Hidup

Sayangnya, untuk mengenal diri sendiri umurku terlalu pendek. Padahal pengenalan diri adalah babak baru bagi hidup yang terus menerus dijalani. Belajar dari daun yang mulai menguning dan rebah di atas tanah, aku tahu, daun tak pernah merasa menyesal sebab gugur itu hal pasti. Setiap yang tumbuh kelak akan melepuh.

Serupa origami yang aku bentuk sesuka hati, begitulah aku memaknai hidup. Tak lebih tak kurang. Berawal dari kenyataan bahwa aku adalah manusia, maka aku bebas memilih tanpa paksaan siapa pun dan apa pun. Tidak seperti rerumput liar yang bergerak mengikuti kemana angin berhembus. Mereka tak punya pilihan, tak dianugerahi kebebasan.

Di samping waktu yang terlamat singkat, dunia tempat aku singgahi juga terus bergerak. Ya, semuanya bergerak, bahkan ketika aku diam sekali pun. Seperti pepohonan yang setiap hari aku lewati ini, mereka pun bergerak dan berubah. Semula hanyalah pepohonan kecil dengan daun yang tak terlalu lebat. Dari waktu ke waktu batang pohon perlahan meninggi, disusul pucuk-pucuk yang terus merekah, sementara dedaunan yang lebih dulu tumbuh menguning dan mengering. Mereka seolah membisikkan sesuatu: bahwa syarat untuk hidup adalah menerima perubahan sebagai kepastian.

Ada yang datang ada yang pergi. Segera setelah aku lahir ke dunia, seketika ada satu atau dua manusia yang pergi. Seperti antrian di stasiun. Aku adalah salah satu penumpang yang sedang menunggu giliran menuju tempat tujuan. Stasiun memberi pelajaran bagi siapa saja yang ingin mendengarnya. Darinya aku belajar kehilangan sebelum meninggalkan.

Di atas itu semua, aku merasa hidup hanya berisi tiga kata: singkat, bebas dan berubah. Begitu singkatnya hingga tak ada hal lain yang perlu dilakukan kecuali mengisinya dengan kegembiran sembari menyiapkan segala sesuatunya sebelum pergi. Betapa bebasnya hingga tak ada satu pun yang kuasa atas diriku, tak ada yang boleh memaksaku untuk ini atau itu. Begitu berubahnya hingga tak perlu bagiku menggerakkan air yang sudah mengalir.

 

by Hendra Januar

Etika

Apa itu etika?

Etika adalah cabang dari studi filsafat yang membahas tentang apa harus dilakukan manusia. Etika menjawab pertanyaan,”Apa yang harus aku lakukan?”–Sebuah studi mengenai baik dan buruknya tindakan manusia. Pada level yang lebih fundamental, etika adalah metode dimana nilai-nilai dikategorisasikan dan bagaimana cara kita meraihnya. Bagaimana cara kita mencapai kebahagiaan, atau apakah kita mengorbankan diri demi sebab-sebab utama kita melakukannya? Apakah fondasi etika didasari pada teks-teks agama, atau pada sifat-sifat alami manusia, atau bukan keduanya?

Kenapa etika begitu penting?

Etika adalah syarat untuk kehidupan manusia. Etika menentukan makna bagaimana kita memilih dan melakukan sesuatu. Tanpanya, tindakan-tindakan kita menjadi acak dan tak bertujuan; tidak ada cara untuk melakukan sesuatu agar sampai tujuan karena tidak ada cara untuk memahaminya. Bahkan dengan standar etika yang dianut, kita mungkin tidak bisa meraih tujuan-tujuan dengan kemungkinan untuk berhasil. Untuk standar etika rasional yang diambil, kita mampu secara benar mengorganisir tujuan-tujuan dan tindakan untuk mencapai nilai-nilai yang dianggap penting oleh kita. Setiap kekeliruan dalam etika, akan mengurangi kemampuan kita untuk mencapai tujuan.

Apakah elemen-elemen kunci untuk meraih etika yang tepat?

