Di Balik Jendela Bangsa

Cahaya Nirwana bersembunyi dibalik kesaksian

Mengintip gala pertempuran di atas darma kehidupan
Aku bertanya, siapa yang berkuasa atas cinta dan kasih sayang ?
Semua mulut membungkam, hanya terdengar gigi grahamnya gemetar tak menentu
Dalam gelap, aku mencium bau amis darah manusia
Berserak potongan tubuh, membusuk dan hilang terhembus angin malam
Aku bertanya, siapakah yang berkuasa atas darah dan kematian?
Semua mata terpejam, hanya terdengar desas-desus suara tak berarti
Jerit tangis manusia menelusuri bait-bait kematian
Burung menjadi saksi kejahatan tersembunyi
Kemarilah wahai burung ! katakanlah rencana apalagi yang hendak mereka bidikan kepada kami ?
“Persiapkanlah pedang kalian, bunuhlah apa yang kalian lihat!” jawab burung.
Dalam hati, aku menangis
Dalam kepalan tangan, aku berontak
Ada yang tidur, ada yang duduk
Ada yang berdiri, ada yang berlari
Mereka yang tidur lupa diluar terjadi pertempuran
Mereka yang duduk tak mendengar diluar terjadi pembantaian
Mereka yang berdiri melirik-lirik mencari tempat bersembunyi
Mereka yang berdiri bertanya, aku mau pergi kemana ?
Jika aku hidup, merekalah yang harus mati
Jika mereka hidup, akulah yang mati
Jika aku dan mereka hidup, siapakah yang harus mati karena berbuat kesalahan?
Jika aku dan mereka mati, siapakah yang pantas hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s