Siapakah Lao-Tze

Parmenides“Manusia bijak memperlakukan semua orang seperti anak-anak.”
Laot-Tzu, Bab 49

   Apakah Laot-Tze merupakan nama dari seseorang? Inilah yang masih menjadi perdebatan para sejarawan. Pasalnya, tokoh –yang mempunyai nama– tersebut disebut sebagai salah satu filsuf yang mempengaruhi peradaban Cina sampai saat ini. Hingga tidak jarang terlihat sikap bangsa China yang sangat toleran, ramah dan tekun dalam segala hal.    Ditambah kondisi alam dan sumber daya manusia yang mengalami akselerasi dalam segal bidang, tak terkecuali teknologi. Apakah yang sebenarnya yang melatar-belakangi pola pikir bangsa China yang mengakibatkan mereka seperti perahu yang kuat dihantam badai globalisasi dan modernisasi? Siapakah tokoh yang disebut Laot-Tzu itu? Bagaimana falsafah kehidupannya?

   Banyak tokoh yang melatar belakangi berdirinya prinsip-prinsip falsafah China, diantaranya Confucius, Mo Tzu, Chuang Tzu dan Laot-Tzu. Tokoh yang disebut terkahir inilah yang akan penulis bahas sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh. Tentunya, produk pemikiran dari Laot-Tzu sangatlah banyak, oleh karena itu tidaklah cukup dibahas semuanya disini. Penulis hanya akan membatasi pembahasan pada Biografi dan isi pemikirannya tentang sang “Thao” yang kemudian dikenal dengan istilah “thaoisme”.Dalam buku Filsafat China (dari Confecius sampai Han Fei Tzu), Soejono Soemargono menjelaskan bahwa kata Laot-Tzu adalah sebuah nama dalam bahasa China yang berarti “empu Tua”.

    Tidak ada satupun sejarawan yang menetapkan secara pasti kapan Laot-Tzu lahir, akan tetapi sebagian sejarawan menentukan tempat dia lahir, yaitu di Negara Ch’u yang terletak di daerah yang kini disebut sebagai propinsi Honnan di China. Selain itu, Laot-tzu juga disinyalir sejaman dengan Confusius yang menurut perkiraan umum telah memberikan pelajaran tentang “upacara spiritual”. Hal itulah yang menyebabkan muncul sebuah kitab yang diberi nama Laot-Tzu, kelak dikenal juga dengan nama sebagai Tao Te Ching yang berarti “kitab klasik mengenai jalan dan Dayana”. Kitab tersebut dipandang dan diakui oleh hampir seluruh sejarawan sebagai peletak batu pertama dalam membangun kefilsafatan di China. Akan tetapi, belakangan dunia modern mengeluarkan kesimpulan ganjil dengan mengatakan bahwa Laot-Tzu hidup jauh setelah Confusius.

Lao-Tzu: sebagai Tokoh atau sebagai nama sebuah Kitab?

Perdebatan tentang hal ini tidak bias dipungkiri lagi. Sebagian mengatakan bahwa Lao-Tzu hanyalah nama sebuah Kitab; Bukan nama seorang tokoh. Namun sebagian lagi mengatakan bahwa Lao-tzu merupakan nama seorang tokoh juga nama sebuah kitab yang dinisbatkan kepada nama tokoh. Masalah yang lebih serius dari itu adalah ketika masa hidup Sang tokoh Lao-Tzu terpaut jauh dari kitab yang berjudul Laot-Tzu.

Secara historis, memang terdapat nama Lao-Tzu jauh sebelum Confusius yang dikatakan bahwa nama keluarganya bernama Li, sedangkan nama pribadinya ialah Tan. Dalam hal ini, tidak ada pernyataan apakah Kitab yang berjudul Lao-Tzu memang ditulis oleh tangan dari tokohnya sendiri atau bukan. Hal ini masih menjadi kajian serius bagi sejarawan. Karena itulah para pemikir lebih menarik mengkaji isi filsafat Lao=Tzu dari pada asal-usul sang tokoh sampai kepada kitab yang dinisbatkan kepada Lao-Tzu itu.

Lao-Tzu, baik disebut sebagai sebuah nama kitab ataupun diyakioni sebagai nama seorang tokoh, keduanya memiliki peranan penting dalam perkembangan filsafat China selanjutnya. Kedua akan selalu bergandengan dalam eksistensinya dalam sejarah peradaban china, dan hal inilah yang penulis duga bahwa kitab tersebut adalah nama sebuah kitab yang pada saat yang sama juga nama seorang tokoh yang mengarang kitab tersebut. Oleh karena itu, lebih baik diyakini keduanya benar dari pada menegasikan salah satu keduanya, karena hal tersebut akan berakibat pada kerancuan referensi. Disatu sisi, Lao-Tzu sebagai tokoh tidak meninggalkan satu bentuk karya pun, sementara di sisi lain ada sebuah sebuah kita yang bernamakan Lao-Tzu.

