Analisis Epistemologi Parmenides

parmenides“Apapun yang ada bagi yang ada dan bagi berpikir ia ada; Sebab ia bisa ada, dan tidak ada yang tidak bisa ada.”

-Parmenides

    Parmenides merupakan salah satu filsuf pra-Socrates yang popular dengan sebutan filsuf makro-kosmis. Sebutan tersebut didasarkan pada objek pembahasan yang cenderung alamiah (pembahasan segala sesuatunya berawal dari hasil pengamatannya atas alam semesta). Akan tetapi, dengan potret demikian, tidak melazimkan bagi para filsuf setelahnya memberikan justifikasi epistemologis yang ketat bagi kesimpulan-kesimpulan filosofis yang ditawarkan. Karena, dengan beberapa alasan: Pertama, belum adanya pembagian kajian filsafat seperi dewasa ini, sepeti ontology, epistemology dan aksiologi.[1] Kedua, belum adanya metodologi yang disepakati oleh para filsuf pra-Socrates, sehingga mengakibatkan kondisi yang cenderung parsial. Ketiga, tidak ada satupun peninggalan atau karya asli filsuf jaman itu yang sampai saat ini masih utuh –jika tidak dikatakan salinan, sehingga sulit mencari referensi otentik untuk menganalisis sistematika pemikirannya.

    Walaupun demikian, saat ini penulis memberanikan diri untuk memberikan analisis epistemologis terhadap pemikiran Parmenides. Hal ini semata-mata untuk mempermudah kajian dalam eksplorasi yang lebih mendalam, yang kemudian bisa diterapkan lebih jauh dalam kehidupan dewasa ini. Selain itu, tentu saja, tidak ada satu pun analisis yang sampai kepada kesimpulan final hingga menjadi produk anti-kritik, termasuk tulisan ini. Bisa dikatakan ini merupakan hipotesa awal –jika kita memakai term induktif –untuk kemudian dicari kembali kevalidan data dan kesahihan rasional di dalamnya, seperti hantaman Karl Raimun Popper terhadap metode verifikasi empiris.[2]

Isi Filsafat Parmenides

    Untuk memahami lebih mudah apa yang dipikirkan oleh Parmenides tentang penemuan filsafatnya, alangkah baiknya jika memulai dari pembahasan tentang sesuatu yang “berubah” dan sesuatu yang “tetap”. Berubah yang dimaksudkan oleh Parmenides adalah sesuatu yang bagi dirinya sendiri merupakan suatu kontradiksi yang meniscayakan ketiadaan bagi dirinya. Maksudnya, perubahan mempunyai arti bahwa segala sesuatu yang berawal dari ketiadaan lalu menjadi ada kemudian ia muncul kembali, itu artinya semua proses menjadi adalah sebuah ketiadaan. Hal itu terjadi karena “ketiadaan” tidak mungkin menghasilkan “ada”.[3] Karena ketiadaan tidak akan mungkin menjadi sebab bagi adanya yang “ada.” Selamanya, yang melahirkan “ada” adalah yang “ada”.[4]

    Parmenides secara jelas mengatakan bahwa hanya “yang ada” itu “ada.”[5] Karena semua entitas di alam semesta senantiasa abadi sebagaimana yang ada sebagai sesuatu yang tetap juga bersifat abadi. Dari sini muncullah sebuah pertanyaan, sebagaimana Bertnand Russel mengrikitiknya dengan sebuah pernyataan:”Jika yang ada itu bersifat abadi, tentunya sampai saat ini masih ada hewan-hewan purba atau akan nampak di realitas sebagal apa yang ada dalam imajinasi. Akan tetapi, nyatanya semua itu tidak ada saat ini realitas ekternal atau tidak mungkin berita tentang imajinasi akan muncul di realitas sebagaimana realitas yang bersifat materiil.”