Fondasi yang tepat untuk etika memerlukan standar nilai dimana seluruh tujuan dan tindakan dapat diperbandingan satu sama lain. Standar tersebut adalah kehidupan kita sendiri, dan kebahagiaan yang membuat kehidupan layak dihuni. Ini adalah standar utama dari nilai-nilai, dan tujuan dari etika manusia haruslah bernilai. Hal ini sampai kepada usaha memahami kebutuhan-kebutuhan manusia serta sifat-sifatnya. Sebuah sistem etika harus kemudian terdiri bukan hanya dari situasi darurat, tetapi juga dari pilihan dalam hidup keseharian yang kita lakukan secara langsung. Harus terdiri dari hubungan kita dengan yang lainnya, dan mengakui betapa pentingnya mereka bukan hanya untuk kebutuhan fisik, tetapi juga untuk hal-hal universal seperti kesejahteraan dan kebahagiaan.

 

 

Objektifitas

Objektifitas adalah pengakuan adanya realitas sebagai standar utama evaluasi. Pengakuan tersebut berarti menerima bahwa semua pengetahuan merupakan pengetahuan tentang realitas. Apa yang diterima sebagai pengetahuan menjadi satu-satunya sarana untuk menentukan kebenaran. Konsep benar dan salah hanya akan bermakna jika dikembalikan kepada realitas.

Objektifitas adalah upaya untuk kembali kepada realitas dalam menentukan kebenaran. Ia bertindak dalam membangun pengetahuan seseorang tentang realitas, dan membuat pikiran serta ide seseorang sesuai dengan kenyataan. Untuk bersikap objektif, realitas harus secara eksplisit menjadi standar untuk kemudian diperbandingkan. Objektifitas adalah proses yang secara aktif membandingkan pemikiran seseorang dengan realitas, dan ini hanya bisa dicapai jika tujuan dari perbandingan telah teridentifikasi. Tujuannya, tentu saja, untuk menetapkan standar validitas.

Adalah kesalahan umum bahwa seseorang tidak bisa bersikap objektif jika ia melibatkan subjektfitasnya ketika melihat realitas. Implikasinya adalah bahwa emosi atau motivasi tentu mencegah seseorang untuk berpikir secara akurat. Sejak objektivitas dipahami sebagai tindakan penyesuaian pemikiran atas realitas, maka jelaslah bahwa hal demikian mungkin terlepas dari pengaruh subjek yang berpikir.

 

 

 

Metafisika

Apa itu “metafisika”?

Metafisika adalah cabang filsafat yang membahas persoalan eksistensi, sehingga ia menjadi dasar dari sebuah pandangan dunia.Metafisika menjawab pertanyaan “Apa?”–meliputi segala sesuatu yang eksis, serta sifat eksistensi itu sendiri. Metafisika bertanya apakah dunia ini nyata, atau hanya ilusi.

Kenapa metafisika itu penting?

Metafisika adalah fondasi filsafat. Tanpa sebuah penjelasan atau interpretasi atas dunia di sekitar kita, kita tidak akan berdaya untuk menghadapi kenyataan. Kita tidak bisa memberi makna pada diri kita sendiri, atau bertindak untuk melestarikan kehidupan kita. Sejauh mana pandangan dunia metafisika kita dianggap benar adalah sejauh mana kita mampu memahami dunia, dan bertindak sesuai dengan apa yang kita pahami. Tanpa dasar yang kuat ini, semua pengetahuan menjadi cacat. Setiap cacat yang ada dalam pandangan kita tentang realitas akan membuat hidup lebih sulit.

Apa elemen kunci dari metafisika rasional?

Realitas itu bersifat mutlak. Ia memiliki sifat khusus yang independen dari pikiran atau perasaan kita. Dunia di sekitar kita adalah nyata. Ia mempunyai sifat tertentu dan harus konsisten dengan sifat tersebut. Sebuah pandangan dunia metafisika yang tepat mesti bertujuan untuk memahami realitas dengan benar.

Dunia fisik ada, dan setiap entitas memiliki sifat tertentu. Setiap entitas tersebut bergerak sesuai dengan sifat-sifatnya. Ketika entitas yang berbeda berinteraksi, mereka melakukannya sesuai dengan sifat dari keduanya. Setiap tindakan memiliki sebab dan akibat. Kausalitas adalah sarana yang menjadikan perubahan, tetapi perubahan terjadi melalui sifat tertentu.

by Hendra Januar.