Dalam kitab tersebut, sebenarnya terdiri dari beberapa bab yang merupakan perkataan Lao-Tzu yang disebut sebagai sang Guru. Bab-bab tersebut ditulis dengan gaya sastra yang cukup tinggi dan memiliki tingkat paradox yang tinggi pula. Misalnya, dalam bab 21, lao-Tzu mengatakan:”…keberhasilan dan kegagalan sama bahayanya.” Kalimat tersebut sepintas mempunyai makna bahwa keberhasilan dan kegagalan bukanlan suatu tujuan, melainkan –sebaliknya –harus dihindari demi menggapai tujuan yang sebenarnya. Tujuan yang sebenarnya, dimaksudkan oleh Lao-Tzu sebagai Thao yang dijadikannya sebagai prinsip filsafat yang menaungi segala bentuk pemikiran yang hendak mencari makna kehidupan. Sedangkan makna kehidupan itu sendiri taK bias diraih tanpa meninggalkan semua keinginan semu mamnusia, yaitu keinginan untuk berlomba, yang pada akhirnya melukai manusia lain.

Kalau kit abaca secara seksama, ajaran yang ditanamkan Lao-Tzu melalui kitabnya, memiliki nilai mistik yang tinggi. Nilai-nilai mistik tersebut menuntut akal kita untuk menggali lebih dalam agar terhindar dari penilai-penilaian yang tidak relevan dengan maksud pengarang. Karena kata-kata yang dirangkai oleh Lao-Tzu merupakan aksioma-aksioma yang padat, juga merupakan hasil pemadatan makna dari segala deskripsi dan argumentasinya.

    Dengan ini, penulis tidak berani menegaskan bias historis yang mengatakan bahwa antara Lao-Tzu sebagai tokoh juga sebagai nama sebuah kita tidak ada kaitannya sama sekali. Semata-mata karena kitab tersebut sangat jelas memuat perkataan-perkataan Lao-tzu yang asli bahkan tidak tidak ditemukan di kitab lain. Penulis hanya bisa mengungkapkan bahwa semua karakter dan system pemikiran filsafat dalam buku tersebut tidaklah mungkin berasal dari masa yang sejaman dengan atau sebelum masa Confusius.

Apakah Tao itu?

Kata Tao itu sendiri mengacu pad system filsafat atau pemikiran Lao-Tzu. Dewasa ini, istilah Tao sering digunakan bagi sesuatu yang lebih bersifat mistik ketimuran, khususnya filsafat China. Disebut mistik karena Tao sendiri mengejar kebahagian yang tidak terletak pada makna lahiriah, lebih jauh dari itu, Tao mengajarkan bagaimana menemukan makna dari “apa yang ada dibalik ragawi dan lahiriah.” Dunia lahirian adalah dunia kasat mata yang bisa ditangkap oleh panca indra, dan dengannya manusia hidup bersosial serta berkomunikasi sampai masuk pada system jual-beli materi. Akan tetapi, dunia materi ini seringkali terjadi sebuah fatamorgana yang tak bisa dihindari. Fatamorgana tersebut bukan hanya terletak pada pandangan mata yang melihat objek luar secara keliru, melainkan juga masuk pada pengertian-pengertian umum tentangnya. Hingga, tidak jarang ditemukan pertarungan pengetahuan indrawi yang tak berujung. Malah, alih-alih untuk kemaslahatan manusia, produk pengetahuan ini menjadi kontra produktif (misorientasi).

    Ketika manusia menyaksikan realitas eksternal, mereka melihat objek-objek tersebut secara jelas. Dan dengan itu pula mereka tidak mengalami kesulitan ketika mengungkapkannya dengan bahasa lisan ataupun ketika masih diolah dalam pikiran. Akan tetapi, sebenarnya, tanpa disadari apa yang mereka katakana hanyalah kumpulan dari nama-nama objek yang kemudian disusun subjek dan predikatnya hingga menjadi kalimat. Maka, persoalannya disini adalah, apakah nama-nama tersebut memiliki makna bahwa segala yang diberi nama harulah Nampak sebagai sesuatu yang bisa diindrai?

     Tak diragukan lagi, bahwa segala yang Nampak sebagai benda materi mempunyai symbol-simbol yang disebut sebagai nama. Ketika seseorang menyebut kata “Kursi”, maka lawan bicara akan memahami perkataan itu dengan menunjuk benda yang berkaki empat dan mempunyai sandaran kemudian dijadikan tempat duduk. Ataupun ketika saya mengatakan satu kata “Buku”, maka pembaca akan langsung memahami setidaknya ada satu benda dengan tumpukan kertas yang tersusun rapid an memiliki sub-sub judul. Akan tetapi, berbeda jika saya menyebut satu nama, misalnya “Malaikat”. Tentu seseorang yang mendengarnya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk malaikat, kecuali hanya terbayangkan wujud malaikat yang bisa disimbolkan dengan jubbah hitam atau putih dan membawa tongkat. Hal ini terjadi karena Malaikat bukanlah objek indrawi yang bisa dilihat dengan mata telanjang, yang kemudian bisa masuk ke alam memori pikiran manusia.