     Untuk menjawab problem ini, sebenarnya, Parmenides membagi pengetahuan menjadi dua kategori: pengetahuan empiris dan pengetahuan rasional. Pengetahuan empiris adalah pengetahuan yang berdasarkan pengalaman. Artinya segala pengetahuan manusia tidak terlepas dari informasi-informasi dari masa lalu. Berbeda dari pengetahuan empiris, pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang bersifat murni (absolute). Sehingga pengetahuan rasional dalam diri manusia tidak ada di realitas materil( pengalaman). Dari sini, bisa diambil sebuah jawaban bahwa yang dimaksud oleh Bertnand Russel adalah pengetahuan empiris yang tentu mengalami perubahan, salah satunya adalah berubah menjadi tiada. Sehingga dalam hal ini, Parmenides memaksudkan ide tentang “segalanya adalah tetap” hanya ada dalam alam internal (baca:mental).

    Selain membahas tentang yang tetap dan yang berubah dalam aspek objek, Parmenides juga membahas tentang kebenaran yang “satu”.[6] Kebenaran yang satu dimaknai olehnya sebagai sesuatu yang mutlak yang darinya muncullah keberagaman. Alur pemikiran Parmenides ini dipengaruhi salah satunya oleh Xenophanes (570-480SM), filsuf Yunani yang lahir di Cholopon, Ionia. Parmenides, atas pengaruh Xenophanes, membagi kebenaran menjadi dua bentuk. Pertama, kebenaran absolut, mutlak, tetap dan apa adanya. Kedua, kebenaran pendapat manusia yang tidak ada kebenaran di dalamnya, yang ada hanyalah prasangka manusia. Prasangka itulah yang mengatakan ada yang banyak, padahal yang banyak itu tidak ada.[7] Maksudnya, prasangka manusia senantiasa akan melahirkan keyakinan bahwa yang banyak itu ada, padahal semuanya itu hanya merupakan segala sesuatu yang mengada, oleh karenanya akan “hilang”.

    Kemudian, jika muncul sebuah pertanyaan,”apa itu yang ada?”, Parmenides tidak mendefinisikan hal tersebut, akan tetapi ia hanya menyebut beberapa sifat “yang ada” yang meliputi segala sesuatu. Menurutnya, “yang ada” tidak bergerak, tidak tergoyahkan, tidak berubah, tidak terhancurkan dan tidak dapat disangkal. Sifat-sifat tersebut muncul karena “yang ada” itu memang “ada”. Untuk lebih mudahnya, perhatikan skema berikut:

Pernyataan Kesimpulan
Yang ada itu tidak ada Yang ada itu ada
Yang ada itu tidak Orang tidak dapat menyangkal adanya yang ada

    Dari skema tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa “yang ada” itu tidak tidak bisa disangkal keberadaannya. Karena ketika manusia menyangkal adanya yang “ada”. Sebelumnya manusia tersebut sudah mempunyai konsep tentang “yang ada”, kemudian dia memberikan predikat sebagai penyangkalan terhadap yang ada. Jika demikian, muncullah sebuah pertanyaan, “apa standar kebenaran dan ukuran bagi Parmenides dan bagaimana hal tersebut dapat dipahami?” untuk menjawab ini Parmenides mengatakan bahwa ukuran kebenarannya adalah logika yang konsisten.[8] Sebagai contoh, ada tiga cara berpikir tentang Tuhan: (1) ada, (2) tidak ada. (3) ada dan tidak ada. Cara berpikir seperti ini tentu tidaklah konsisten, maka semuanya bisa dikatakan salah, karena terdapat inkonsistensi di dalamnya. Akan tetapi, yang benar adalah: (1) ada, (2) tidak meyakini yang tidak ada sebagai ada karena yang tidak ada pastilah tidak ada, (3) pun tidak mungkin, karena tidak mungkin Tuhan itu ada sekaligus tidak ada.[9]

    Sampai sini, sangatlah jelas bahwa Parmenides sedang berbicara wilayah internal (baca: akal/dzihni). Hal ini dikarenakan akal yang mengambil konsep universal dan darinya pula pengetahuan tentang yang ada menjadi abadi.[10] Akan tetapi, penulis belum berani memastikan apakah epistemologi yang digunakan Parmenides. Walaupun demikian, di pembahasan berikutnya, penulis akan membahas sedikitnya analisis tentang apakah epistemologi Parmenides.

