarian ajaran Islam ini tidak hanya dilihat dari segi keilmuan saja tetapi juga dari pembentukan etika dan akhlak. Penanaman akhlak adalah suatu hal yang sangat penting dalam pewarisan dan pelestarian ajaran Islam ini. Tidak heran para peserta didik masa tradisional ini sangat santun baik kepada orang tua, lingkungan apalagi kepada para gurunya. Adab, etika sopan santun dijadikan alat untuk menentukan keberhasilan peserta didik.

c. Penguatan Doktrin Tauhid

Seting masyarakat masa itu belum mengenal Islam sehingga penyampaian nilai-nilai agama sangat sederhana. Sosio-kultur masih diwarnai dengan adat-istiadat setempat yang masih (di Indonesia) beragama Hindu, Budha, animisme dan diamisme. Tidak jarang penyebar agama Islam memakai pendekatan “culture approach”. Pendekatan budaya sebagai konsekwensi dari keadaan kultur masyarakat dimana para penyebar Islam awal berdakwah merupakan keniscayaan. Hal ini dilakukan karena pada awal-awal-awal penyebaran agama Islam, masyarakat masih memeluk agama dan kepercayaan setampat. Penguatan doktrin agama dengan menanamkan aqidah-tauhid menjadi garapan pertama di awal-awal pendidikan. Doktrin baru dengan meng”Esakan” Tuhan inilah yang diajarkan Nabi selama belasan tahun di Mekkah. Demikian pula pola dan metode yang dilakukan di Indonesia. Usaha ini sekaligus bertujuan untuk memperkokoh dimensi-dimensi keimanan.

d. Terfokus pada Pendidikan Keilmuan Islam.

Salah satu metode berfikir masyarakat tradisional Islam pada waktu itu adalah bagaimana mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada generasinya. Sehingga di tempat-tempat halaqoh yang diajarkan adalah terfokus pada ilmu-ilmu keislaman. Pendidikan tradisional belum menambahkan ilmu-ilmu yang berdimensi keduniaan. Masih seputar Al-Qur’an, Tarikh, Fikih, ibadah dan ilmu Islam lainnya. Usaha ini dilakukan Karena pada dasarnya umat pada waktu itu hanya ingin mentransfer melestarikan ajaran Islam yang luhur. Pendidikan akhlak sebagai inti dari semua materi keilmuan Islam memainkan peranan yang sangat dominant. Sehingga para peserta didik memiliki ahklak yang bermanfaat terhadap lingkungan baik keluarga, tempat belajar maupun untuk pribadinya sendiri.

e. Pendidikan Terpusat pada guru

   Dalam deskriptif aliraan tradisoanl guru menjadi pusat dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai tokoh sentral dalam usaha pentransferan ilmu pengetahuan, sebagai sumber ilmu pengetahuan, serba tahu sehingga gambaran mengenai guru adalah sosok manusia ideal yang selalu berwatak dewasa dan semua tingkah lakunya harus digugu dan ditiru oleh para peserta didiknya. Istilah yang dipakai dalam pendidikan Islam tradisional ini adalah syeikh, ustadz, kyai.

f. Sistem Pembelajaran.

      Sistem belajarnya memakai halaqoh, bekumpul, mengelompok setelah itu maju satu persatu. Sehingga bisa dikatakan bahwa sistem yang dijalankan dengan memakai dua pendekatan, kelompok dan individual. Dalam istilah pesantren ada sorogan dan bandongan. Sistem sorogan lebih berorientasi pada pendekatan individual, bimbingan pribadi sedangkan system bandongan adalah bimbingan kelompok.

g. Metode Mengajar

       Metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah metode ceramah. Metode ini paling dominan digunakan dengan diselingi dengan metode imla’, mencatat. Dominannya metode ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama perkembangan pendidikan belum semodern sekarang, kedua sarana prasarana masih sangat sederhana, ketiga saat itu metode ini sangat effektif dan efesien, keempat tidak memerlukan waktu untuk persiapan mengajar tergantung kelihaian guru.

Metode ceramah adalah dengan cara penyampaian informasi berupa ilmu pengetahuan melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Banyak sekali di dalam Al-Qur’an yang mengemukakan hal ini, diantaranya dalam surat An-Nahl 64 : وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ Artinya : Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[3]


[1]  mempertahankan yang lama.

[2] ” (QS Al-Baqoroh : 30) (Jalaluddin dan Usman Said 1994; 108).

[3] ( Moh. Rifa’i, 1991 : 246 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s