Jawaban-jawaban atas Makna Hidup

Sepanjang hidupku, aku berusaha merentangkan pikiranku sampai batasnya, sampai mulai berderit, untuk menciptakan sebuah pemikiran besar yang mungkin bisa memberi makna baru bagi kehidupan; sebuah makna baru untuk kematian, dan untuk menghibur umat manusia.“~ Nikos Kazantzakis

Dan jawaban-jawaban atas makna hidup, saya rangkum dalam tiga kategori: (rangkuman ini tidak mutlak)

(1) Jawaban negatif (nihilistik)–kehidupan tidak mempunyai makna. Jawaban ini tercermin dalam tiga bagian:
A. Peneguhan (affirmation)–adalah baik bahwa hidup tidak bermakna.
B. Penerimaan (acceptance)–adalah buruk bahwa hidup tidak bermakna, tapi kita menerima hal ini;
C. Penolakan (rejection)–adalah buruk bahwa hidup tidak bermakna, dan kita menolak hal ini;

(2) Jawaban Agnostik (skeptik)–kita tidak tahu apakah hidup itu bermakna atau tidak. Dua jawaban turunannya;
A. Pertanyaan tentang apakah hidup punya makna atau tidak, itu tidak masuk akal.
B. Pertanyaan tersebut masuk akal, tapi kita tidak tahu apakah kita dapat menjawabnya.

(3) Jawaban positif –hidup memiliki makna;
A. Jawaban supernatural (theistik) –makna hidup datang dari Tuhan.
B. Jawaban natural (non-teistik) –makna hidup diciptakan/diungkap dalam dunia natural (alamiah). Jawaban ini melahirkan jawaban yang terkait status makna hidup alamiah:
[i] Makna itu objektif, ditemukan atau diungkap oleh individu.
[ii] Makna itu subjektif, dibuat atau diciptakan oleh individu.

Bercermin ke India

“Seandainya agama diubah jadi kemanusiaan.”

Taslima Nasrin menulis kalimat itu di awal novelnya, “Lajja”. Novel ini bercerita tentang konflik agama di Bangladesh- anak benua India. Cerita diawali penghancuran dan pembakaran mesjid Babri, pada 6 Desember 1992 oleh fundamentalis Hindu.

Mesjid Babri itu awalnya kuil tempat lahirnya Sri Rama, kuil bersejarah yang dibangun pada abad-16.

Para fundamentalis Hindu yang militan, menghimpun kekuatan untuk kembali merebut tempat suci itu. Perang tak terelakkan. Mereka saling menghabisi atas nama Tuhan.

Pembakaran mesjid Babri menjadi titik awal yang membuat suasana semakin mendidih. Rentetan perang berikutnya menanti. Bukan hanya di India, aksi brutal atas nama agama meletus dahsyat sampai ke Bangladesh. Di sana umat Hindu sebagai minoritas dikejar-kejar, dihabisi, dibunuh, oleh fundamentalis Muslim sebagai buntut pembakaran mesjid Babri.

Sebagai upaya menyelamatkan diri, sebagian umat Hindu mengubah namanya menjadi ke arab-araban. Mereka terpaksa menghapal “dua kalimat syahadat” dan doa-doa kaum Muslim. Sudhamoy, misalnya, mengubah nama menjadi “Sirojuddin Husein” agar lolos dari pengintaian tentara Pakistan.

Dan Taslima Nasrin, penulis novel ini, adalah seorang perempuan Muslim.

Bagi Nasrin, “My pen is my best weapon”. Tulisannya yang penuh gejolak dan kritik tajam terhadap agamanya sendiri, membuat ia harus rela dikejar-kejar oleh sesama Muslim. Nyawanya terus diburu. Kepalanya dihargai ribuan dinar. Sampai-sampai ia tak punya tempat tinggal, hidup melancong ke berbagai Negara.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini?

India mulai bangkit dari kekeliruan berpikir tentang agama; Indonesia meneruskan kekeliruan itu.

Meskipun tidak sebesar di India, rentetan konflik antar agama di Indonesia menjadi potensi yang bisa meledak di kemudian hari. Munculnya gerakan-gerakan Islam garis keras akan memicu lahirnya perlawanan. Seperti kata Pram dalam Bumi Manusia,”Lama-lama orang akan bosan dengan ketakutannya sendiri.”

Pilkada DKI, dan mungkin Pemilu Presiden mendatang, gerakan atas nama agama sulit dihentikan. Mereka seperti mati satu tumbuh seribu. Menularkan paham idiologi keras pada anak dan cucu mereka. Generasi mendatang adalah generasi berdarah.