Telaah Epistemologi

    Diawal telah dijelaskan tentang Isi filsafat Parmenides yang memungkinkan untuk dikaji sisi epistemologinya. Jika dilihat secara sepintas saja dari isi filsafat dan pemikiran Parmenides, maka akan ditemukan sisi epistemologinya untuk kemudian dimasukkan dalam kategori aliran epistemologi tertentu. Oleh karena Parmenides berbicara tentang sesuatu “yang ada”, dan oleh karenanya pula dia menjadi “tetap” (tidak berubah, tidak rusak). Dan sesuatu yang tetap berada di wilayah mental (baca:akal), yang pengetahuan akal dalam membandingkan dua hal ataupun menarik konsep universal dari segala sesuatu itu bersifat abadi dan tidak akan pernah hilang. Dari sinilah postulat pertama bahwa Parmenides menggunakan akal sebagai basic epistemologinya dalam menentukan sumber pengetahuan.

    Persoalannya tidak cukup sampai disini, karena kesimpulan yang demikian akan ditarik kembali pada realitas eksternal yang selalu dalam perubahan. Muncul pertanyaan, misalnya,”Dari mana Parmenides mengetahui bahwa ‘yang ada’ itu tetap dan abadi?” pertanyaan yang syarat akan penggunaan disiplin epistemologis ini perlu dijawab secara serius. Karena, memang benar, bagaimana Parmenides mengetahui adanya yang tetap sebelum dia melihat realitas yang berubah dan darinya dia mengambil kesimpulan adanya yang tidak berubah. Akan tetapi, masalahnya kemudian, jika Parmenides mengambil kesimpulan bahwa ada “yang ada” dari hasil abstraksinya terhadap adanya “yang tidak ada”, maka itu menjadi sesuatu yang mustahil. Disebut mustahil karena “ketiadaan” memang tidak ada dan tidak mungkin diabstraksi dari realitas eksternal.

    Untuk menyelesaikan hal ini, tidak ditemukan dari pemikiran Parmenides tentang kegunaan proposisi.[11] Karena dalam perkataannya sendiri, masih terlihat belum diklasifikasi ataupun diuraikan dengan terperinci. Boleh jadi hanya terdapat logika konsistensi yang ia gunakan untuk menentukan sebuah proposisi dikatakn benar jika konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Pernyataan sebelumnya yang dimaksud adalah proposisi awall yang mengantarkan pada proposisi berikutnya, hingga sampai kepada kesimpulan. Hal ini menunjukkan bahwa Parmenides dengan ketat menggunakan rasio untuk menjelaskan isi pemikirannya.

    Seperti penjelasan sebelumnya, Parmenides membagi pengetahuan menjadi dua: pertama, pengetahuan yang bersifat indrawi. Pengetahuan jenis adalah pengetahuan yang objeknya merupakan realitas empiris. Oleh karena itu, pengetahuan ini senantiasa berubah sesuai dengan perubahan empiris. Karena perubahan terjadi pada yang pertama ini, maka pengetahuan semacam ini tidak dikatakan ada secara hakiki. Sebagaimana hewan yang bernama Dinosaurus yang dulu pernah ada, akan tetapi saat ini telah punah dan tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ada (objeknya tidak ada di realitas eksternal).

     Kedua, adalah pengetahuan nalar atau akal yang bersifat kekal dan tidak berubah. Oleh karena tidak berubah, maka pengetahuan ini disebut “ada”. Sehingga yang ada adalah ada itu sendiri. Pengetahuan kedua ini tidak bergantung pada realitas empiris (atau dalam bahasa selanjutnya disebut pengetahuan diluar dari pengalaman (aprior)). Nah, pengetahuan jenis kedua inilah yang dimungkinkan disebut sebagai dasar epistemology Parmenides. Semata-mata karena pengetahuan yang dikatakan benar menurutnya adalah pengetahuan akal atau nalar. Jika demikian adanya, maka bisa dikatakan bahwa Parmenides menjadikan akal sebagai basic epistemnya. Akan tetapi, tidak seperti kaum rasionalisme yang muncul belakangan, Parmenides masih bisa dikatakan sebagai rasionalis klasik yang masih murni bergantung pada konswekuensi logis dan konsisten dari akal. Sehingga, standar kebenarannya belum bisa dipastikan bersifat konsistensi yang kelak dijadikan setandar kebenarn umum.