 

Krishnamurti dan Arti “Filsafat”

unduhan (2)Jiddu Krishnamurti mengembalikan istilah “filsafat” kepada makna etimologisnya, yaitu “cinta” dan “kebijaksanaan”. Baginya, filsafat bukanlah serangkaian teori tentang kehidupan, manusia dan dunia. Filsafat bukanlah sebundel ide-ide, pendapat dan kesimpulan. Bukan pula sebuah disiplin akademis yang menyusun, mengkritik dan menafsirkan konsep-konsep. Filsafat bukan upaya spekulatif atau aktivitas intelektual untuk membangun sebuah sistem. Bukan analisa logis dari pada bahasa dan makna.

Sebaliknya, filsafat itu, menurut Krishnamurti, adalah “cinta kebenaran”. Cinta berarti persepsi seketika. Sebuah pemahaman yang melampaui kecerdasan. Kebenaran berarti kehidupan yang belum ditentukan oleh pikiran. Artinya, pikiran yang tidak terkondisikan (unconditioned). Filsafat hidup secara mandiri dan terlepas dari sistem, bentuk-bentuk, cita-cita dan keyakinan. Filsafat hidup dari waktu ke waktu dalam keadaan yang bebas dari pikiran secara total. Filsafat hidup pada saat “sekarang”. Hidup yang sejati, bagi Krishnamurti, adalah apa yang terjadi sekarang ini, di sini. Hal ini bukan apa yang dipikirkan dan dikonsepsi untuk meraih kehidupan. Filsafat, oleh karena itu, tidak terpisahkan dari apa yang sedang terjadi sekarang.

Ini adalah seni menjalani hidup secara langsung dan tidak melalui teori atau kata-kata. Hidup langsung secara holistik tanpa ada keterpisahan perasaan, konsep atau psikologis. Ini bukan latihan teoritis untuk menghindari kehidupan yang aktual, tetapi persis tentang apa artinya filsafat: cinta kebenaran–mencintai kehidupan.

Filsafat bukanlah sesuatu yang perlu orang pelajari di Universitas. “Belajar filsafat berarti belajar seni hidup dalam keseharian,”begitu tegas Krishnamurti. Dia mengklaim bahwa berfilsafat berarti memahami kebenaran yang melampaui realitas pikiran. Filsafat adalah akhir dari ilusi yang keliru tentang realitas kebenaran. Filsafat adalah kesadaran bahwa realitas tidak pernah bisa menjadi kebenaran. Filsafat adalah sebenar-benarnya orang yang berhenti dari kebodohan dan irasionalitas yang mendekati kebenaran melalui realitas. Ini merupakan upaya memahami keterbatasan realitas untuk kemudian melampauinya.

Krishnamurti mengatakan,”filsafat berarti cinta kebenaran, bukan cinta ide-ide, bukan cinta spekulasi..dan itu berarti Anda perlu mencari tahu sendiri dimana realitas yang tidak mungkin menjadi kebenaran. Anda tidak dapat menjangkau realitas untuk sampai kepada kebenaran. Anda harus memahami keterbatasan realitas yang merupakan keseluruhan proses pemikiran.”

Ditulis oleh: Hendra Januar

Diogenes “Si Gila”

Diogenes adalah seorang filsuf pada 412 SM yang terkenal dengan “Diogenes The Dog” karena sehari-hari hidup sebagai pengemis dan tidur di dalam gentong ditemani seekor anjing. Sementara Plato (428 SM) yang sempat frustasi olehnya karena sejumlah pertanyaan filsafat menyebutnya sebagai “a Socrates Gone Mad”. Suatu ketika Diogenes menyela ketika Plato tengah mengajar dan berkata,”Meja dan gelas ini yang aku lihat, hai Plato. aku sama sekali tidak melihat ke-meja-an dan ke-gelas-an, apa yang salah denganmu?”