Maka, menurut saya, diperlukan dua hal: pertama, ajarkan generasi berikutnya logika dan berpikir kritis. “Self-criticism” perlu ditularkan. Mengoreksi dan mengkritisi pemikiran sendiri sebelum menghantam orang lain. Kedua, perlu ada tokoh yang menampilkan diri sebagai jelmaan dari cinta dan kasih sayang yang menyeluruh dan universal.

Semoga ke depan bisa lebih baik.

Hendra Januar

Cukupkah Bahasa Indonesia?

Barangkali bahasa Indonesia dibuat sebagai alat komunikasi paling sederhana. Sistem morfologi dan leksikalnya tidak terlalu rumit. Sebagai bahasa nasional yang representatif dari ratusan bahasa lokal, bahasa Indonesia memang layak dijadikan lingua franka.

Tetapi di sisi lain, ada banyak istilah di barat tak punya padanan kata yang cocok dalam bahasa Indonesia. Saya sering menemukan istilah-istilah yang hilang maknanya ketika berusaha diterjemahkan ke dalam bahasa nasional kita. Padahal, istilah-istilah itu adalah jantung pemikiran beberapa gagasan yang muncul di barat.

Sebut saja kata “Dasein”, bahasa Jerman yang berarti “Being-in-the-world” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, paling maksimal kita menerjemahkannya menjadi “Ada-di-dunia”. Istilah yang pertama kali diciptakan oleh Martin Heidegger dalam karyanya “Sein un Zeit” (Being and Time, Ada dan Waktu).

Contoh paling mudah ditemui, misalnya, pada kata “phenomena” dan “noumena”, “substance” dan “essence”, “transcendence” dan “immanence”. Phenomena bisa kita sebut dalam bahasa Indonesia juga “fenomena”, dengan mengubah P jadi F. Pengertian asli fenomena adalah kenyataan yang terlihat oleh indra, sedangkan noumena (Indonesia: nomena) adalah kenyataan yang tak bisa dijangkau indra. Mungkin kata “kasat mata” dan “tak kasat mata” terlihat cocok untuk mewakili dua istilah itu. Tapi, sekali lagi, maknanya hilang.

Sebagaimana istilah “substance” dan “essence”. Keduanya seringkali diterjemahkan menjadi “inti” atau “intisari”, atau ada juga yang menggunakan kata “hakikat” (meskipun kata hakikat bukan asli bahasa Indonesia, ia hasil serapan dari bahasa arab “haqiqah” yang berarti “yang-benar”). Baik inti, intisari dan hakikat, ketiganya mengaburkan makna sebenarnya. Pengertian substance adalah kenyataan yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan lokus untuknya bisa menampakkan diri. Dan essence meliputi substance, accident dan existence. Maka terpaksa, bahasa Indonesia cukup mengatakan substansi, esensi, aksiden dan eksistensi, demi menyelamatkan muatan maknanya.

Kita bertanya-tanya, kenapa banyak sekali istilab barat yang sulit diterjemahkan? Selain jawabannya adalah faktor simplisitas bahasa Indonesia, jawaban lainnya karena istilah-istilah tersebut lahir dari proses permenungan, penelitian, filosofi, yang mewakili gagasan tertentu. Dalam arti, satu istilah bisa mewakili ratusan premis yang terkandung di dalamnya. Sedangkan di Indonesia sedikit pemikir, sedikit peneliti, sedikit filsuf, maka wajar jika dalam diskusi-diskusi yang lebih serius orang lebih memilih untuk tetap menggunakan istilah asing.

By Hendra Januar

Cinta dan Usia Manusia

Konon, usia cinta lebih tua dari usia manusia.

Dalam tradisi Upanisad, Brahma ditafsirkan sebagai pusat cinta. Karena semula yang ada hanya Brahma. Brahma yang hanya seorang diri itu merasa bosan. Lalu dia memancarkan dirinya, maka terciptalah selainnya.

Serupa dengan itu, dalam madrasah sufi dikabarkan, semula yang ada hanyalah dia. Dia adalah permata tersembunyi. Dia mencintai dirinya sendiri, maka terciptalah selainnya. Salah satu tokoh sufi besar Ibn Arabi kemudian menemukan teori “ketunggalan wujud”: aku adalah engkau – engkau adalah aku – tapi aku bukan engkau – engkau bukan aku.