    Konsistensi benar dalam berpikir tidak berarti meniscayakan bahwa yang benar adalah yang konsisten secara murni. Karena kesalahan dan kontradiksi-kontradiksi yang sangat nyata bisa diperoleh melalui urutan pernyataan yang konsisten. Misalnya, seperti yang telah disinggung di atas bahwa ‘ketiadaan menjadi sebab bagi tidak adanya akibat.” Proposisi tersebut jika urutkan menjadi sistematika konsiten, akan tetapi kurang tepat dalam peletakkan realitasnya. Karena ketiadaan yang mutlak hanya beroperasi di wilayah internal. Oleh karena itu, konsistensi Parmenides cukup berproses pada pembahasan “yang ada’ sebagai yang abadi dan yang “tidak ada” sebagai yang berubah. Karena yang ada melahirkan ada, dan tidak ada tidak melahirkan apapun (bukan melahirkan ketiadaan)…[]


[1] Pembagian disiplin pembahasan dalam filsafat, pertama kali digagas oleh  Keppler (1809-1882), yang kemudian diperjelas oleh filsuf empirisme, John Lock. Lihat, Epistemologi Fundasional, hal. 36.

[2] Popper mengkritik metode verifikasi dalam konfirmasi hipotesis, dia memberikan gagasan Falsifikasi, sehingga muncul tentative theory. Walalupun kemudian Popper dikritik kembali oleh Thomas Samuel Kuhn dengan “revolusi ilmiahnya.” Lihat, Epistemologi Modernis, hal. 211

[3] Bandingkan dengan Filsafat Dialektika Hegel yang mengatakan bahwa dari dua entitas yang berlawanan akan menghasilkan sesuatu yang baru yang disebutnya sebagai sintesis. Sintesis ini akan menjadi tesis kembali bagi antitesis berikutnya, dst. Lihat Filsafat Modern, hal. 53

[4] Lihat, Bidayah Al-hikmah, hal.22. dalam halaman tersebut secara eksplisit muncul pertanyaan Ibnu Sina sebagai kritikan atas pembagian ketiadaan menjadi Mutlak dan Nisbi. Ibnu Sina mengelurakan pertanyaan,”ketiadaan menjadi sebab bagi tidak adanya akibat”.

[5] Kanisius, Petualangan Intelektual, hal. 47

[6] Kebenaran yang satu disini tidak seperti Thao dalam filsafat Lao-Tzu yang mengatakan bahwa kebenaran (thao) adalah sesuatu yang tidak memiliki segala karakteristik seperti entitas lain. Kebenaran itu tidak mempunyai nama, sifat tempat dan waktu, tapi darinya muncullah segala sifat tersebut dan lahirnya keragaman. Lihat, Filsafat Timur, hal. 61.

[7] Mohammad Hatta, Sejarah Filsafat Yunani, hal. 22-23

[8] Akhyar Yusuf, Epistemologi Fundasional, hal. 30

[9] Lihat, A history Of philosophy, hal. 48

[10] Pembahasan Parmenides tentang hal ini belum didapatkan referensi secara khusus, hingga sulit menklasifikasi pemikirannya atau mengklarifikasi batas pengetahuan. Apakah pengetahuan tentang Ada didapatkan dari pengalaman seperti Aristoteles ataukah dari Ide Mutlak? Semuanya belum pasti. Dan hal ini terkait dengan epistemologi. Lihat, Akhyar Yusuf, Epistemologi Fundasional, hal. 45

[11] Tidak seperti di filsafat Islam, khususnya Mulla Sadra, yang membagi proposisi menjadi dua kategori: Hamlu Aw-wali dan Hamlu As-Syai. Yang pertama menjelaskan bahwa subjek dan predikat dalam satu proposisi memang terpisah, baik di alam akal atau di realitas eksternal. Sementara yang kedua, dijelaskan bahwa predikat dan subjek hanya bisa dipisahkan di alam akal (di realitas eksternal keduanya berada dalam satu tempat, misalnya: Ahmad itu Ustadz). Untuk lebih jelas, lihat Tabataba’I  dalam Nihayah Al-Hikmah, hal. 22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s