Hampir semua filsafat Diogenes berasal dari potongan-potongan cerita kesehariannya, tidak ada sistem filsafat yang utuh yang terekam dalam catatan filsuf sesudahnya. Salah satu cerita yang menarik adalah beberapa kali Diogenes menyalakan lampu di siang bolong lalu pergi ke tengah pasar dan berteriak,”Aku mencari manusia! Aku mencari manusia! Dimana manusia, apa kamu melihatnya?”

Namun cerita yang paling membuat namanya popular–selain juga merupakan pendiri dari Cynicism”–adalah dialognya dengan Aleksander Agung, seorang Raja (Basileus) dari Macedonia, Yunani Kuno, dan juga anggota dari “Agread Dynasty”.

Suatu ketika Aleksander Agung mendengar ada seorang filsuf miskin yang hidup sebagai pengemis di tepi kota. Hal itu membuatnya heran, bagaimana ada seorang yang mengaku seorang filsuf memilih jalan hidup seperti itu. Rasa heran tersebut mendorongnya untuk mengunjungi Diogenes.

Sesampainya di lokasi, Aleksander terkejut melihat sosok Diogenes. Berbadan kurus dan kotor, sedang merebahkan diri tepat di mulut gentong dan ditemani seekor anjing.

“Saya Aleksander Agung,”kata Raja kepada Diogenes.
”Dan Saya Diogenes,”jawabnya.
”Tidakkah kamu takut padaku?”tanya Raja.
“Kenapa harus takut, apakah kau orang buruk?” Diogenes balik bertanya.
“Orang yang baik”.
”Siapa, lalu, yang harus takut dengan sesuatu yang baik?”

Diogenes kemudian bertanya perihal rencana-rencana yang akan dilakukan oleh Aleksander Agung sebagai Raja. Aleksander menjawab akan menaklukkan dan menundukkan seluruh Yunani. Lalu apa? Diogenes bertanya. Aleksander menjawab bahwa selain itu dia akan menaklukkan Asia Kecil (Asia Minor). Kemudian? Diogenes kembali bertanya. Aleksander menjawab dengan gagahnya bahwa dia akan menaklukkan dan menguasai dunia.

Diogenes yang tak merasa cukup puas dengan jawaban-jawabannya, tak berhenti sampai situ, dia terus melanjutkan dengan pertanyaan yang sama”Kemudian, apa lagi?” Aleksander Agung berkata pada akhirnya setelah melakukan semua penundukkan dan penaklukkan, dia berencana untuk relaks dan santai menjalani hidup. Diogenes merespon:”Jika itu rencana akhirmu, kenapa repot-repot membuat keributan, maukah kamu duduk di sini dengan relaks dan santai?”

Kejadian tersebut membuat Aleksander Agung kembali mendatanginya beberapa kali untuk bertanya. Suatu kali Aleksander berdiri dan menghalangi sinar matahari menyentuh badan Diogenes yang nampak sedang berjemur, Diogenes berkata,”Berhentilah bertanya, kamu menghalangi sinar matahari!”

Aleksander berkata,”Jika aku tidak ditakdirkan jadi Aleksander Agung, aku memilih hidup seperti Diogenes.”

Ditulis oleh: Hendra Januar

Tuhan, Murkakah Engkau

Tuhan, ini malam semakin larut, bolehkah aku menjenguk-Mu setelah hari-hari yang kujalani melupakanku pada-Mu? Tetapi Tuhan, bagimana aku mampu menjenguk-Mu sedang aku masih belum mampu menjenguk diriku sendiri, diriku yang hilang ditelan mimpi ingin menjadi orang lain?

Tuhan, murkakah Engkau padaku ketika Engkau selalu menjadi yang terakhir kutemui setelah aku merasa tak berdaya menghadapi semuanya seorang diri, menghadapi dunia yang kau cipta agar aku tumbuh menjadi dewasa, dunia yang sejatinya tempat persimpangan dari waktu yang Engkau putar sejak pertama menciptakan semuanya?

Tuhan, murkakah Engkau padaku di saat aku belum sungguh-sungguh mengabdi padamu, hanya karena aku masih mempertanyakan semuanya, semua yang membuatku terus berjalan di atas tanda tanya , tanda tanya yang tak satu pun mengerti hingga aku merasa sepi, sepi sekali?

 

oleh: hendra januar.