Maulana Rumi contoh lain yang sangat masyhur. Semula Rumi hanya seorang Theolog yang memuja rasionalitas, kering, kaku, seolah hidup adalah upaya menyusun proposisi. Suatu ketika Rumi bertemu Syam Tabrizi yang kemudian menjadi gurunya. Rumi sangat mencintainya. Pada pagi yang dingin Syam pergi tiba-tiba. Syam hilang. Rumi menderita. Rumi menuliskan derita dan kerinduan itu dalam “Masnawi”, sebuah buku puisi yang terlampau populer sampai saat ini.

Begitulah, karena dayanya yang begitu dahsyat, cinta tak pernah tuntas dibicarakan sampai saat ini. Di buku-buku, seminar, teater, musik, tragedi, komedi, cinta masih menjadi topik pilihan. Sebagaimana Tuhan yang selalu hidup dalam berbagai peristiwa, jangan-jangan cinta hidup bersama Tuhan. Dan cinta adalah Tuhan itu sendiri.

Lepas dari cara sejarah mengungkapkan cinta, kini cinta kehilangan dayanya. Manusia saat ini lebih suka menafsirkan cinta sebagai barang-barang yang melekat pada orang yang dicintai: rumah, mobil, pakaian, warna kulit, gaya rambut, tinggi badan, berat badan, lipstik, parfum dan apa pun yang menjadikannya layak dicintai. Cinta bukan lagi “ruh” yang bermukim dalam diri seseorang.

Barangkali inilah bentuk evolusi tertinggi manusia, yakni manusia lebih suka bungkus dari pada isi, kata-kata dari pada makna, kuantitas dari pada kualitas. Sehingga kata “cinta” menjadi kering, tinggal kata yang hilang makna, rapuh, berubah-ubah. Ibarat pakaian tanpa tubuh, cinta kehilangan rumahnya.

Cinta yang dahulu dipahami sebagai kondisi tanpa syarat, kini berubah menjadi kondisi bersyarat. Cinta yang lama dimengerti sebagai puncak ketidakbutuhan, sekarang berubah menjadi daftar kebutuhan. Cinta yang dipahami sebagai persoalan dasar manusia, kini menjadi persoalan sampingan, bahkan permukaan.

By Hendra Januar.

Yang Mustahil diketahui

Jangan-jangan, apa yang kita katakan tentang kenyataan (the real) bukan kenyataan. Ia tidak lebih dari sebundel gambaran, konstruksi pikiran, produk abstraksi, imajinasi, yang kemudian memunculkan seolah pengetahuan tentang yang nyata. Kenyataan itu sendiri (the real itself) tak pernah terduga, tak terjangkau, liar, terlalu dalam, tidak diketahui oleh unsur-unsur yang dimiliki manusia.

Dalam ajaran Buddha, kenyataan itu sendiri disebut dengan “sunyata”. Sunyata hanyalah tanda yang diberikan manusia pada kenyataan tak bernama (nameless) dan tak berbentuk (formless). Ia berupa kekosongan yang penuh (complete emptiness) dan kepenuhan yang kosong (empty completeness).

Seorang penulis sekaligus filsuf Jerman, F.W Hegel, menyebut kenyataan itu sebagai “roh absolut” (absoluter Geist). Ia ada dan adanya mengalir setiap gerak yang saling berbenturan (berdialektik) dalam sejarah manusia. Ia mengisi setiap lekukan peristiwa. Tetapi ia sendiri tak mungkin diketahui, dikuasai, dijangkau oleh daya manusia.

Berdekatan dengan Hegel, seorang Pastur sekaligus pemikir besar Jerman lainnya, Immanuel Kant menyebut kenyataan dengan kalimat “sesuatu pada dirinya sendiri” (das ding an sich). Adalah sesuatu yang menampung suatu objek, tetapi bukan objek itu sendiri. Indra dan pikiran manusia hanya mampu menangkap apa yang nampak (appearances) dari kenyataan. Tapi bukan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri.

Al-Kunawi, salah satu murid termasyhur Ibn Arabi, menandai kenyataan yang mustahil diketahui itu dengan “Ghaib al-Ghuyub”. Yakni, sesuatu yang tersembunyi di balik yang tersembunyi. Ia merupakan derajat tertinggi (maqam al-a’la) dalam tujuh hirarki kenyataan (al-martabah al-sab’ah). Karena sifatnya yang tersembunyi dari segala yang dianggap tersembunyi, maka tak satu pun manusia yang sampai padanya. Sekalipun manusia mustahil menjangkaunya, tapi ia menjangkau manusia –bahkan lebih dekat dari manusia itu sendiri (aqrobu min habl al-warid).