     Kemudian, jika saya menyebut kata “Tao”, tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkan apa itu atau siapakah itu. Karena Lao-Tzu sendiri memang mengatakan bahwa Tao bukanlah entitas yang bisa diberi nama, itu karena Tao sendiri diluar dari kesamaan dengan entitas-entitas indrawi. Maka dari itulah, Tao merupakan wujud yang diluar ruang dan waktu. Jika jika menyebut kata “tao”, kata tersebut bukanlah menunjuk pada Tao sebagai tao, melainkan hanya sebagai istilah yang digunakan untuk menunjuka sesuatu yang tidak terbatas. Tidak seperti ketika seseorang menyebut kata “meja”, maka meja yang ia sebut menunjuk pada meja yang sebenarnya. Sementara Tao, mungkin, mungkin tao itu sendiri.

       Di dalam kita Lao-Tzu bab pertama disebutkan bahwa Tao yang diberi nama bukanlah tao yang kekal nan abadi, karena nama yang bisa disebut dengan sebuah nama bukanlah sesuatu yang abadi. Ia akan hilang, rusak atau bahkan direduksi dengan istilah lain. Maka, boleh saja bagi kita untuk mengganti Tao menjadi Helmet misalnya, karena Tao yang kita sebut bukan Tao yang sebenarnya. Kemudian dalam bab tiga puluh, Lao-Tzu mengatakan;…”Tao bersifat abadi, tidak bisa diberi nama, belum terukir.” Dari perkataan itulah Tao juga bisa diartikan sebagai “balok yang belum terukir.”

      Di dalam system filsafaty Tao, terdapat peralihan antara “Yu yang berarti “yang ada” dengan “wu” yang berarti “bukan yang ada”, dan antara “yu ming” yang berarti “ mempunyai nama” dengan “wu ming” yang berarti “tidak mempunyai nama, tidak diberi nama.” Pemilahan semacam ini merupakan satu macam pemilahan, karena yu dan wu merupakan satu ringkasan antara yu-ming dan wu-ming. Dan juga, pemilahan seperti ini untuk mempermudah pembahasan selanjutnya bahwa ada sesuatu yang abadi da nada sesuatu yang tidak abadi. Yang abadi bisa dikatakan sebagai “wu’ dan yang tidak kekal disebut dengan “yu”.

      Jika tao bukanlah sesuatu yang bisa diberi nama, maka ia bukanlah sesuatu itu, melainkan keabadian sebelum munculnya nama-nama. Darinya muncullah yang satu, dari satu satu muncul yang tiga dan seterusnya. Oleh karena tao sendiri bersifat abadi dan kekal adanya, maka kehidupan manusia yang penuh dengan pengertian-pengertian tentang nama-nama, haruslah kembali pada pondasi keabadian Tao. Dan ini bukanlah sesuatu yang mustahil, karena dalam diri manusia ada sisi “yu-ming” yang merupakan peneluran dari “”wu-ming”. Selain itu, manusia juga mempunyai jiwa yang tidak dibatasi oleh indra, karena itulah jiwa manusia juga tidak terbatas. Akan tetapi ketidak-terbatasannya masih dibatasi oleh ketidak-terbatasannya sendiri. Mengapa? Karena jiwa (ruh) manusia masih berada dan terikat oleh alam materi.

         Satu-satunya jalan untuk kembali dan menyadari keberadaan tao yang tidak terbatas itu, ialah menghindari keinginan-keinginan yang bersifat indrawi. Karena keinginan ataupun kehendak semacam itu, pada gilirannya akan menghancurkan jiwa. Karena jiwa senantiasa menuntut manusia untuk menyadari serta kembali pada sesuatu yang abadi dan sederhana.

        Jadi, intinya, sang tao merupakan istilah yang Lao-tzu gunakan untuk menunjuk pada sesuatu yang abadi. Walaupun pada saat yang sama, Tao sendiri bukanlah tau yang sebenarnya. Akan tetapi karena manusia butuh bahasa untuk mengajarkannya kepada orang lain, maka yang abadi (yang belum terukir) itu perlu diberi nama. Setelah manusia sadar akan adanya entitas yang mengawali sebagal realitas, maka seyogyanya manusia kembali pada kesadaran akan keabadian Tao yang dirumuskan dalam Yu dan Wu. Inilah kunci kebahagian sejati menurut Laot-Tzu. Jika tidak, maka manusia selamnya akan berada dalam kebimbangan yang tiada henti. Kebimbangan yang hanya merusakan jiwa manusia sampai pada tahap kehilangan arah dan tujuan. Karena keinginan-keinginan mereka di dunia ini hanyalah bersifat materiil semata, sementara materi senantiasa bergerak dan berubah. Dan yang bergerak akan mengalami perubahan, berubah berarti dari tiada akan menuju tiada kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s