Inilah yang membingungkan manusia sejak raturan tahun sebelum masehi. Sejak manusia mengenal baca tulis, pertama kali, apa yang ingin manusia ketahui adalah kenyataan itu sendiri. Kenapa begitu penting? Karena tanpa mengetahui apa yang benar-benar nyata, maka apa yang selama ini manusia ketahui hanyalah ilusi. Yakni, sesuatu yang kita anggap nyata ternyata palsu; sesuatu yang kita yakini ada, ternyata hanya seolah-olah ada. Lalu manusia terjebak dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.

Pertanyaan tambahan: apakah perempuan juga memiliki aspek yang mustahil diketahui – dikenali?

By Hendra Januar

Muasal Budaya

Konon, budaya berasal dari kata “budi” dan “daya”. Budi adalah perpaduan dua epistem manusia: akal dan moral. Daya adalah kemampuan mengaktual sesuatu.

Melarang berbudaya berarti menyuruh orang agar berhenti menggunakan akalnya, moralnya, serta kemampuan aktualisasi diri.

Salah satu dari budaya itu “wayang”. Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Bangsa Indonesia patut berbangga saat itu, bahwa ada produk dari kekuatan akal, moral dan prilaku bangsa yang diakui dunia.

Sayangnya, rasa bangga itu tidak lantas membuat sebagian bangsa Indonesia merasa wajib melestarikan, merawat, mengembangkan, atau mempromosikan. Justru malah sebaliknya, beberapa hari yang lalu muncul sejumlah sepanduk yang melarang adanya pagelaran wayang. Celakanya, yang membuat sepanduk tersebut berasal dari sebagian saudara kita yang sebelumnya dibanggakan dunia.

Bagi sebagian kecil saudara kita, evolusi manusia berjalan mundur. Kembali ke masa dimana rasionalitas harus dihentikan, dan kembali ke pangkuan mitos pemurnian.

Identitas

Semula setiap kita tak bernama. Tak ada tanda yang memisahkan satu sama lain. Pada saat itu, hanya ada ‘sesuatu’ yang demi dirinya muncullah selainnya.

Sampailah pada saat ini dimana kita punya banyak tanda, nama, status, identitas yang dengan semua itu kita merasa benar-benar manusia.

Padahal manusia itu tidak ada. Hewan, tumbuhan, benda itu tidak ada. Segala nama yang ditempelkan pada semua itu hanya ilusi. Demi kebutuhan komunikasi, membedakan (differentia), membuat pengertian (definisi), dibuatlah konsensus yang berjalan dalam budaya tuturan dan tulisan. Karena kita sudah terbiasa hidup tanpa penghayatan, maka semua itu terasa nyata, riil, hakiki, dan mau-tidak-mau tak bisa hidup tanpanya.

Dan karena identitas itu diyakini sebagai sarat mutlak untuk hidup, maka identitas menjadi daftar utama yang perlu diperjuangkan, dipopulerkan, bahkan ada beberapa orang yang berani mati untuk identitas diri dan kelompoknya. Kehidupan menjadi sangat permukaan, kering, kaku, tertutup dari kemungkinan untuk mempertanyakan dirinya.

Jika setiap identitas berhenti untuk dihayati, dipertanyakan, diragukan, akan muncul pemutlakan padanya. Dan jika upaya pemutlakan terjadi pada setia identitas masing-masing, maka pergesekan, konflik, dan segala benturan pun terjadi. Bahwa kelompok A mutlak benar, dan sebagainya konsekuensinya, selain A (B,C,D, dst) pasti salah. Demikian sebaliknya.

Tetapi karena setiap entitas (being, wujud, extention) sudah berlimpah dari ‘sesuatu’ –katakanlah X yang di luar jangkauan –maka segala identitas menjadi niscaya dalam kehidupan. Karena itu pula, keragaman adalah hal yang pasti. Keragaman adalah kenyataan yang berlimpah ruah beserta nama dan identitasnya masing-masing.

Salah satu pemikir Persia, Mulla Sadra, mengakui ada dilema dalam persoalan ini. Pada satu sisi, jalan keluar dari konflik adalah kembali pada dasar yang tak bernama, di sisi lain keragaman juga niscaya. Dalam hal ini, ia mengeluarkan empat klaim, proposisi atau premis yang memungkinan kembali pada ketiadaan identitas sekaligus mengakui adanya identitas.

“Kesatuan itu nyata. Keragaman juga nyata. Kesatuan mengalir dalam keragaman. Keragaman kembali kepada kesatuan.”[1]

Kesatuan adalah meleburnya segala nama yang menjadi pembeda. Pembeda itu sendiri menjadi ilusi yang mendapatkan realitasnya karena kesatuan. Karenanya ia menjadi nyata.

——
[1] Sadr Mulla, Trancendental Philosophy, Qom: Sadr Press, 1995.